assad rtpLiputanIslam.com – Dalam beberapa waktu terakhir, beberapa media Barat melakukan telah melakukan wawancara komprehensif dengan Presiden Suriah Bashar Al-Assad. Setelah Foreign Affair, BBC yang terkenal dengan reputasinya sebagai media pro-pemberontak juga turut mewawancarai Assad. Lalu pada awal bulan ini, stasiun televisi Portugis (RTP) juga melakukan hal serupa. Apa saja yang dibahas dalam wawancara kali ini, berikut laporan selengkapnya, seperti dilansir Syrian Arab News Agency, 5 Maret 2015.

RTP: Beberapa hari kemudian, genap 4 tahun lamanya sejak protes dimulai dari Suriah untuk menentang Presiden Bashar al Assad. Sejak saat itu telah terjadi pembantaian. Lebih dari 220.000 korban jiwa telag melayang dan 4 juta orang mengungsi. Kemunculan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) mempuat situasi menjadi lebih suram. Bagaimana Anda menggambarkan kondisi Suriah hari ini, Tuan Presiden?

Bashar al-Assad (BA) : Mari saya mulai dengan mengomentari jumlah yang Anda sebutkan tentang korban jiwa di Suriah, yang mencapai 220.000 jiwa. Jumlah ini adalah yang disebutkan oleh media-media Barat, dan angka tersebut berlebihan. Barat selalu membesar-besarkan angka di Suriah. Sebenarnya, masalah ini bukan tentang apakah mereka berjumlah ratusan ribu atau puluhan ribu. Korban tetaplah korban. Pembunuhan tetaplah pembunuhan, dan terorisme tetaplah terorisme. Hal ini juga bukan tentang angka-angka yang ditunjukkan pada grafik, melainkan tentang keluarga yang kehilangan anggotanya, kehilangan orang terkasih, kehilangan kerabat. Ini adalah bencana yang kami hadapi di Suriah.

Krisis ini telah mempengaruhi setiap bagian di Suriah, terlepas darimana mereka berasal, apakah dari kelompok yang berafiliasi (dengan pemberontak-red) atau dari pihak yang setia pada pemerintah Suriah.

Krisis ini mempengaruhi mata pencaharian, makanan, obat-obatan, perawatan medis, ataupun hal-hal mendasar seperti pendidikan. Ratusan rumah sakit hancur, ribuan sekolah hancur, puluhan atau ratusan ribu siswa tidak bisa bersekolah. Kondisi ini menciptakan habitat subur bagi tumbuhnya terorisme dan esktremisme. Namun, meskipun dihadapkan pada kesulitan ini, Suriah bertekad untuk terus memerangi terorisme, membela negara dan melawan hegemoni.

RTP: Suriah bukanlah lagi sebuah negara yang berkuasa penuh saat ini. Tentara Suriah tidak mengontrol semua perbatasan, dan pasukan koalisi internasional juga terbang di langit Anda dengan alasan adanya entitas yang berbeda. Bisakah disebut bahwa Suriah telah kehilangan banyak hal atau telah berakhir?

BA: Anda tidak bisa berbicara tentang akhir Suriah ketika rakyat bersatu di belakang pemerintah dan militer untuk memerangi terorisme, dan kami masih memiliki lembaga yang tetap bekerja. Kami masih memberikan subsidi, masih membayarkan gaji, bahkan di daerah-daerah yang dikuasai teroris.

RTP: Apakah Anda mengirimkan uang?

BA: Tepat, kami mengirimkan gaji, karena mereka adalah karyawan dan mereka memiliki gaji sendiri. Kami juga mengirimkan vaksi ke daerah-daerah untuk anak-anak.

RTP: Jadi Anda bekerjasama dengan ISIS?

BA: Tentu tidak. Kami mengirimi mereka gaji, dan kami berurusan dengan warga sipil yang menjadi mediator teroris. Pada akhirnya, semua persyaratan dasar ini mampu mencapai daerah-daerah tersebut. Jadi, kita tidak bisa berkata ‘akhir Suriah’. Sebenarnya, kami juga tidak bisa disebut ‘negara gagal’. Tetapi jika Anda ingin berbicara tentang sesuatu yang berbeda dengan apa yang Anda sebutkan dalam pertanyaan Anda, maka sesungguhnya telah terjadi pelanggaran terhadap wilayah udara Suriah yang dilakukan oleh pasukan koalisi, kelompok pendukung teroris, ataupun yang melakukan proxy di daerah.

RTP: Dan di perbatasan.

BA: Ini adalah kegagalan sistem internasional yang direpresentasikan oleh Dewan Keamanan PBB, yang seharusnya bertindak untuk memecahkan masalah, melindungi kedaulatan wilayah suatu negara dan mencegah perang. Sebenarnya, PBB telah gagal. Jadi, apa yang kita lihat sekarang adalah kegagalan PBB: gagal melindungi warga negara internasional termasuk Suriah, Libya, Yaman dan negara-negara lainnya.

RTP: Tapi Anda juga gagal. Tentara Suriah juga gagal. Karena banyak orang Kristen yang diculik baru-baru ini di kawasan utara. Peran Tentara Suriah sebagai tentara nasional adalah melindungi setiap warga negara.

BA: Sebenarnya, peran Tentara Suriah sebagai tentara nasional adalah melindungi setiap warga negara, terlepas dari apapun affiliasinya, agamanya, sekte, etnis dan sebagainya. Jika Anda menyatakan ini, maka saya menjawab iya. Kami ingin dan kami berharap bahwa Tentara Suriah akan menolong setiap warga negara sejak awal krisis.

Namun kendala utama mengapa Tentara Suriah tidak bisa melakukannya, termasuk menolong orang-orang Kristen yang beberapa hari lalu diculik ISIS, disebabkan karena dukungan tanpa batas yang diberikan oleh Barat dan negara-negara di kawasan kepada teroris.

RTP: Saat ini kita melihat bahwa semua upaya untuk mengadakan konferensi perdamaian telah gagal. Hal yang masih kita miliki sampai saat ini, adalah berbicara tentang perundingan. Dengan cara apa kita memecahkan kebuntuan ini, Tuan Presiden?

BA: Apakah yang Anda maksudkan adalah perundingan Jenewa?

RTP: Jenewa 1, Jenewa 2, dan inisiatif dari Rusia semuanya berujung pada kegagalan.

BA : Solusinya adalah politik, tetapi jika Anda ingin duduk bersama seseorang atau pihak yang tidak berpengaruh di lapangan, maka hal ini hanyalah sebuah pembicaraan untuk menuju perundingan. Kami tidak bisa memilih pihak (yang diajak berunding) di Jenewa. Mereka ditunjuk oleh Barat, Turki, Arab Saudi dan Qatar. Kami tidak berdialog dengan kelompok oposisi di Suriah.

Anda benar, jika kami ingin berdialog, maka seharusnya kami berdialog dengan oposisi Suriah, atau mitra Suriah, atau rakyat Suriah yang mewakili Suriah, dan bukan mewakili negara-negara lain. Jadi, apa yang terjadi di Jenewa bukanlah aturan yang harus kami patuhi.

RTP: Tetapi, Anda mengatakan bahwa Anda menerima untuk berdialog dengan oposisi, atau….?

BA: Tentu saja, oposisi yang bekerja untuk Suriah, yang membela negaranya, yang merupakan warga Suriah dan merepresentasikan Suriah…

RTP: Yang mencakup dalam pemerintahan Suriah?

BA: Tentu tidak, melainkan oposisi yang bekerja untuk rakyat Suriah, yang tidak terkait dengan negara ataupun pemerintah.

RTP: Jadi, Anda tidak memasukkan Syrian National Coalition(SNC)?

BA: Saya tidak mengecualikan siapapun asalkan mereka merepresentasikan Suriah. Saya berbicara tentang kriteria. Siapapun, pihak manapun yang memenuhi kriteria ini, maka kami bisa menganggapnya sebagai oposisi. Jika koalisi hasil bentukan Barat atau negara lainnya, kami tidak bisa menganggapnya sebagai perwakilan Suriah. Mereka tidak mewakili rakyat Suriah. Suriah tidak bisa menerimanya.

RTP: Tapi apakah Anda dapat berdialog dengan mereka atau tidak?

BA: Sebenarnya, sebagaimana yang telah kami ikuti sejak awal krisis, kami tidak membiarkan adanya serangan balik (di kemudian hari). Kami mencoba setiap kemungkinan untuk menjadi solusi atas krisis agar tidak memberi peluang bagi siapapun untuk mengatakan, “Jika mereka tidak melakukan ini, maka hal ini yang akan terjadi.”

Jadi, kami membahas sebuah solusi bahkan dengan SNC, meskipun kami tahu bahwa mereka tidak mewakili Suriah. Mereka juga tidak memiliki pengaruh di wilayah Suriah, tidak memiliki pengaruh pada militan, pada teroris, atau dengan siapapun yang terlibat dalam masalah di Suriah.

RTP: Jadi Anda mengatakan bahwa Free Syrian Army tidak memiliki pengaruh di lapangan? Bahwa hanya ISIS dan Al-Nusra yang berpengaruh di lapangan?

BA: Bahkan Obama mengatakan bahws bahwa, “Oposisi moderat adalah fantasi.” Sebagian besar masyarakata internasional juga sudah tahu bahwa yang mereka sebut sebagai oposisi moderat, atau yang lazim disebut FSA, mereka memiliki begitu banyak nama lain, dan semua itu hanyalah fantasi.

Sebenarnya, ada sosok yang mengendalikan arena terorisme di Suriah, baik yang dilakukan oleh ISIS, Al-Nusra ataupun faksi lainnya yang lebih kecil. (ba)

Next..

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL