Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Opini

Menghilangkan Ilusi Daging Sapi

Published 12/06/2016 6 Min Read
Share
6 Min Read
SHARE

Oleh: Andi Irawan*

sapi-betina2ILUSI konsumen itu sesuatu yang normal terjadi. Ia didefinisikan sebagai pengetahuan yang salah terhadap suatu produk yang dikonsumsi yang memengaruhi perilaku konsumen. Mungkin kita tidak sadar bahwa penyebab terjadinya kenaikan daging sapi yang berulang dari tahun ke tahun tidak lepas karena hadirnya ilusi ini di dalam persepsi masyarakat konsumen kita.

Harga daging sapi yang tinggi disebabkan kebutuhan kita yang tinggi pada komoditas tersebut di satu sisi, dan di sisi lain komoditas itu relatif tidak memiliki substitusi yang berarti. Lalu mengapa daging sapi menjadi semacam komoditas yang sepenting itu bagi kita? Hal ini disebabkan ilusi kita terhadap komoditas tersebut.

Kalau yang menjadi kepedulian kita dari konsumsi daging sapi ialah sisi kelezatan, bukankah banyak jenis daging lain yang harganya lebih murah dan bisa dikelola menjadi produk kuliner yang lezat sebagai substitusi daging sapi. Ambil contoh sederhana satai bisa dibuat dari daging kelinci, ayam, atau bahkan ikan dan rasanya tidak kalah lezat bahkan bisa lebih enak daripada satai daging sapi.

Kalau yang kita peduli dari konsumsi daging sapi karena kandungan gizinya sebagai sumber protein, bukankah masih banyak sumber protein yang setara bahkan lebih tinggi daripada daging sapi dengan harga yang jauh lebih murah. Sumber protein hewani yang setara dengan daging sapi antara lain ayam, belut, dan ikan. Bahkan, ikan bisa menjadi pilihan yang lebih baik daripada daging sapi karena di samping sumber protein juga mengandung asam lemak omega-3.

Terlebih lagi, daging sapi yang merupakan jenis daging merah (red meat) memiliki lebih banyak risiko bila dibandingkan dengan daging putih (white meat), seperti ikan atau ayam. Daging merah diketahui berkolesterol tinggi dan bisa jadi pendorong munculnya beberapa jenis kanker dan penyakit jantung. Artinya, pengalihan konsumsi dari daging sapi ke daging ayam atau ikan bisa bermakna memperbaiki kesehatan tubuh.

Di samping itu, dari perspektif ekonomi, ketergantungan konsumsi kita terhadap daging sapi bisa dimanfaatkan pihak-pihak tertentu yang menjadi ‘penumpang gelap’ dari kebijakan ‘swasembada daging sapi’ untuk mengeruk keuntungan yang tidak wajar.

Sebagaimana diketahui bahwa program swasembada daging sapi yang telah dicanangkan belasan tahun tersebut ternyata hanya menghasilkan harga daging sapi yang semakin tidak terjangkau oleh rakyat. Jelas, konsumen yang jumlahnya ratusan juta orang dirugikan dari kenaikan harga daging sapi. Lalu siapa yang diuntungkan?

Ada sebagian pihak yang mengatakan harga yang tinggi penting untuk menolong peternak rakyat sebagai produsen. Yang dimaksud dengan peternak rakyat ini ialah 60% peternak yang punya 1-2 ekor sapi. Namun, suatu kesalahan kalau kita melihat peternak rakyat tersebut sebagai produsen yang produksi komoditas daging itu. Pandangan seperti itu tidak tepat. Peternak kita tidak seperti peternak Australia yang mengelola ternak sepenuhnya dengan motif bisnis sehingga ternak bagi mereka merupakan komoditas komersial.

Namun, dalam kacamata usaha tani modern, peternak rakyat kita bukan produsen. Ternak sapi mereka bukan komoditas yang mereka produksi. Ternak bagi mereka ialah tabungan, bukan komoditas.

Dikatakan tabungan karena ternak itu dijual ketika dibutuhkan dana likuid yang besar untuk kepentingan strategis rumah tangga pada saat-saat tertentu, seperti menikahkan dan menyekolahkan anak.

Kebijakan proteksi seperti pembatasan impor sapi mempunyai argumentasi logis jika untuk melindungi peternak yang berstatus peternak produsen, sedangkan mayoritas peternak rakyat kita itu kategorinya bukan produsen. Mereka peternak dan penabung karena menjadikan sapi sebagai tabungan.

Lalu siapa yang sungguh-sungguh menikmati harga yang tinggi itu? Hanya segelintir pengusaha penggemukan sapi (feedloter) dan pengimpor daging sapi. Mereka ini tidak bisa disebut sebagai produsen karenafeedloter dan importir dagingbukan produsen sapi. Mereka pedagang daging.

Mayoritas sumber sapi mereka ialah impor. Produsennya ialah peternak Australia dan New Zealand. Artinya, kebijakan menaikkan harga daging sapi hanya menguntungkan peternak negara sumber impor sapi dan segelintir pengusaha feedloter serta importir. Padahal saat yang bersamaan, hal itu merugikan konsumen negara sendiri yang jumlahnya ratusan juta orang.

Sebagai konsumen, kita adalah raja. Demand create own supply. Begitu kata teori pemasaran. Dengan beralihnya Anda pada komoditas lain, permintaan sapi itu akan turun dan dampak harganya akan turun dengan sendirinya. Dengan demikian, kita tidak perlu menurunkan polisi untuk mencari di mana daging sapi itu ditimbun. Tidak pula perlu mengeluarkan dana dari pajak rakyat untuk membiayai impor daging dari luar melalui Bulog atau BUMN lainnya. Terlalu mahal biaya yang dikeluarkan negara dan itu pemborosan yang luar biasa.

Bahkan, perilaku konsumsi kita akan mengubah arti penting swasembada bukan pada ‘swasembada daging sapi’, tetapi pada swasembada daging saja. Dengan demikian, pengembangan peternakan juga bisa berdasarkan keunggulan lokal daerah. Daerah yang potensial kelinci tidak perlu dipaksa mengembangkan sapi, tapi cukup mengembangkan kelinci, sehingga ketahanan pangan kita lebih prima. Kenaikan satu komoditas daging tertentu seperti kenaikan harga daging sapi saat ini tidak membuat resah masyarakat karena bisa beralih pada komoditas daging lainnya (ayam, kambing, kelinci, itik, dan lain-lain).(LiputanIslam.com)

*Dosen Pascasarjana Program Studi Agrobisnis Universitas Bengkulu; Doktor Ekonomi Pertanian IPB, artikel ini disalin dari Media Indonesia, 10 Juni 2016

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Opini

Perang Opini di Dunia, Israel Kalah Telak Melawan Palestina

By Muhammad
Indonesiana

Seruan Jihad Lewat Adzan, Melawan Siapa?

By Fadel
Indonesiana

Kasus Telkomsel dan Hassan Haikal yang Kian Meradang

By Fadel
Analisis

Dari Palestina Hingga Amerika, Kita Harus Membela Hak Semua Orang untuk Bernapas

By Rachel
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account