Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Dari Redaksi

Merdeka Berarti Independen

Published 14/08/2014 4 Min Read
Share
4 Min Read
SHARE

happy-independence-day-indonesiaOtong Sulaeman

Hiruk-pikuk sengketa pilpres sedang disidangkan di Mahkamah Konstitusi (MK) dan juga Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP). Perhatian publik juga terbetot ke arah persoalan kelompok radikal ISIS (atau IS). Di sisi lain, kaum Muslimin Indonesia juga masih terus memantau duka derita warga Gaza, Palestina, yang terus berjuang melawan penindasan Zionis Israel.

Ketiga peristiwa ini memang menarik perhatian publik. Ketiganya banyak dibicarakan di media-media sosial dan media-media massa. Hanya saja, sebagai bangsa yang besar, kita tentu tidak boleh lupa, bahwa saat ini, kita berada di bulan Agustus; dan bahwa kita sedang merayakan hari kemerdekaan negara tercinta, Negara Kesatuan Republik Indonesia.

69 tahun yang lalu, naskah paling keramat itu dibacakan oleh Bung Karno. Pernyataan paling berani disampaikan secara gagah perkasa: “… dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia.” Inilah pernyataan yang mewakili jutaan penduduk dari Sabang sampai Merauke, terkait keinginan terlepas dari belenggu yang mengikat, apapun resikonya.

Masyarakat Indonesia umumnya memaknai kata merdeka sebagai kebebasan (freedom dalam bahasa Inggris atau Al-Hurriyyah dalam bahasa Arab). Padahal, jika kita merujuk kepada literatur politik internasional, merdeka itu punya makna yang berbeda, yaitu independensi (independence dalam bahasa Inggris, dan Al-Istiqlal dalam bahasa Arab). Itu terlihat jelas dari istilah yang digunakan untuk Hari Kemerdekaan yang diperingati oleh negara-negara bebas jajahan. Komunitas internasional selalu menggunakan kata “Independence Day” untuk hari tersebut, bukan “Freedom Day”.

Untuk konteks bangsa Indonesia, pemaknaan kemerdekaan yang lebih condong ke arah kebebasan, bukan independensi, tentu amat bisa dimaklumi. Konsep kebebasan memang lebih mudah difahami dibandingkan independensi. Apalagi jika kita bicara tentang keterbelengguan mereka di zaman itu. Yang pertama kali terpikir sebagai cita-cita perjuangan tentulah kebebasan dari belenggu itu; kebebasan yang jikapun tidak begitu mereka nikmati, tapi bisa diwariskan kepada anak cucu.

Memang, konsep independensi itu lebih kompleks dibandingkan kebebasan. Bebas artinya tidak terikat, sedangkan independen artinya tidak bergantung. Dari sisi ini, orang yang sudah bebas sangat mungkin masih belum independen. Ia memang punya kebebasan. Hanya saja, saat ia bergerak, pergerakannya itu bergantung kepada faktor-faktor di luar dirinya (meskipun faktor-faktor luar tersebut ia yakini sebagai hal yang keliru).

Konsep independensi itu menjadi rumit karena faktor-faktor yang menentukan gerak langkah seseorang itu sangat kompleks dengan spektrum yang cukup luas. Orang bisa sangat bergantung kepada sebuah budaya yang sebenarnya dia ketahui sebagai hal yang keliru. Orang juga bisa bergantung kepada doktrin agama yang ia tahu bahwa itu salah. Orang juga bisa terikat dengan adat kebiasaannya sendiri. Atau, dalam model psiko-analisis Sigmund Freud, orang punya kecenderungan yang sangat kuat untuk digerakkan sepenuhnya oleh alam bawah sadarnya.

Dari sisi ini, jika pemahaman independensi ini diterapkan dalam konteks bangsa Indonesia, kita tentu selayaknya harus merenung dalam-dalam: betulkah bangsa kita sudah merdeka? Apakah bangsa kita sudah tidak bergantung kepada faktor-faktor luar? Seberapa mandirikah bangsa kita dalam berpikir dan bertindak?

Bangsa kita memang sudah merdeka, dalam pengertian yang paling primer, yaitu bebas dari belenggu penjajahan. Hanya saja, untuk menjadi bangsa yang merdeka dalam pengertian yang lain, yaitu independen, sepertinya memang masih banyak yang harus kita perjuangkan bersama-sama. Dirgahayu Republik Indonesia! (editorial/liputanislam.com)

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Editorial

Zionis Israel Sedang Tidak Baik-Baik Saja

By Farid
Editorial

Rujuknya Iran dengan Arab Saudi, Tamparan bagi AS

By Farid
Editorial

Berdamai dengan Zionis Israel Adalah Delusi Konyol

By Farid
Dari Redaksi

Urusan Palestina, Jangan Pernah Berharap kepada Lembaga ‘Banci’ PBB

By Farid
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account