Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Tabayun

Kesalahan Terjemahan Kompas yang (Bisa) Berakibat Fatal

Published 16/10/2016 4 Min Read
Share
4 Min Read
SHARE

kompasJakarta, LiputanIslam.com–Isu sektarian sangat sensitif di Indonesia akhir-akhir ini. Dengan mudah sebagian kalangan menimpakan tuduhan sesat dan kafir kepada pihak lainnya. Bila hanya sekedar tuduhan atau kekerasan verbal, mungkin tak berbahaya. Namun seringkali tuduhan sesat dan kafir itu diikuti dengan seruan pembunuhan atau ‘halal darahnya’.

Oleh karena itu, media massa berperan penting dalam meredakan situasi ini dengan memberikan informasi yang benar kepada masyarakat.

Sayangnya, harian terkemuka di Indonesia, Kompas, sempat melakukan kesalahan fatal penerjemahan yang bisa berakibat fatal. Situs IslamIndonesia.id telah membuat tanggapan, dan kemudian Kompas juga sudah mengubah isi beritanya di media online (entah bagaimana dengan versi media cetaknya?).

Berita yang dimaksud adalah berita berjudul “Ritual Melukai Diri Warnai Peringatan Hari Asyura di Lebanon“. Sumber berita yang diambil Kompas adalah The Independent (Inggris). Selain menyusun lead yang tendensius, Kompas juga menulis beberapa kalimat yang entah sengaja, entah tidak, hasil terjemahan yang sangat keliru.

Di berita versi asli, Kompas menulis lead (awal berita): Darah menetes di jalan-jalan di kota Nabatieh, Lebanon ketika warga Muslim Syiah memperingati hari suci Asyura, yang mencerminkan akar keyakinan mereka.

Lead itu membingkai foto yang sudah vulgar dan menyesatkan sebelumnya. Seolah-olah, darah yang menetes di jalan-jalan Nabatieh itu begitu dahsyat seperti dalam foto yang, sekali lagi, menyesatkan itu dan semua itu adalah ‘bagian dari keyakinan Muslim Syiah di Lebanon’.

Foto ‘yang menyesatkan’ yang dimaksud adalah foto yang semula dipakai Kompas, yaitu dua laki-laki berdarah-darah yang berasal dari Irak, padahal, beritanya tentang Lebanon. Kompas memberi caption: “Laki-laki Muslim Syiah di Irak menggoreskan kepala mereka hingga berdarah pada peringatan hari kesepuluh masa berkabung Muharram, yang menandai hari Asyura. Ritual menyiksa diri hingga berdarah-darah juga terjadi di Lebanon.”

Lalu, di paragraf 5, Kompas menulis: Banyak organisasi, termasuk Hezbollah Lebanon, mendorong warga merayakan Asyura bukan dengan mendonorkan darah ke bank darah, tetapi menetesi jalan-jalan di Nabatieh, Rabu.

screen shot berita Kompas versi lama
screen shot berita Kompas versi lama

Padahal kalimat aslinya, di The Independent, adalah sebagai berikut:

Many organisations, including Lebanon’s Hezbollah, encourage people wishing to observe Ashura to donate to blood banks instead, but in Nabatiyeh, a town in the south of the country, the streets were awash with blood on Wednesday. Many mourners were observed cutting their foreheads and beating themselves, blood covering their white clothes.

Kompas menulis bahwa Hizbullah mendorong warga untuk melukai diri, padahal The Independent justru jelas-jelas menulis sebaliknya: bahwa Hizbullah mendorong warga yang ikut prosesi Asyura untuk mendonasikan darah ke bank darah ketimbang mengucurkan darah dalam tradisi tatbir. Dari berita itu juga bisa disimpulkan bahwa tatbir bukanlah tradisi Lebanon, melainkan kawasan tertentu saja, yaitu Nabatieh. Sebagaimana di Indonesia di beberapa daerah juga punya tradisi berdarah-darah, misalnya, debus, tentu kita tidak bisa menyebutnya ‘budaya seluruh rakyat Indonesia’.

Juga, ada kalimat di the Independent yang diabaikan Kompas: Ritual ini telah dilarang dan sangat tidak dianjurkan oleh banyak pemerintahan dan ulama Syiah beberapa tahun belakangan akibat berbagai risiko kesehatan yang terkait dengannya.

Dalam kesalahan ini, Kompas seperti telah bergabung dengan media sektarian Wahabi yang selama lima tahun terakhir sejak Perang Suriah selalu menyebarluaskan berita-berita yang memicu sektarianisme di Indonesia, dengan menjadikan kaum Syiah sebagai musuh yang halal darahnya.

Namun syukurlah Kompas sudah mengubah isi beritanya dan mengganti foto yang digunakan. Semoga Kompas dan kita semua meresapi tagline Kompas yang indah ini “rayakan perbedaan”. Mari hidup damai di Indonesia tanpa saling mengkafirkan; apalagi dengan berbasis berita-berita fitnah. (fa)

 

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Tabayun

PBB: Terjadi Eksekusi-Eksekusi Cepat Bermotif Sektarian di Suriah

By Muhammad
Tabayun

Gencatan Senjata Diusulkan untuk  Gaza, Begini Beberapa Rinciannya

By Muhammad
Galeri

Falasi Zionis (6): Ada Teroris Membela Palestina

By Farid
Galeri

Falasi Zionis (5): Melawan Israel Itu Irasional

By Farid
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account