Banjir dan Perilaku Kita

0
99

LiputanIslam.com –Banjir yang sedang melanda Jakarta dan beberapa kawasan lainnya di Tanah Air adalah sebuah fenomena yang kompleks. Kita tak mungkin menuding satu faktor tunggal sebagai penyebab bencana ini. Curah hujan yang tinggi bukan satu-satunya faktor. Dengan segala kemajuan teknologi, mestinya kita mampu mengantisipasi, menanggulangi, atau meminimalisir dampak buruk dari banjir. Peradaban manusia sudah lama menemukan teknologi pembangunan dam, pengerukan dan pelebaran sungai, reboisasi, atau pembuatan sumur-sumur resapan sebagai ikhtiar yang bisa diambil menghadapi kemungkinan adanya ancaman banjir ini.

Semua upaya tersebut sudah lama kita ketahui, paling tidak sebagai pengetahuan teoretis. Sayangnya, implementasi semua hal itu menjadi kelihatan kompleks. Akal kita sampai kepada pengetahuan teoretis, tapi perilaku kita malah menunjukkan hal yang berkebalikan. Alih-alih melakukan pelebaran sungai, kita malah melakukan pembiaran atas berdirinya lahan-lahan hunian liar di bantaran sungai. Bukannya pengerukan yang kita lakukan, melainkan malah menjadikan sungai sebagai tempat sampah sehingga makin dangkal.

Hutan-hutan kita yang sejatinya merupakan peresap alami atas aliran air dari kawasan yang tinggi kini malah semakin gundul. Sebagian dijadikan lahan perkebunan yang tanahnya mudah melapuk, dan sebagiannya lagi dijadikan hunian-hunian mewah yang merepresentasikan kemegahan egois pemiliknya.

Jadi, mau tidak mau, kita sebagai manusia harus mengambil tanggung jawab atas segala macam bencana banjir yang terjadi itu. Minimalnya, akal kita bisa memastikan bahwa ada banyak hal yang seharusnya kita lakukan, tapi gagal kita jalankan. Dalam bahasa agama, situasi seperti ini disebut kemenangan hawa nafsu atas akal. Nafsu mendorong manusia menjadi serakah, dan ketika manusia menjadi serakah, fenomena alam alam apapun bisa menjadi bencana. Ketika hujan turun terjadi banjir, dan ketika hujan tak turun terjadi kekeringan.

Dalam bencana banjir di Jakarta, misalnya, terselip kisah rivalitas politik yang bisa difahami dengan sangat mudah, bahkan oleh masyarakat awam sekalipun. Ada isu penggusuran versus penggeseran, arus air vertikal versus horizontal, isu normalisasi versus naturalisasi, serta isu perbaikan di hulu (pembuatan irigasi) versus perbaikan di hilir (perbaikan sungai dan daerah resapan). Banjir dijadikan sebagai isu dan perang narasi di antara kubu-kubu yang bersaing.

Bencana banjir yang terjadi sekarang ini sebagian besar disebabkan oleh ulah keserakahan manusia; akibat adanya keserakahan politik dan ekonomi kita. Sekarang di saat bencana ini betul-betul memakan korban serta menciptakan kesulitan, berbagai pihak hanya memainkan narasi saja. Sebagian penanggung jawab kebijakan sibuk ‘ngeles’ dan melemparkan tanggung jawab, sedangkan yang lainnya malah kelihatan senang dengan adanya bencana ini, karena artinya, ada isu yang bisa ‘digoreng’. Semuanya kembali kepada kepentingan politik dan ekonomi kaum elit. Rakyat dan isu bencana banjir tak lebih dari komoditas. (os/editorial/liputanislam)

 

 

DISKUSI: