Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Opini

Apa Rasanya Berkuasa?

Published 17/06/2016 4 Min Read
Share
4 Min Read
SHARE

Oleh: M. Subhan SD*

kursiPekan lalu, saya menikmati Big Game (2014), film aksi-petualangan besutan sutradara kelahiran Helsinki, Finlandia, Jalmari Helander. Film itu mengisahkan pesawat Air Force One ditembak jatuh oleh teroris, yang tak lain konspirasi di internal mereka. Penumpang pesawat tewas. Seperti tipikal heroisme film-film Hollywood, Presiden Amerika Serikat William Alan Moore (diperankan Samuel Jackson) selamat dan terdampar di belantara Finlandia.

Presiden William harus berlari menyelamatkan diri dari para pemburunya. Tidak ada yang bisa menyelamatkan presiden yang memiliki pengaruh dan dominasi paling kuat di dunia itu. Hanya satu orang yang menyelamatkan presiden AS, yaitu seorang anak lelaki usia 13 tahun yang tengah mempunyai misi berburu untuk pembuktian kedewasaan. Namanya Oskari (diperankan Onni Tommila).

Ketika mereka terjebak di tengah belantara bersalju, sepenggal dialog antara Oskari dan Presiden William sangat menarik.

Oskari: Apa rasanya menjadi orang berkuasa?

Presiden William: Kekuasaan itu tidak kekal. Beberapa jam lalu saya bisa memerintahkan seluruh pasukan terhebat yang saya miliki, tetapi sekarang ini untuk memesan piza pun tidak bisa (saya lakukan).

Dialog itu sebetulnya sangat introspektif bagi para pemegang kekuasaan. Kekuasaan kerap menutupi pikiran sehat. Begitu banyak contoh sejarah tentang pemegang kekuasaan yang di luar kendali. Sejarah monarki sepertinya didominasi rezim-rezim otoriter yang menyalahgunakan kekuasaan. Bahkan, di era demokrasi pasca kolonial, tidak sedikit penguasa yang ingin menggenggam kekuasaannya sampai tak terbatas dan sentralistis di satu tangan.

Kekuasaan memang selalu menggiurkan. Mereka yang berlaga di panggung politik mustahil tidak mengincar kekuasaan. Partai politik, misalnya, sejatinya selalu mengincar kursi-kursi di pemerintahan. Dengan cara begitu, parpol dapat terlibat langsung dalam keputusan-keputusan politik di negeri ini.

Karena itu, isu perombakan kabinet (reshuffle) sepertinya tak pernah berhenti. Bahkan, di acara haul tiga tahun Taufiq Kiemas di rumah Megawati Soekarnoputri, Rabu (8/6) malam, isu reshuffle kabinet juga berembus. Malah Presiden Joko Widodo sendiri yang mengingat reshuffle ketika memberikan sambutan. “Saya jadi ingat reshuffle kalau begini,” kata Jokowi semalam setelah mengklarifikasi jumlah menteri yang berasal dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU).

Isu reshuffle memang cukup seksi sejak parpol-parpol yang semula berposisi oposisi seperti PAN dan kemudian Partai Golkar beralih merapat ke Istana. Peristiwa “balik kanan” dua parpol itu tentu saja bukanlah cerita pepesan kosong. Di dunia politik, tidak ada makan siang gratis. Sampai hari ini, kedua parpol itu tampaknya sabar menagih janji. “Ini tentu suatu sinyal yang tetap memberikan suatu apresiasi dan penghormatan,” respons Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto yang juga hadir di acara haul itu.

Perkara kekuasaan sering kali membuat gaduh. Manuver politik bisa bergerak liar ke mana-mana. Bahkan, jabatan Kapolri juga ikut diributkan, seiring Jenderal Badrodin Haiti yang akan memasuki masa pensiun. Jabatan Kapolri menjadi tarik-menarik parpol. Padahal Kapolri sejatinya keputusan Presiden. Bayangkan, apa jadinya jika semua pihak merasa punya kepentingan. Persoalan Kapolri seharusnya steril dari kepentingan politik.

Di acara haul Taufiq Kiemas juga dapat dilihat siapa pula yang sesungguhnya memiliki kekuasaan. Mencermati tamu yang hadir, seperti Presiden Jokowi, Wakil Presiden Jusuf Kalla, Ketua MPR Zulkifli Hasan, Ketua DPR Ade Komarudin, pimpinan parpol, dan para politisi, termasuk yang sudah pensiun, memperlihatkan Megawati juga masih “berkuasa” di negeri ini, meskipun secara formal tidak menduduki posisi di lembaga-lembaga negara.

Teringat Oskari, apa ya rasanya menjadi orang berkuasa? (liputanislam.com)

*wartawan senior Kompas, disalin dari Kompas, 9 Juli 2016

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Opini

Perang Opini di Dunia, Israel Kalah Telak Melawan Palestina

By Muhammad
Indonesiana

Seruan Jihad Lewat Adzan, Melawan Siapa?

By Fadel
Indonesiana

Kasus Telkomsel dan Hassan Haikal yang Kian Meradang

By Fadel
Analisis

Dari Palestina Hingga Amerika, Kita Harus Membela Hak Semua Orang untuk Bernapas

By Rachel
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account