Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Dari Redaksi

Isu Relokasi Makam Nabi dan Kebangkitan Ulama

Published 07/09/2014 5 Min Read
Share
5 Min Read
SHARE

makam_nabi_saw_okOtong Sulaeman

Setelah berlalu sembilan dasawarsa, luka lama itu kembali menyeruak. Sebagaimana yang diberitakan secara massal oleh berbagai media nasional dan internasional, terungkap adanya rencana untuk merelokasi makam Rasulullah SAW, dari Masjid Nabawi ke Areal Pemakaman Baqi. Ketika sudah terelokasi, maka makam beliau akan diperlakukan sebagaimana makam-makam lainnya di Baqi: tanpa ada bangunan khusus, tanpa tembok, dan tanpa nisan. Hanya tanah biasa dengan tanda batu. Adapun ruangan bekas makam beliau (kalau rencana ini terlaksana), akan diratakan dan menjadi salah satu ruangan di Masjid Nabawi.

Isu ini kontan memantik reaksi dari berbagai kalangan dunia dan juga Indonesia. Mantan Ketua Umum PP Muhamadiyyah Buya Syafii Ma’arif menyerukan ummat Islam di seluruh dunia agar menentang rencana sepihak pemerintah Arab Saudi tersebut. Sementara itu mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Hasyim Muzadi bersuara sangat keras. Ia mengingatkan bahwa Arab Saudi atau siapapun yang ingin memindahkan makam Nabi Muhammad SAW dari Masjid Nabawi ke tempat lain, harus bersiap-siap menghadapi kehancuran.

Isu bahkan makin berkembang ke segala arah. Penguasaan pemerintah Arab Saudi atas situs-situs penting umat Islam, seperti makam Nabi dan bahkan Masjidul Haram, mulai dipersoalkan. Dikatakan bahwa pemerintah Arab Saudi sejatinya tak lebih dari sekadar pelayan (khadim), bukan pemilik atas berbagai tempat suci ummat Islam yang secara kebetulan berada di wilayah administratif Kerajaan.

Ini sebenarnya luka lama. Sejak kawasan Jazirah Arab yang meliputi Hujaz dan Nejd dikuasai oleh Dinasti Saudi yang bercorak Wahabi, Dunia Islam harus menyaksikan berbagai macam aksi sepihak mereka dalam memperlakukan berbagai situs suci ummat Islam.

Tengoklah apa yang terjadi pada tahun 1925. Saat itu, Raja Ibnu Saud berniat untuk menerapkan asas tunggal, yaitu mazhab Wahabi di Mekkah. Konsekwensi dari keputusan ini adalah terjadinya penyeragaman mazhab bagi para hujjaj serta penghancuran warisan budaya, karena salah satu prinsip dasar Wahabisme adalah penghancuran segala hal yang secara sepihak dipandang sebagai kesyirikan, termasuk warisan budaya. Dan salah satu isu paling panas adalah rencana pembongkaran/perataan makam Baginda Nabi SAW, menyusul keberhasilan mereka dalam meratakan 10.000 makam para sahabat Nabi di Areal Pemakaman Baqi.

Pada saat itu, kalangan pesantren di Indonesia sangat dikenal sebagai kelompok yang berdiri di depan dalam membela keberagaman dan menolak pembatasan bermazhab. Apalagi ketika salah satu konsekwensi dari implementasi mazhab tersebut adalah pembongkaran makam Nabi. Karena itu, kalangan pesantren menyampaikan penolakan atas rencana tersebut. Akibatnya, mereka dikeluarkan dari anggota Kongres Al-Islam di Yogyakarta pada tahun 1925, dan dengan sendirinya, mereka juga tidak diikutkan dalam delegasi yang hadir pada Kongres Islam Internasional di Mekkah yang akan mengesahkan keputusan tersebut.

Tapi, kalangan pesantren tidak kehabisan akal. Demi untuk sesuatu yang diyakini sangat krusial, mereka tetap berupaya keras agar bisa hadir dalam Kongres. Lalu dibentuklah sebuah delegasi independen yang diberi nama Komite Hejaz, dengan ketuanya KH Wahab Hasbullah. Dengan bendera baru itu, kalangan pesantren pun bisa hadir dalam Kongres.

Saat Kongres digelar, ternyata Komite Hejaz tidak sendirian. Penolakan atas rencana Kerajaan Saudi itu juga datang dari mayoritas delegasi lainnya. Akhirnya, Raja Ibnu Saud mengurungkan niatnya, dan hingga saat ini, Mekkah tetap menjadi kawasan suci tempat kaum Muslimin bebas melaksanakan ibadah sesuai dengan mazhab mereka masing-masing. Makam Nabi pun urung dibongkar.

Di Indonesia, keberhasilan Komite Hejaz itu menginspirasi kalangan pesantren untuk membentuk organisasi yang lebih komprehensif dan sistematis. Maka, pada tanggal 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926) lahirlah Nahdlatul Ulama. Organisasi ini dipimpin oleh KH Hasyim Asy’ari sebagai Rais Akbar.

Kini, sejarah sepertinya akan berulang. Setelah berhasil membongkar dan menghapus sejumlah jejak sejarah penting (seperti rumah tempat kelahiran Rasulullah, rumah Siti Khadijah, dll), muncul laporan adanya rencana untuk membongkar makam Nabi.

Tapi, percayalah, niat itu tak akan kesampaian. Seperti yang disampaikan oleh KH Hasyim Muzadi, Arab Saudi harus siap hancur jika memaksakan pendapat mereka. Ummat Islam berserta para ulamanya di seluruh dunia tidak akan mungkin tinggal diam menyaksikan kesewenang-wenangan Arab Saudi dalam mempraktekkan keyakinan mazhab mereka. Dulu, rencana pembongkaran makam Nabi berujung kepada lahirnya organisasi kebangkitan ulama. Kini, rencana yang sama bisa saja berujung kepada gerakan kebangkitan ulama babak kedua yang lebih asasi dan substantif. (Editorial/LiputanIslam.com)

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love1
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Editorial

Zionis Israel Sedang Tidak Baik-Baik Saja

By Farid
Editorial

Rujuknya Iran dengan Arab Saudi, Tamparan bagi AS

By Farid
Editorial

Berdamai dengan Zionis Israel Adalah Delusi Konyol

By Farid
Dari Redaksi

Urusan Palestina, Jangan Pernah Berharap kepada Lembaga ‘Banci’ PBB

By Farid
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account