Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Opini

Sayyidina Umar, Yerusalem dan Toleransi

Published 24/06/2014 6 Min Read
Share
6 Min Read
SHARE
Foto: facebook
Foto: facebook

Oleh: Ardiansyah, Mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Siapa yang tak kenal Yerusalem? Kota suci tiga agama. Kota yang mana mampu membuat keluarga Abraham yaitu umat Yahudi, Kristen dan Islam bertemu dalam satu tempat. Tetapi kota ini juga bisa disebut kota darah. Invasi Kristen Eropa dalam perang Salib telah banyak menelan korban dikedua belah pihak. Kemudian dilanjutkan invasi Zionis Yahudi Azkenasic yang menjajah negeri ini dengan alasan bahwa ini negeri yang dijanjikan Tuhan.

Tapi ada kisah yang menarik ketika Yerusalem ditaklukan oleh Islam pada zaman Sayyidina Umar Bin Khattab. Disana penuh dengan toleransi dan keserasian antara Yahudi, Kristen dan Islam. Mari kita simak kisahnya.

Yerusalem ialah nama kota yang berada di negara Palestina (walaupun sekarang status Yerusalem dalam pengawasan PBB, dan dalam Wikipedia, Yerusalem dimasukkan ke dalam ibu kota Israel walaupun terdapat keterangan “Tidak diakui internasional”.  Pra modern Palestina termasuk wilayah yang dinamakan negeri Syam (Yordania, Suriah, Palestina, Israel).

Ketika  Sayyidina Abu Bakar terpilih menjadi Khalifah, dia memerintah untuk berdakwah dan futuhat (pembebasan) negeri-negeri di sekitar Arab yang belum masuk wilayah kekuasaan Islam dan belum memeluk Islam. Pada bulan Rajab, Sayyidina Abu Bakar mengirim empat pasukan untuk menaklukkan negeri Syam yang pada waktu itu dalam kekuasaan Byzantium.

1. Pasukan Yazid Bin Abi Sufyan menuju Damaskus.
2. Pasukan Syurahbil Ibn Hasanah menuju Urdun.
3. Abu Ubaidah Al Jarrah menuju Humush.
4. Amr Bin Ash menuju Palestina.

Tapi, keempat pasukan itu mengalami kesulitan ketika berhadapan dengan pasukan Byzantium, sehingga, Sayyidina Abu Bakar mengutus Sayyidina Khalid Bin Walid untuk pergi ke Palestina dan menarik diri dari Irak guna membantu keempat pasukan tersebut.

Pada akhirnya cita-cita Abu Bakar tidak tercapai. Dia meninggal ketika Syam belum berhasil ditaklukkan. Kemudian pada masa Umar, Amr Ibn Ash berhasil mengepung Palestina sehingga Amr Ibn Ash mengundang Sayyidina Umar untuk menaklukkan sendiri kota Yerusalem.

Amr menunggu Sayyidina Umar dan akhirnya ia datang dengan menaiki unta. Kemudian ketika melewati sungai, Sayyidina Umar turun sambil melepaskan sendalnya dan menuntun untanya menyeberangi sungai.

Umar sudah tiba di Jabiyah, sementara itu penduduk Yerusalem mengajukan perjanjian damai. Lantas Sayyidina Umar menyetujui dan berjanji akan melindungi kota Elia dan Ramallah.

Akhirnya Sayyidina Umar memasuki kota Yerusalem untuk menerima kunci kota. Kemudian ia  menuliskan perjanjian sebagai berikut:

“Bismillah Al-Rahman Al-Rahim. Ini jaminan keamanan yang di berikan hamba Allah, Umar, Amirul Mukminin kepada penduduk Elia (Yerusalem). Umar menjamin keamanan bagi seluruh jiwa, harta, Gereja, Salib, orang lemah, orang merdeka, dan semua agama yang ada. Gereja-gereja mereka tidak akan dihuni dan dirusak, dikurangi atau dipindahkan. Demikian pula dengan Salib dan harta mereka. Mereka tidak akan dibenci karena agama. Tidak ada seorang Yahudi pun boleh tinggal bersama mereka di Elia. Jika ada penduduk Elia yang lebih senang menggabungkan diri dan hahrtanya dengan Byzantium serta meninggalkan gereja-gereja dan salib-salibnya, maka jiwa, Gereja, dan Salib mereka dijamin keamanannya sampai mereka tiba di daerah tujuan. Siapa saja dari penduduk setempat (Syam) yang tinggal bersama mereka (penduduk Elia), maka jika mau ia boleh tinggal dan wajib membayar Jizyah (ialah pajak yang ditetapkan Khalifah untuk penduduk suatu tempat sebagai jaminan keamanan) seperti kewajiban penduduk Elia, atau jika mau bergabung dengan Byzantium atau jika mau kembali kepada keluarganya sendiri. Tidak ada sesuatu pun yang boleh diambil dari mereka sampai mereka memetik panen mereka.”

Ketika Sayyidina Umar selesai menulis perjanjian ini, maka tibalah waktu Zuhur yang mana Uskup Yerusalem/Elia yang bernama St. Shopronius mempersilahkan Umar untuk shalat di Gereja Anastasis/ Holy Sepulchre.  Gereja ini juga disebut Gereja Makam Kristus karena dipercaya di tempat inilah Kristus disalibkan. Lantas Umar menolak karena khawatir bila dia shalat disana mereka akan disalahkan oleh umat Islam yang berseru bahwa” Amirul Mukminin shalat di tempat ini (gereja).”  Kemudian Sayyidina Umar shalat di depan gereja, sampai sekarang terdapat masjid kecil yang dinamakan Masjid Umar karena dahulu Sayyidina Umar shalat  di depan Gereja. Sampai sekarang umat Kristiani dapat melihat Gereja Makam Kristus di Yerusalem.

Yang lebih menarik bahwa kunci gerbang Gereja Makam Kristus yang memegangnya ialah umat Islam, diakibatkan ketegangan yang sangat sengit diantara sekte Kristen yang mengaku paling berhak memegang kunci itu sehingga sering terjadinya konflik. Sampai akhirnya Khalifah memutuskan untuk menyerahkan kunci Gereja kepada umat Islam sekaligus merawatnya. Hal ini dirasakan oleh Karen Armstrong dalam bukunya “Perang Suci” bahwa ketika dia membuat film mengenai Perang Salib dan ketika waktunya sudah habis maka datanglah seseorang yang memakai peci menutup gerbang gereja ketika gerbang itu dibuka maka giliran Kristen Ortodoks Yunani untuk berziarah.

Sungguh toleransi yang di bangun Sayyidina Umar di kota Yerusalem sebagai teladan bahwa apapun agamanya kita wajib saling mengasihi dan melindungi segenap rakyatnya apabila kita menjadi pemimpin. Tidak membedakan ras, agama, dan ideologi, itulah yang dilakukan Sayyidina Umar. Bahkan umat Islam menyebut kota Yerusalem dengan sebutan “Al-Quds” yang berarti suci. [Dipublikasikan pertama kali di Fanpage Berita Harian Suriah]

Baca juga: The House of One, Saat Islam, Kristen dan Yahudi Bersatu

—————-

Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini, silahkan kirimkan ke [email protected]

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Opini

Perang Opini di Dunia, Israel Kalah Telak Melawan Palestina

By Muhammad
Indonesiana

Seruan Jihad Lewat Adzan, Melawan Siapa?

By Fadel
Indonesiana

Kasus Telkomsel dan Hassan Haikal yang Kian Meradang

By Fadel
Analisis

Dari Palestina Hingga Amerika, Kita Harus Membela Hak Semua Orang untuk Bernapas

By Rachel
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account