Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Dari Redaksi

HAM, Antara Idealisme dan Instrumen Politik

Published 15/12/2014 4 Min Read
Share
4 Min Read
SHARE

341514_West-humanOtong Sulaeman

Hak Asasi Manusia (HAM) adalah frasa yang selalu berjalan beriringan dengan kata “demokrasi”. Karena itu, tak mengherankan manakala demokratisasi menjadi mantra utama Orde Reformasi di Indonesia pada tahun 1998, pamor HAM juga ikut moncer. Ketika pemerintahan baru hasil gerakan Reformasi terbentuk, HAM bahkan dicangkokkan ke dalam kementerian hukum. Maka, lahirlah Kementerian Hukum dan HAM. Komnas HAM juga menjadi lembaga resmi negara yang mendapatkan dana dari pemerintah.

Konsep HAM mulai bergulir saat Deklarasi Universal HAM diadopsi oleh PBB pada tanggal 10 Desember 1948. Secara garis besar, ada enam jenis HAM, yaitu hak asasi sosial, ekonomi, politik, sosial budaya, hak untuk mendapat perlakuan yang sama dalam tata cara peradilan, serta hak untuk mendapat persamaan dalam hukum dan pemerintahan. Sejak saat itu, tanggal 10 Desember dinyatakan sebagai hari HAM sedunia.

Secara konseptual, HAM tentu sangat bagus. Hanya saja, implementasi atas konsep HAM ini ternyata sangat tidak mudah. Sebagaimana berbagai konsep-konsep yang lahir dari rahim PBB lainnya, implementasi konsep HAM dalam konteks politik internasional seringkali bercampur baur dengan kepentingan-kepentingan politik-ekonomi internasional negara-negara Barat.

Dalam pelaksanaannya, HAM sering diselewengkan menjadi instrumen politik demi terjaganya kepentingan AS dan negara-negara Barat lainnya. AS dan negara-negara Barat sering memainkan jurus standar gandanya. Negara atau pihak yang dinyatakan sebagai musuh Barat pastilah akan menjadi bulan-bulanan Barat dari sisi isu pelanggaran HAM. Pelanggaran besar diekspose; pelanggaran kecil dikapitalisasi; perbedaan kearifan lokal ditafsirkan sebagai pelanggaran; dan bahkan yang tidak melakukan pelanggaran sering menjadi korban fitnah.

Sedangkan para sekutu Barat, mereka pastilah aman dari penilaian HAM. Lihatlah contoh nyata pelanggaran HAM yang ratusan kali dilakukan Zionis Israel. Bahkan perilaku genosida (jenis pelanggaran HAM paling berat) rezim ini selalu dijustifikasi, entah dengan alasan pembelaan diri atau pemberantasan melawan terorisme. Ketika pelanggaran tersebut sudah tidak bisa lagi ditutup-tutupi hingga melahirkan resolusi Dewan Keamanan PBB, AS lalu mengeluarkan jurus “sakti” yang sangat absurd sekaligus sangat tidak demokratis: hak veto. Puluhan resolusi DK yang berisikan kecaman terhadap Israel menguap begitu saja di udara gara-gara diveto oleh AS.

Konsep yang bagus memang tidak selamanya aman dari penyalahgunaan. Tingkat abstraksinya yang sangat tinggi rentan untuk ditafsirkan ke sana ke mari, sesuai dengan kepentingan di penafsir. Bahkan dalam konteks agama Islam pun, betapa sering kita temukan catatan sejarah terkait dengan pertikaian di antara pihak yang sama-sama menggunakan ayat Alquran atau sabda Baginda Nabi. “Perang” ayat dan hadits seringkali berlangsung secara simultan dengan perang fisik sungguhan di antara sesama kaum Muslimin yang memakan korban nyawa kaum Muslimin.

Dulu, di Perang Shiffin (perang antara pasukan Imam Ali dan Muawiyah), pasukan Muawiyah sudah berada di ambang kekalahan. Dalam keadaan terdesak, pasukan tersebut lantas menancapkan lembaran Alquran di atas tombak sambil meneriakkan kutipan yang tingkat abstraksinya sangat tinggi: “La hukma illaa lillaah –Tiada hukum selain milik Allah”. Maksud mereka, segala macam pertikaian itu mestinya bisa diselesaikan lewat hukum-hukum Allah yang sebagaimana yang terdapat pada ayat-ayat suci Alquran, bukan melalui peperangan.

Bagaimana reaksi Imam Ali? Dia mengomentari fenomena ini dengan kalimat yang sederhana tapi sangat mengena: “Kalimatul haq, yuraadu bihal-baathil –Itu kalimat yang benar, tapi (dikutip) untuk tujuan yang salah.”

Kembali kepada masalah HAM, kita juga mestinya meningkatkan kewaspadaan terhadap segala macam konsep kebaikan yang dikutip oleh orang-orang. Konsep yang benar tidak selalu steril dari penyalahgunaan. Fakta bahkan menunjukkan betapa konsep kebenaran itu seringkali dijadikan kedok oleh pihak-pihak yang memiliki maksud jahat, demi memuluskan langkah-langkah jahat mereka. Ala kulli hal, selamat memperingati Hari HAM Dunia! (editorial/liputanislam)

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Editorial

Zionis Israel Sedang Tidak Baik-Baik Saja

By Farid
Editorial

Rujuknya Iran dengan Arab Saudi, Tamparan bagi AS

By Farid
Editorial

Berdamai dengan Zionis Israel Adalah Delusi Konyol

By Farid
Dari Redaksi

Urusan Palestina, Jangan Pernah Berharap kepada Lembaga ‘Banci’ PBB

By Farid
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account