Teheran, LiputanIslam.com – Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran memperingatkan Amerika Serikat (AS) untuk tidak bertindak destruktif dan keji, termasuk penyitaan kapal, di kawasan Teluk Persia dan sekitarnya.
“Iran telah mencapai tingkat kekuatan dan kemampuan yang sangat tinggi yang dapat menanggapi tindakan dan kejahatan AS (di kawasan) dengan cara yang sama, termasuk penyitaan kapal,” kata juru bicara IRGC Brigjen Ramezan Sharif, Senin (8/8).
Dia menambahkan bahwa berbagai negara telah “memahami dengan benar bahwa Iran berubah menjadi kekuatan besar di kawasan.”
Juru bicara IRGC juga menegaskan, “Dalam setiap pertempuran langsung antara Iran dan AS selama beberapa tahun terakhir, negara-negara kawasan telah melihat kelemahan AS dan kekuatan Republik Islam, dan memahami pula bahwa keamanan Teluk Persia harus dibangun oleh negara pesisirnya sendiri.”
Sharif melontarkan peringatan demikian setelah Komando Pusat Angkatan Laut AS (CENTCOM) di hari yang sama mengumumkan bahwa Angkatan Laut AS telah mengerahkan lebih dari 3.000 pelaut dan pasukan marinir ke Timur Tengah dengan dalih demi melindungi kapal-kapal yang melintasi Teluk Persia.
CENTCOM menyebutkan bahwa pasukan dari Bataan Amphibious Ready Group (ARG) dan 26th Marine Expeditionary Unit (MEU) telah tiba di Timur Tengah.
Langkah itu dilakukan setelah Angkatan Laut AS menuduh Iran “menyerang, merebut, atau berusaha merebut” hampir 20 kapal dagang berbendera internasional di kawasan Teluk dalam kurun waktu dua tahun terakhir.
Di pihak lain, Angkatan Laut IRGC selama beberapa tahun terakhir telah menggagalkan beberapa serangan terhadap kapal tanker Iran dan asing di wilayah strategis Teluk Persia dan laut lepas lainnya.
Angkatan Laut IRGC juga menyita lebih dari 50 juta liter bahan bakar selundupan, terutama diesel, dalam berbagai misi tahun lalu.
Iran menegaskan pihaknya memandang kapal militer AS yang mengintai di perairan Teluk Persia sebagai ancaman terhadap keamanannya dan sumber ketegangan serta instabilitas regional.
Sementara itu, Ryan Costello, direktur kebijakan di Dewan Nasional Iran Amerika (NIAC), sebuah kelompok berbasis di Washington, DC yang mendukung diplomasi AS dengan Iran, mengatakan bahwa berita utama tentang penguatan kehadiran militer AS di Teluk merupakan “kemunduran” ke era Trump.
Menurut Costello, pemerintahan Biden berargumen bahwa mereka berusaha mencegah Iran melecehkan kapal, sementara Teheran mungkin memandang kehadiran militer AS yang ditingkatkan sebagai dorongan untuk mempermudah Washington merebut kapal tanker Iran.
“Ini koktail berbahaya yang disatukan,” katanya.
Iran menentang keterlibatan militer AS di Teluk Persia dan menganggapnya sebagai intervensi asing yang bermusuhan.
“Apa hubungan Teluk Persia, Teluk Oman, dan Samudera Hindia dengan Amerika? Apa urusanmu di sini?” kata juru bicara angkatan bersenjata Iran Brigjen Abolfazl Shekarchi.
Namun, Pentagon mengatakan bahwa pengerahan pasukan AS belakangan ini ke kawasan tersebut sesuai dengan kebijakan AS yang sudah lama bekerja dengan mitra untuk “menghalangi potensi agresi agar jalur pelayaran tetap terbuka”. (mm/mna/aljazeera/tasnim)
Baca juga: