tkw di arab saudi

tkw di arab saudi (foto:whatindonews)

Liputan Islam berkesempatan mewawancarai seorang mantan TKW asal Tasikmalaya dan menemukan kisah yang sangat menyedihkan dari Tanah Suci. Wawancara ini kami tulis dalam tiga bagian (Baca Bagian Pertama)

LI: Ibu 2,5 tahun terus-menerus di dalam rumah? Seperti dipenjara, dong?

MA: Bisa dibilang begitu.

LI: Inikah yang membuat Ibu tidak betah?

MA: Saya kira siapapun pasti tidak akan betah. Saya sih agak mendingan, majikan saya baik. Kalau yang lain, ya Allah, saya pasti ikut nangis kalau lagi jadi tempat curhat teman-teman saya itu.

LI: Ada yang curhat ke Ibu? Jadi, bisa kontak sama teman-teman sesama TKW?

MA: Iya.

LI: Dari mana Ibu bisa dapat nomor kontak teman-teman Ibu?

MA:  Terkadang dikasih sama agen yang secara berkala datang mengontrol. Atau, terkadang saya dapatkan nomor-nomor itu saat saya nelepon ke Indonesia. Keluarga saya terus ngasih tahu nomor-nomor kontak beberapa teman saya.

LI: Jadi, kalau nelpon tidak dilarang, ya?

MA: Tidak. Yang penting jangan mengganggu pekerjaan. Nelpon itu harus bayar sendiri. Saya seringnya beli paket yang 29 Riyal per pekan. Ini satu-satunya hiburan saya. Tapi kadang malah jadi hati tambah sedih juga, kalau obrolan sama mereka membicarakan hal-hal yang menyedihkan.

LI: Memangnya apa yang mereka alami?

MA: Ya, seperti yang selama ini sudah sering kita dengar. Ada yang gajinya sangat kecil; atau gajinya ditahan. Ada yang pekerjaannya sangat banyak, sampai tidak ada waktu buat istirahat. Ada yang diharuskan terus-menerus menggunakan klorok sampai tangannya melepuh.

LI: Apa itu klorok?

MA: Itu cairan cairan pemutih. Orang Arab kan pakaiannya kebanyakan putih-putih. Kalau pake klorok terus, dan tidak pakai sarung tangan saat mencuci baju, kulit tangan mereka betul-betul ‘habis’.

aksi teatrikal dalam demonstrasi  dukung Ruyati (tkw di Arab Saudi (foto:vivanews)

aksi teatrikal dalam demonstrasi dukung Ruyati (tkw di Arab Saudi (foto:vivanews)

LI: Kabarnya ada yang sampai disiksa. Betul?

MA: Oh, iya. Ada juga yang disiksa, menjadi pelampiasan kemarahan majikannya. Padahal, majikannya itu marahnya sama orang lain. Sampai di rumah, kemarahannya itu dilampiaskan dengan memukuli pembantu.

LI: Ada yang –maaf— sampai diperkosa?

MA: Mungkin ada. Tapi teman-teman yang saya kenal sih tidak ada yang curhat soal diperkosa. Lagian, kalau soal ini sih, saya kira kesalahannya ada pada dua pihak. Para TKW teman-teman saya juga bejat-bejat.

LI: Maksudnya?

MA: Kebanyakan Orang Arab kan memang hidung belang. Itu kita semua sudah tahu. Tapi teman-teman saya juga sangat memanfaatkan hal ini untuk mendapatkan uang sebesar-besarnya dalam waktu secepat-cepatnya.

LI: Maksud Ibu, teman-teman Ibu itu ada yang melacurkan diri?

MA: Bukan ada lagi, banyak! Mereka sendiri yang menyediakan diri untuk dijadikan sebagai objek nafsu orang-orang Arab.

LI: Kenapa?

MA: Uangnya memang sangat besar. Bayangkan, ada teman saya yang secara berkala bisa mengirim uang ke keluarganya 3.500 Rial per bulan (Rp 10 juta). Padahal, dia baru tiba di Arab Saudi empat bulan yang lalu. Kebanyakan yang seperti itu yang berasal dari umrohan.

LI: Apa maksudnya umrohan?

MA:  Ada dua cara agar bisa bekerja di Arab Saudi. Pertama yang resmi seperti saya. Kedua yang tidak resmi. Mereka datang ke Arab Saudi dengan berpura-pura menjadi jamaah umroh. Tapi, setibanya di Arab Saudi, mereka lalu ditampung oleh mafia untuk menjadi tenaga kerja haram. Nah, kelompok kedua ini suka disebut umrahan. Dari kelompok kedua inilah banyak muncul wanita-wanita nakal.

LI: Itu kerjaan utama mereka, atau kerjaan sampingan?

MA: Biasanya, mereka mengatakan bahwa pekerjaan melacur itu hanya sampingan. Tapi, mereka jelas sangat menikmati yang sampingan ini.

LI: Jumlah mereka banyak?

MA: Sangat banyak. Sepanjang yang saya tahu, kebanyakan teman telepon saya yang berasal dari kelompok umrohan punya profesi seperti itu.

LI: Masak, sih? Ibu yakin?

MA: Kalau ditanya yakin atau tidak sih, ya susah jawabnya. Saya kan memang tidak menyaksikan sendiri. Saya cuma tahu dari obrolan-obrolan mereka sama saya. Tapi, masak sih mereka bohong? Untuk apa coba mereka bohong? Lagipula itu kan sudah tersebar di yutub [YouTube].

LI: Di YouTube? Maksudnya?

MA: Iya. Coba bapak cari di yutub soal TKW Arab Saudi. Pasti yang muncul gambar dan video bejat mereka.

LI: Wah, kok Ibu tahu YouTube? Apakah di Arab Saudi ibu internetan?

M: Saya tahunya dari obrolan teman-teman saja. Saking seringnya diobrolkan, jadinya saya tahu.

LI: Ibu tidak menasehati mereka?

MA: Sudah sangat sering. Tapi, mereka cuma ketawa cekikikan. Malah mereka balik nawarin ke saya agar juga ikut cara mereka. Naudzu billah min dzalik!

LI: Lho, bukannya usia ibu sudah cukup tua?

MA: Ah, orang Arab mah tidak peduli sama usia, kalau sudah terkait orang Indonesia. Banyak kok, teman-teman saya yang suka melacur, padahal usianya di atas saya. Tetap saja laku.

LI: Barangkali itu hanya terjadi di Thaif, tempat Ibu bekerja…

MA: Tidak! Thaif malah sedikit. Teman-teman saya itu kan tidak hanya yang tinggal sekota saja, melainkan di seluruh kota Arab Saudi.

LI: Kota mana yang paling banyak kasusnya?

MA: Yang paling sering diobrolin sih Jedah sama Mekah.

 

Cerita ibu MA terlihat bersesuaian dengan kisah yang ditulis blogger bernama Amama Ali yang bekerja di Qatar. Dia menulis hitung-hitungan berikut: penghasilan TKW biasanya hanya 800 riyal per bulan (2 juta), lalu setelah bekerja selama 24 bulan, mereka pulang ke tanah air dan langsung bisa membeli rumah, sawah, atau motor. Padahal uang 800 riyal per bulan itu masih dipotong banyak kebutuhan (membeli hape, baju, mengirim uang bulanan ke kampung, dll). “Jadi, darimana uang untuk membeli tanah dan sawah itu?” tanya Ali. Dari berbagai pengalaman empirisnya di Qatar, Ali mengungkap, banyak TKW Indonesia yang bekerja ‘sampingan’. (Selengkapnya bisa dibaca di sini) . Wartawan Republika, Ikhwanul Kiram juga pernah melaporkan adanya pelacuran di Arab Saudi. Menurutnya,itulah sebabnya ada sebutan ‘Siti Rahmah Khamsah Riyal’ (harga perempuan Indonesia adalah 5 Riyal).

Namun kini pertanyaannya: bukankah Arab Saudi pemerintahan yang berhaluan Islam, penjaga Tanah Suci, bahkan menjadi “kiblat fatwa” sebagian muslim Indonesia? Mengapa berbagai kebejatan moral terjadi di negeri itu?

(bersambung ke Bagian Ketiga)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL