Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Tabayun

Paradoks Negara Monarkhi: Menyeru dan Mengecam Demokrasi Suriah

Published 04/06/2014 3 Min Read
Share
3 Min Read
SHARE

 “Negara-negara yang tanpa malu-malu mengajari kami tentang demokrasi , pembangunan dan kemajuan sementara mereka justru  tenggelam dalam kebodohan dan aturan- aturan abad pertengahan. Negara-negara yang menjadikan tanah dan isinya sebagai hak milik mereka sepenuhnya,  raja dan pangeran yang memiliki hak tunggal untuk mendistribusikan kekayaan nasional mereka, memberikannya kepada rekan- rekan mereka.” (Mr Moallem)

FOS
Negara anggota Sahabat Suriah

Friend of Syria, atau Sahabat Suriah yang beranggotakan berbagai negara-negara Barat dan Arab, sejak awal telah mengecam pemilihan presiden yang dilangsungkan pada hari ini (3/6/2014) di Suriah.

Seperti dilansir Antara News, kesebelas negara yang tergabung dalam Sahabat Suriah yaitu  Inggris, Mesir, Prancis, Jerman, Italia, Yordania, Qatar, Arab Saudi, Turki, Uni Emirat Arab, dan Amerika Serikat – menyebut  pemilu itu sebagai pergelaran “yang tidak sah” dan merupakan “parodi demokrasi”.

Siapapun yang mengenal baik negara anggota dari Sahabat Suriah seperti Qatar, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, pastinya akan merasa janggal dengan sikap mereka terhadap pelaksanaan demokrasi di Suriah. Mengapa demikian?

Ketiga negara Arab tersebut, adalah negara-negara monarkhi yang tidak mengenal demokrasi. Contohnya di Kerajaan Arab Saudi. Berbagai aksi demonstrasi digelar rakyat Arab Saudi untuk menentang Rezim al-Saud. Rakyat Arab Saudi juga menuntut perubahan politik, salah satunya berganti sistem pemerintahan dari monarkhi absolut ke pemerintahan demokratis. (Irib, 1 Maret 2013).

Rakyat Suriah di Lebanon berduyun-duyun memilih presiden
Rakyat Suriah di Lebanon berduyun-duyun memilih presiden. Foto: http://www.washingtonpost.com/

Dalam wawancara ini, kesaksian langsung dari mahasiswa Indonesia yang telah 10 tahun di Suriah, “Tiada gading yang tak retak. Mungki pepatah itu tepat untuk melukiskan tentang Suriah. Pihak keamanan di Suriah sangat posessif, semua hal harus dengan izin pihak keamanan. Kebebasan bersuara dan berpolitik kurang. Tapi kalau itu dijadikan satu-satunya alasan untuk melakukan demonstrasi, sepertinya adalah kesimpulan yang dangkal.

Suriah jauh lebih baik dari negara Arab lainnya dalam hal kebebasan bersuara. Apalagi dibandingkan negara Teluk. Negara Arab mana yang  rakyatnya bebas bersuara? Jadi kalau negara-negara pendukung pemberontak berteriak demokrasi kepada Suriah, itu sama halnya dengan maling teriak maling. Harusnya kita bertanya, mengapa harus Suriah yang dituntut menegakkan demokrasi sementara negara penyeru demokrasi tersebut adalah negara monarki?” (Liputan Islam, 17 Februari 2014) 

Pertanyaan ini,  seharusnya direnungkan oleh pendukung Sahabat Suriah, “Apakah layak, negara monarkhi yang tidak mengenal demokrasi — lantang menyerukan demokrasi — dan lantas mengecam proses demokrasi yang sedang berlangsung di Suriah?”(ba/LiputanIslam.com)

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Tabayun

PBB: Terjadi Eksekusi-Eksekusi Cepat Bermotif Sektarian di Suriah

By Muhammad
Tabayun

Gencatan Senjata Diusulkan untuk  Gaza, Begini Beberapa Rinciannya

By Muhammad
Galeri

Falasi Zionis (6): Ada Teroris Membela Palestina

By Farid
Galeri

Falasi Zionis (5): Melawan Israel Itu Irasional

By Farid
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account