Teheran, LiputanIslam.com – Otoritas Iran mengaku telah mencopot dua kamera Badan Energi Atom Internasional (IAEA) setelah kepala lembaga yang bernaung di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ini mulai meningkatkan ketegangan terhadap Teheran. Dua kamera itu semula terpasang di luar kewajiban Iran di bawah perjanjian perlindungan.
Organisasi Energi Atom Iran (AEOI), Rabu (8/6), menyebut IAEA tidak menghargai iktikad baik Iran dan sebaliknya memandang langkah sukarela Teheran sebagai bagian dari upayanya, dan karena itu AEOI memerintahkan supaya Online Enrichment Monitor dan pengukur aliran dimatikan.
Namun demikian, AEOI juga menyebutkan bahwa 80 persen kamera pengintai IAEA yang terpasang sesuai upaya Iran di bawah perjanjian perlindungan tetap terpasang dan beroperasi.
Iran bertindak demikian di tengah beredarnya kabar bahwa pertemuan Dewan Gubernur IAEA di Wina akan menghasilkan resolusi anti-Iran sesuai sepak terjang Inggris, Prancis, Jerman, dan AS, untuk menuduh Iran enggan bekerjasama dengan IAEA, dan setelah Kepala IAEA Rafael Grossi berkunjung Israel.
Iran sebelumnya telah memperingatkan IAEA agar tidak membiarkan Israel mempengaruhi mandat independen dan pengambilan keputusan lembaga ini.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa Israel adalah satu-satunya pemilik senjata nuklir di kawasan Timur Tengah, dengan persediaan hulu ledak nuklir sebanyak ratusan unit. Adanya perlindungan dari AS dan Eropa membuat Israel enggan membukakan situs nuklirnya kepada tim pengawas IAEA serta menolak bergabung dengan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT).
Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir Abdollahian pada Ahad lalu memperingatkan bahwa mereka yang mendukung atau mensponsori adopsi resolusi terhadap Iran di IAEA akan bertanggung jawab atas konsekuensinya.
“Mereka yang mendorong resolusi anti-Iran di IAEA akan bertanggung jawab atas semua konsekuensinya,” ungkap Amir Abdollahian di halaman Twitter-nya.
Iran juga sudah berulang kali memperingatkan bahwa adopsi resolusi anti-Iran hanya akan kontraproduktif dengan pembicaraan yang sedang berlangsung untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015 antara Iran dan negara-negara terkemuka dunia. (mm/fna)
Baca juga: