Bintang Emon dan Kentalnya Nuansa Politik Kasus Novel Baswedan

0
69

LiputanIslam.com –Kasus penyiraman air keras dengan korban penyidik senior KPK Novel Baswedan memang sangat sarat dengan nuansa politik. Pihak-pihak yang berseberangan pendapat dalam memandang kasus ini sebenarnya sama-sama meyakini bahwa kasus ini memang sangat politis. Novel Baswedan dan para pendukungnya meyakini bahwa kejahatan penyiraman air keras itu sepenuhnya bermotifkan politik, bukan balas dendam personal. Penanganannya pun diyakini sangat politis, dan itu ‘terbukti’ dari sangat rendahnya tuntutan hukuman dari jaksa penuntut, yaitu hanya 1 tahun penjara. Alasan yang diberikan tim jaksa atas munculnya tuntutan yang rendah itu dianggap sangat absurd. Dengan mengatakan bahwa pelaku melakukan kejahatannya tanpa sengaja, tim jaksa dianggap lebih bertindak sebagai pembela terdakwa ketimbang sebagai penuntut perkara.

Kemudian, seorang komedian dengan nama panggung Bintang Emon muncul menyampaikan kritikan terhadap tuntutan jaksa itu. Kritikannya sangat lucu dan dianggap menohok secara langsung keganjilan tuntutan jaksa. Bintang Emon menunjukkan sejumlah absurditas dasar pemikiran yang menjadi landasan redahnya tuntutan itu. Kritikan Bintang Emon yang disampaikan melalui vlog-nya itu langsung viral. Nama Bintang Emon langsung memuncaki trending topik di Twitter Indonesia selama 24 jam terakhir ini.

Tak lama kemudian, terjadi perundungan terhadap sang komedian, salah satunya adalah tuduhan bahwa ia pemakai narkoba.  Sejumlah pihak menyimpulkannya bahwa perundungan itu datangnya dari apa yang mereka sebut “buzzer istana”. Maksudnya adalah para pegiat medsos yang dibayar oleh pihak pemerintahan Jokowi dalam rangka membungkam suara-suara kritis yang muncul dari pihak oposisi.

Sejak awal, para pendukung pemerintahan Jokowi memang banyak melakukan kritikan terhadap Novel Baswedan yang dituduh telah memanfaatkan posisinya sebagai penyidik senior di KPK untuk kepentingan politik. Sejak sebelum kasus penyiraman air keras, Novel sering bersuara kritis terhadap pemerintahan Jokowi. Saat terjadi peristiwa penyiraman, Novel juga mengkritisi sangat lambatnya penyelidikan kasusnya itu. Ia secara terbuka menyebut bahwa ada oknum perwira polisi aktif yang menjadi otak kasus penyiraman air keras. Lalu, menanggapi rendahnya tuntutan jaksa, Novel mengatakan bahwa ada pembiaran dari Presiden Jokowi terhadap kasus ini.

Tanggapan Novel yang mengaitkan secara langsung Presiden Jokowi dengan tuntutan jaksa dalam sebuah proses pengadilan mendapatkan reaksi negatif dari para pengkritiknya selama ini. Mereka bahkan balik menuduh bahwa teror itu sendiri adalah rekayasa. Maksudnya, yang melakukan teror kepada Bintang Emon itu adalah pihak oposisi itu sendiri. Indikatornya adalah bahwa akun yang melakukan teror itu adalah akun yang tidak dikenal (diistilahkan akun ‘abal-abal’). Dan akun itu langsung ‘menghilang’ segera setelah kasus perundungannya melambung di medsos.

Polemik dan pro kontra kasus Novel Baswedan yang disusul dengan perundungan terhadap komedian Bintang Emon ini menunjukkan betapa segala hal di negeri ini sangat sarat dengan nuansa politik. Dari hulu sampai hilir; dari mulai kasus penyiraman, investigasi, hingga persidangannya, para aktor politik muncul bergantian saling melontarkan tuduhan kepada lawan politiknya.

Bintang Emon adalah seorang anak muda yang cerdas, lucu, dan kreatif. Kita melihatnya sebagai seorang komedian yang polos dan berani bicara apa adanya. Tapi, ia kini terjebak dalam pusaran perseteruan politik para aktor yang pekerjaannya tak lain hanyalah mencari keuntungan politik atas peristiwa apapun yang terjadi. (os/ediorial/liputanislam)

DISKUSI: