tkw arab saudi pulang dengan membawa bayi (foto:republika, disamarkan dg photoshop)

tkw arab saudi pulang dengan membawa bayi (foto:republika, disamarkan dg photoshop)

“Semalam ada TKI wanita yang melahirkan di dalam sel. Kami sudah sering kali memberikan masukan-masukan untuk pihak pemerintah agar tidak menanggapi hal tersebut secara sepele,” kata Direktur Migran Care, Anis Hidayah, seperti dikuti tribunnews.com (8/11/2013).

Bulan lalu (18/2), Anis kembali memberikan pernyataan tegas, “Pemerintah Indonesia harus memastikan Arab Saudi akan melindungi TKI dengan membuat kontrak kerja yang jelas.”

”Yang perlu diketahui adalah di Arab Saudi masih berlaku sistem perbudakan terhadap perempuan. Perempuan mereka sendiri saja mereka perbudak apalagi perempuan dari negara lain,” kata Anis, seraya menambahkan sampai saat ini banyak TKI di sana tak digaji sampai satu tahun lebih. (www.ham.go.id)

Pemerintah Indonesia memang sangat patut disalahkan karena tak mampu menyejahterakan rakyatnya, sampai-sampai kaum perempuan Indonesia harus menjadi tenaga kasar di luar negeri, serta mengalami berbagai pelecehan dan kekerasan. Beraninya orang-orang Arab Saudi melecehkan kaum perempuan Indonesia mengindikasikan bahwa di mata mereka, Indonesia bukan negara bermartabat. Pemerintah seharusnya tegas menghadapi hal ini, tegas membela harga diri bangsa.

Tapi, mari kita geser sedikit fokus: apa yang terjadi di Arab Saudi dengan keberadaan 1,5 juta TKW Indonesia di sana (ini data resmi BPS; TKW ilegal tidak terdata)? Mengapa orang Arab sedemikian butuh TKW? Bagaimana kehidupan mereka dan para TKW sebenarnya? Mengapa sampai ada 7000 lebih bayi lahir dari TKW Indonesia (diperkirakan lebih, karena kasus TKW ilegal tidak terdata)?

Liputan Islam berkesempatan mewawancarai seorang mantan TKW asal Tasikmalaya dan menemukan kisah yang sangat menyedihkan dari Tanah Suci. Wawancara ini dimuat dalam 3 bagian. Berikut ini bagian pertama.

***

“Oh, bukan umroh. Saya mah TKW,” kata ibu itu dengan polos, ketika saya tanya, apakah ia jamaah umroh. Saya kebetulan duduk di kursi yang berdekatan dengannya di pesawat Ettihad Airways. Saya menduganya sebagai jamaah umroh karena ia mengenakan batik, khas jamaah umroh Indonesia.

Ibu itu terlihat tua. Ternyata, betul, usianya sudah 50 tahun. Namanya M binti A (MA). Ia mengaku sudah 2,5 tahun bekerja sebagai TKW di Arab Saudi, tepatnya di kota Thaif. Tahun ini, ia pulang ke tanah air, dan tidak berniat untuk kembali lagi. Selama di pesawat, ia menunjukkan kegelisahan yang amat sangat. Rupanya ia sangat khawatir dengan apa yang akan dialaminya setibanya di Bandara Soekarno Hatta. “Teman saya bulan lalu pulang ke Indramayu. Ia harus keluar uang sampai satu juta rupiah. Saya musti bayar berapa ya, rumah saya di desa, jauh sekali?” tanyanya dengan nada cemas.

Saya mengatakan padanya, bahwa saya akan mengantarkannya sampai ke bus umum yang akan membawanya ke kota tempat tujuan. Ia kelihatan senang sekali. Matanya berbinar-binar.

“Wah, terima kasih, Pak. Betul kata ustad saya. Yang penting kita jadi orang baik. Jangan melakukan hal-hal buruk. Allah pasti memberikan pertolongan di saat yang paling susah. Sekarang saya ketemu orang baik seperti Bapak. Tadi selama 12 jam transit di Abu Dhabi, ada ibu-ibu dari Palu yang sangat baik mendampingi dan memberi saya makanan. Dan yang lebih penting lagi, selama 2,5 tahun bekerja di Arab Saudi, saya terjaga dari segala macam keburukan.”

Liputan Islam (LI): “Memangnya keburukan apa, Bu?”

MA: “Ah, Bapak mah kayak yang enggak tahu saja. Kan ceritanya sudah sangat terkenal. Sudah banyak diberitakan. Saya bahkan sebenarnya sudah tahu sejak sebelum pergi ke Arab Saudi. Tapi karena terpaksa, dan juga karena tidak begitu percaya akan kebenaran cerita-cerita itu, saya tetap saja nekad pergi. Sekarang mah saya sangat percaya. Kehidupan di Arab Saudi itu bahkan lebih buruk dari yang dibayangkan oleh siapapun ….”

LI: Dulu awalnya bagaimana sampai bekerja di Arab Saudi?

MA: Terus terang saja, ini karena nafsu. Saya dulu pengen duit banyak. Saya sekarang nyesel. Dulu saya punya warung kecil-kecilan di desa. Suami saya buruh tani, sambil ngojek. Saya mengeluh soal uang ke suami. Pas ada teman yang mengajak ke Arab Saudi, saya mau saja.

LI: Suami mengizinkan?

MA: Tidak. Dia marah besar. Tapi saya tetap maksa dan menggugat cerai. Yah, itulah yang namanya hawa nafsu. Saya sekarang betul-betul nyesel. Padahal kalau dipikir-pikir lagi, suami saya itu baik pisan. Soal ekonomi, tetangga saya juga banyak yang susah kayak saya…

[MA lalu bercerita tentang lika-liku kekisruhan rumah tangganya yang menyertai pengurusan keberangkatannya ke Arab Saudi.]

LI: Pekerjaan Ibu selama di Arab Saudi apa saja?

MA: Saya disuruh mengurus dua orang perempuan tua, kerabat dari majikan saya, Babah ‘A’. Yang satu usianya di atas 70 tahun. Kami semua memanggilnya Jeddah. Yang satunya lagi mendekati 60 tahun, dia perawan tua. Kami memanggilnya Mamah. Saya mengurusi makanan mereka, mencuci dan menyetrika baju, dan membersihkan rumah.

LI: Berapa bayaran Ibu?

MA: Bulan-bulan pertama, saya dapat 800 Riyal per bulan (dengan kurs saat ini,  sekitar Rp2,4 juta) Tapi, itu terus naik. Bulan terakhir, gaji saya 1.800 Real (+ Rp5,4 juta). Bahkan, saya ditawari sampai 2.500 Real (Rp 7,5 juta). Tapi saya enggak mau.

LI: Wah, besar juga. Kenapa Ibu enggak mau?

MA: Keinginan saya cuma satu, pulang. Kumpul lagi sama suami, anak, dan cucu. Saya sudah tidak kuat lagi di Arab.

LI: Memangnya Ibu mengalami peristiwa apa? Kekerasan? Pelecehan?

MA: Oh, tidak. Alhamdulillah, majikan saya sangat baik. Tapi sering dimarahi. Orang Arab itu kan memang gampang marah. Tapi teu nanaon lah (tidak apa-apa). Kalau cuma marah-marah sih, di Indonesia juga kan memang banyak majikan yang suka marah-marah.

LI: Lalu, apa bikin Ibu nggak betah di Arab Saudi?

M: Saya tidak tahu. Yang jelas, saya tidak bahagia. Rasanya sangat membosankan. Yang saya lakukan dari hari ke hari itu-itu saja. Saya juga terkurung. Tidak pernah pergi ke luar rumah.

LI: Jadi, selama 2,5 tahun ini Ibu selalu di dalam rumah?

M: Iya. Tentu kecuali ketika hajian tahun kemarin. Saat itu kan selama sepuluh hari saya bisa ke Mekah, Arafah, dan Mina. Senang sekali rasanya.

LI: Kenapa tidak boleh keluar rumah? Apakah dilarang sama majikan?

M: Oh, bukan. Memang aturan hukumnya seperti itu. Perempuan kan memang dilarang keluar rumah, kecuali didampingi laki-laki muhrimnya. Jadi, selama saya bekerja di rumah itu, saya tak pernah tahu apa itu bagalah (kedai). Yang belanja kan memang laki-laki.

***

Paradoks Muhrim ala Arab Saudi

Aturan hukum di Arab Saudi bahwa perempuan hanya boleh keluar rumah jika didampingi muhrimnya, merupakan paradoks. Orang-orang Arab Saudi menyebut ini adalah aturan Islam. Banyak ulama yang menggugat faham ini. Akan tetapi, mereka tetap bergeming dengan pendapat mereka. Yang pasti, aturan ini dengan sendirinya banyak dilanggar oleh mereka sendiri. Coba perhatikan dua hal berikut ini.

Kepala BNP2TKI, Jumhur Hidayat dan Menteri Tenaga Kerja Arab Saudi,Adel Muhammad Fakieh

Kepala BNP2TKI, Jumhur Hidayat dan Menteri Tenaga Kerja Arab Saudi,Adel Muhammad Fakieh

Pertama, masalah visa. Pemerintah Arab Saudi mencoba menerapkan konsep ini melalui aturan pemberian visa haji dan umrah hanya kepada perempuan yang disertai muhrimnya. Bisakah konsisten? Jelas tidak. Para penyelenggara haji dan umrah sudah sangat pandai memanipulasi data muhrim, sehingga secara lahiriah, sepertinya aturan itu terpenuhi. Padahal, sebenarnya aturan itu tidak bisa dipenuhi. Lalu, masih masalah visa, bagaimana dengan visa kerja bagi para TKW (Tenaga Kerja Wanita)? Bagi para TKW, tidak ada aturan kewajiban soal disertai muhrim. Kenapa TKW dikecualikan?

Kedua, masih terkait dengan TKW, yaitu masalah status mereka di Arab Saudi. Saat ini, mereka “dikurung” di dalam rumah majikan mereka masing-masing dengan alasan tidak boleh keluar rumah kecuali didampingi muhrim. Tapi, coba perhatikan, sebenarnya “rumah” para TKW itu yang mana? Yang di Indonesia atau yang di Arab Saudi? Jelas hukum syar’i menyatakan bahwa rumah mereka itu sebenarnya yang di Indonesia. Dengan demikian, saat ini, para TKW yang “dikurung” di dalam rumah majikan itu pada dasarnya “sedang berada di luar rumah”. Artinya, mereka di luar rumah tanpa didampingi muhrim (karena muhrim para TKW itu adalah para suami (karena banyak di antara mereka sudah bersuami), atau para ayah, saudara, yang tinggal di Indonesia).

(bersambung ke Bagian Kedua)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL