assad rtpLiputanIslam.com – Dalam beberapa waktu terakhir, beberapa media Barat melakukan telah melakukan wawancara komprehensif dengan Presiden Suriah Bashar Al-Assad. Setelah Foreign Affair, BBC yang terkenal dengan reputasinya sebagai media pro-pemberontak juga turut mewawancarai Assad. Lalu pada awal bulan ini, stasiun televisi Portugis (RTP) juga melakukan hal serupa. Apa saja yang dibahas dalam wawancara kali ini, berikut laporan selengkapnya, seperti dilansir Syrian Arab News Agency, 5 Maret 2015. (Baca bagian pertama: Bashar al-Assad: Kami Siap Berdialog, Asal…)

RTP: Jadi, pada akhirnya, solusi untuk Suriah adalah solusi militer, dan bukan negosisasi damai.

Bashar al-Assad (BA): Tidak. Sebenarnya apa yang telah kami lakukan baru-baru ini, selama kami tidak mendapati adanya kelompok berpangaruh atas militan yang bisa kami ajak bernegosiasi, maka, kami berusaha untuk melakukan rekonsiliasi dengan kelompok militan di beberapa daerah, dan berhasil. Ini adalah solusi politik yang realistis. Sebenarnya, cara seperti inilah yang ditempuh untuk menghindari kontak senjata, yaitu dengan mengadakan pembicaraan dengan mereka untuk mengamankan wilayah.

RTP: Tentang perundingan. Anda telah melakukan Jenewa 1, Jenewa 2, dan inisiatif Rusia, dan semuanya berakhir sama. Apakah ada sebuah isu yang Anda tahu itu mungkin (ditemukan solusinya), namun tidak Anda bahas dengan mereka?

BA: Jika Anda ingin berbicara tentang apa yang terjadi di Moskow, maka kejadiannya berbeda dengan yang terjadi di Jenewa, karena mereka mengundang beberapa pihak oposisi. Kami tidak bisa berdialog dengan satu oposisi karena mereka berasal dari kelompok yang berbeda. Kami tidak menempatkan semua kelompok itu dalam sebuah keranjang yang sama. Ada diantara mereka yang mewakili Suriah, namun ada juga yang tidak mewakili siapapun. Jadi, hal itulah yang kami temukan saat diundang ke Moskow. Jadi langkah tersebut hanya awal dari dialog.

Tapi pada akhirnya, Anda tidak ingin berbicara tentang dialog melainkan tentang hasil di lapangan. Pertanyaannya adalah, kelompok oposisi mana yang dapat merepresentasikan Suriah dan memiliki pengaruh yang kuat di lapangan terhadap kelompok teroris sehingga bisa ‘menghemat’ darah Suriah?

Sampai saat ini kami belum mendapatkan jawabannya, karena mereka harus memiliki bukti. Kami memiliki tentara, dan tentara kami tunduk pada pemerintah. Ketika pemerintah memberikan komando, mereka akan mematuhinya. Tetapi bagaimana dengan pihak lain? Siapa yang mengontrol teroris? Itu pertanyaannya.

RTP: Anda hendak menunjukkan bahwa beberapa negara, seperti Perancis, tidak mengendaki keberhasilan konferensi perdamaian. Mengapa demikian?

BA: Sebenarnya Anda memiliki dua poin, atau katakanlah, dua alasan. Pertama tidak hanya terkait dengan Perancis, melainkan terkait dengan setiap pejabat yang terlibat dalam setiap propaganda dan agresi di Suriah selama empat tahun terakhir. Akhir perang ini akan membuka kedok pejabat tersebut di depan publik, apalagi di setiap negara selalu ada yang namanya opini publik. Saya tidak bermaksud menyinggung Arab Saudi dan Qatar, yang tidak terdapat opini publik.

Tapi pada umumnya, publik akan membuka kedok Anda dengan bertanya, “Revolusi apa yang Anda bicarakan? Bagaimana mungkin sebuah revolusi bisa gagal jika Anda didukung oleh Barat, negara-negara regional, uang, senjata, dan seterusnya. Anda menduga dia (pemimpin Suriah) adalah diktator yang membantai orang-orang baik, sehingga rakyat menentangnya. Negara-negara di kawasan regional dan Barat juga memeranginya, tetapi ia berhasil (bertahan). Maka hanya ada dua pilihan jawaban atas ini. Pertama, Anda berbohong kepada kami, dan kedua, Anda berbicara tentang seorang Superman. Tapi karena dia bukanlah Superman, melainkan hanya presiden biasa, maka artinya ia mampu bertahan selama empat tahun karena adanya dukungan publik. Mungkin bukan dukungan penuh atau mutlak dari rakyatnya, tetapi paling tidak, ia memiliki dukungan dari sebagian besar rakyat Suriah.”

Jadi, kebohongan ini yang akan dipertanyakan oleh publik di Barat dan negara-negara lainnya. Bagaimana tentang Arab Spring yang ternyata – bukan tentang bermekarannya bunga-bunga – melainkan tentang darah, pembunuhan dan kehancuran. Inikah Arab Spring yang Anda bicarakan?

Alasan yang lebih spesifik terhadap Perancis. Ini ada hubungannya antara Perancis dengan negara-negara Teluk. Mungkin karena mereka menghadapi masalah keuangan, saya tidak tahu apa sebabnya. Tentang masalah keuangan ini, saya tidak punya bukti apakah terkait dengan kepentingan pejabat Perancis atau kepentingan umum—namun pada akhirnya, kepentingan uang ini mendorong pejabat Perancis untuk menukar nilai-nilai kebebasan, persaudaraan, dan demokrasi, atau hal-hal lainnya yang biasa mereka khotbahkan, dengan petrodollar. Jadi saat ini, para pejabat Perancis dan berbagai pihak di Barat, sudah tidak mempraktekkan apa yang mereka khotbahkan lagi.

RTP: Tetapi sepertinya ada yang berubah. Anda memiliki anggota parlemen Perancis di sini. Apakah ini adalah kunjungan terorganisir, atau kunjungan dadakan?

BA: Tidak. Ini bukanlah sesuatu yang mengejutkan, karena mereka bukanlah delegasi pertama yang datang ke Suriah.

RTP: Delegasi Perancis?

BA: Perancis dan negara-negara lain. Berbagai jenis delegasi, aktivis, mediator dan beberapa pejabat datang untuk berurusan dengan kami di bawah meja…

RTP: Kedatangan mereka diatur oleh pemerintahan Anda?

BA: Ya, secara resmi dan terorganisir. Mereka memiliki jadwal untuk datang berkunjung.

RTP: Apakah diplomat Perancis juga?

BA: Kami memiliki kesan yang kuat, bahwa sebagian besar pemerintah atau para pejabat utama dalam pemerintahan, mereka tahu tentang hal ini, dan mereka tidak menentang.

RTP: Jadi, apakah mereka mengirimkan pesan?

BA: Tidak, mereka tidak mengirimkan pesan apapun. Mereka datang ke sini untuk melihat fakta di lapangan. Saya pikir hal itu adalah sebuah refleksi. Bukan hanya delegasi kali ini, delegasi yang datang ke Suriah sebelumnya dari berbagai negara, terutama dari Barat, merupakan cerminan tidak percaya dengan cerita dan narasi berbahaya yang diciptakan oleh pejabat di negaranya. Mereka ingin mengetahui kebenaran, saya artikan ini sebagai semacam bentuk kecurigaan atas propaganda Barat.

RTP: Jadi, adanya perubahan sikap ini mungkin karena beberapa pihak berpikir bahwa kendati buruk, namun mereka lebih memilih melakukan kesepakatan dengan Bashar al-Assad dibandingkan dengan berurusan dengan ISIS. Bukankah begitu?

BA: Saya tidak berpikir bahwa masyarakat umum akan berpikir tentang bagian yang kedua. Mereka berpikir tentang apa yang terjadi, tentang bagaimana segala sesuatu terjadi di Suriah. Mereka mengatakan demonstrasi damai, maka kami katakan bukan demonstrasi damai, karena demonstran ini, mereka membunuh polisi. Kemudian, mereka menjadi militan. Ya, kami katakan bahwa mereka adalah militan. Itu adalah terorisme. Kami katakan bahwa mereka adalah Al-Qaeda, tetapi mereka mengelak.

Jadi apapun yang kami katakan di awal, maka mereka baru akan mengatakannya di kemudian hari. Hal ini banyak menimbulkan kecurigaan di Barat. Mereka ingin memahami situasi ini. Mengapa kami dapat menyebutkan apa yang terjadi di Suriah pada awal waktu? Tentu saja, di Barat, para pelaku propaganda baik itu pejabat ataupun media, mereka melebihkan fakta yang ada. Mereka menuduh ISIS dan Al-Nusra diciptakan oleh Assad, dan semacamnya.

RTP: Tetapi Anda telah membebaskan banyak jihadis dari penjara dan akhirnya mereka bergabung dengan ISIS, dan menghendaki Negara Islam.

BA: Tidak, itu terjadi sebelum krisis. Mereka dihukum selama beberapa tahun, dan ketika masanya berakhir, mereka meninggalkan penjara. Kami memiliki lembaga peradilan di Suriah. [Catatan redaksi: Assad menegaskan bahwa adanya pembebasan tahanan dari penjara Suriah sudah sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku. Jika akhirnya mantan napi ini bergabung dengan ISIS di kemudian hari, maka hal ini bukanlah kesalahan di pihaknya.]

—–

Next…

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL