Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Opini

Mengukur Perilaku Antikorupsi

Published 22/09/2019 5 Min Read
Share
5 Min Read
SHARE

Oleh: Dedy Susanto, SST*

Penuntutan dalam menggagalkan usaha pelemahan KPK oleh masyarakat sangat gencar. Dalam keterburuannya, DPR terkesan berusaha melumpuhkan dan membatasi gerakan KPK dalam usaha mengerdilkan korupsi yang menahun. Sikap membela KPK menunjukkan semakin dewasanya masyarakat yang mengarah kepada sikap dan perilaku antikorupsi. Tetapi, apakah kenyataannya masyarakat Indonesia benar-benar memiliki perilaku antikorupsi yang tinggi?

Baru-baru saja BPS merilis Indeks Perilaku Antikorupsi (IPAK) pada 16 September kemarin. Pada indeks tersebut, disebutkan sikap antikorupsi masyarakat tahun 2019 dibandingkan tahun sebelumnya meningkat. Pada 2018 indeks antikorupsi tercatat pada angka 3,86 poin lalu naik 0,40 poin menjadi 3,90 poin pada 2019 (rentang nilai indeks 0-5). Hal ini tentu menggembirakan; peningkatan indeks antikorupsi menunjukkan semakin tidak permisifnya masyarakat Indonesia akan perilaku korupsi.

Beberapa Catatan

Perilaku antikorupsi masyarakat Indonesia memang meningkat, namun terdapat beberapa catatan yang perlu disoroti pada dimensi di dalam indeks ini. Pada indeks perilaku korupsi sendiri terbagi menjadi dua dimensi utama: dimensi pengalaman dan persepsi dalam mengakses fasilitas publik.

Pada dimensi pengalaman terjadi peningkatan pada indeksnya. Sejak 2015, indeks pengalaman masyarakat Indonesia mengalami perbaikan yang sangat signifikan. Indeks pengalaman tercatat menginjak pada angka 3,39 pada 2015 dan melaju hingga 3,65 pada 2019. Peningkatan ini menunjukkan semakin sedikitnya kasus petty corruption yang ditemukan masyarakat dalam mengakses pelayanan publik.

Pengalaman keterlibatan petty corruption ini bisa berupa banyak hal, misal memberikan uang lebih demi memperlancar urusan dalam mengakses pelayanan publik, adanya permintaan tambahan biaya dil uar aturan, mengandalkan hubungan kekerabatan atau pertemanan untuk mendapatkan prioritas akses pelayanan, dan lain sebagainya.

Penyalahgunaan kekuasaan yang dipercayakan oleh pejabat publik setiap hari dalam interaksi mereka dengan warga biasa, yang sering mencoba mengakses barang atau layanan penting di tempat-tempat seperti rumah sakit, sekolah, departemen kepolisian, dan lembaga lainnya diklasifikasikan sebagai petty corruption (Transparency International, 2019).

Sebaliknya, pada dimensi persepsi antikorupsi terdapat penurunan yang cukup besar. Padahal, dalam enam tahun terakhir dimensi persepsi tidak pernah turun. Indeks persepsi yang semula berada pada 3,86 poin pada 2018 turun menjadi 3,80 pada 2019. Berkurangnya indeks persepsi korupsi menunjukkan semakin permisifnya korupsi di masyarakat Indonesia. Itu artinya, penilaian masyarakat terhadap berbagai bentuk perilaku korupsi yang sudah lazim terjadi dan dianggap sebagian masyarakat sebagai hal yang lumrah.

Terdapat beberapa kasus sikap permisif masyarakat terhadap korupsi. Pertama, persentase masyarakat yang menganggap wajar sikap istri yang menerima uang tambahan dari suami di luar penghasilan tanpa mempertanyakan asal usul uang tersebut meningkat dari 22,52 persen (2018) menjadi 25,56 persen(2019). Dari kasus ini seorang istri memiliki peran yang signifikan menjadi agen antikorupsi bagi suami dan keluarganya.

Selanjutnya, anggapan sah-sah saja menggunakan kendaraan dinas untuk kegiatan yang bersifat pribadi meningkat dari 20,74 (2018) menjadi 22,52 persen (2019). Serta tanggapan wajar membawa anak dalam kampanye pemilu/pilkada supaya mendapatkan uang lebih meningkat dari 12,61 (2018) menjadi 12,88 (2019).

Selain itu, terdapat faktor lain yang menyumbang naiknya sikap permisif masyarakat. Faktor-faktor tersebut antara lain anggapan wajar sikap memberikan uang/barang dalam proses penerimaan pegawai negeri atau swasta, memberikan uang/barang kepada polisi untuk memperlancar pembuatan SIM/STNK/SKCK, serta memberikan uang lebih kepada petugas untuk mempercepat urusan administrasi pembuatan KTP dan KK.

Pengalaman vs Persepsi

Secara umum indeks persepsi antikorupsi masyarakat meningkat. Namun perlu diperhatikan, secara umum yang meningkat adalah indeks pengalaman akses pelayanan publik, bukan indeks persepsi antikorupsinya.

Meningkatnya indeks pengalaman pelayanan menandakan semakin antikorupsinya instansi pelayanan publik yang dimiliki pemerintah. Dengan diberlakukannya sistem reformasi birokrasi yang andal, pelayanan publik semakin prima dan menutup peluang kecurangan seperti nepotisme, gratifikasi, dan pungutan liar. Ditambah pengawasan ketat dari BPK, KPK, dan Ombudsman menutup peluang terjadinya tindakan korupsi dan mal administrasi.

Sebaliknya, indeks perilaku permisif masyarakat Indonesia akan korupsi semakin kecil. Bentuk-bentuk kecurangan kecil seperti memakai kendaraan dinas untuk kegiatan pribadi, memberikan uang lebih kepada petugas dalam membuat surat-surat penting telah dianggap biasa. Padahal, korupsi kecil-kecilan yang memasyarakat ini yang sebaiknya diberantas supaya tidak melahirkan kejahatan korupsi yang lebih besar lagi ke depannya.

Dengan demikian, pemerintah perlu mengubah cara berpikir masyarakat akan perilaku antikorupsi. Penanaman pendidikan antikorupsi sejak dini untuk masyarakat sangat dibutuhkan. Hal ini akan meningkatkan moral dan kejujuran masyarakat ke depan, sehingga lebih sadar akan perilaku antikorupsi. Dengan meningkatkan kesadaran antikorupsi masyarakat diharapkan akan menurunkan kasus korupsi besar di masa yang akan datang. (LiputanIslam.com)

*staf Seksi Statistik Ketahanan Sosial BPS Provinsi Papua, disalin dari Detik, 19 September 2019.

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Opini

Perang Opini di Dunia, Israel Kalah Telak Melawan Palestina

By Muhammad
Indonesiana

Seruan Jihad Lewat Adzan, Melawan Siapa?

By Fadel
Indonesiana

Kasus Telkomsel dan Hassan Haikal yang Kian Meradang

By Fadel
Analisis

Dari Palestina Hingga Amerika, Kita Harus Membela Hak Semua Orang untuk Bernapas

By Rachel
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account