isis buccaLiputanIslam.com – Berbagai penelitian dan kajian telah dilakukan untuk menelusuri seluk beluk terbentuknya Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), kelompok teroris takfiri yang telah menimbulkan banyak petaka di Timur Tengah dengan korban utama Irak dan Suriah. Telah diteliti pula negara-negara mana saja yang telah mendukung dan membesarkannya karena berkepentingan dengan keberadaan organisasi pemuja kekerasan sedemikian rupa.

Beragam keterangan dan pendapatpun bermunculan. Belakangan, harian Inggris Guardian edisi Kamis (11/12) melaporkan bahwa sebagian besar gembong ISIS adalah orang-orang yang dulu pernah berada di bawah pengawasan tentara dan intelijen Amerika Serikat (AS) di Irak.

Sementara itu, penulis dan jurnalis senior Timur Tengah Abdul Bari Atwan dalam buku terbarunya menyatakan bahwa pemerintahan diktator Irak terguling Saddam Hossein adalah orang yang meletakkan batu pertama fondasi pembentukan ISIS.

Keterangan Guardian dalam artikelnya yang berjudul “ISIS: The Inside Story” (Kisah ISIS Dari Dalam) bisa jadi merupakan penjelasan yang paling mendekati fakta tentang asal muasal dan cikal bakal ISIS. Reportasi Martin Chulov ini berkisah tentang Kamp Bucca, penjara yang didirikan oleh pasukan AS di tengah di kawasan terpencil padang pasir di bagian selatan Irak pada tahun 2003.

camp bucca1

Para tahanan tidur di luar tenda mereka di kamp Bucca.

Di dalam penjara itulah sebagian besar gembong jaringan teroris al-Qaeda dan cikal bakal pemimpin ISIS ditampung sehingga Kamp Bucca menjadi titik awal proses pergerakan spektakuler kelompok-kelompok ekstrimis Wahabi/Salafi tersebut.

Seorang mantan tahanan camp Bucca yang menggunakan nama samaran Abu Ahmad mengatakan bahwa para tahanan di sana semula merasa takut, tapi tak lama setelah itu mereka menyadari bahwa keadaan di sana tidak terlalu buruk, dan bahkan menjadi kesempatan emas bagi mereka untuk berbuat sesuatu justru di bawah pengawasan tentara AS.

“Di Baghdad ataupun di tempat lain kami tidak bisa berkumpul seperti ini,” katanya dalam perbincangan dengan Chulov.

Pemuda itu dan rekan-rekannya merasa aman.

“Situasi di luar penjaralah yang justru sangat berbahaya, sedangkan di sini kami berada hanya sejarak beberapa meter dari pemimpin utama al-Qaeda,” imbuh pria itu.

Di penjara itu dia mengaku pertama kali berjumpa dengan Abu Bakar al-Baghdadi yang kini menjadi pentolan nomor wahid ISIS dan tercatat sebagai manusia yang paling berbahaya di muka bumi.

“Sejak awal para tahanan lain sudah menaruh perhatian kepadanya, tapi tak seorangpun tahu bahwa dia akhirnya menjadi pemimpin seperti ini,” kata pria yang menjadi salah satu pelopor berdirinya ISIS tersebut.

Dia menambahkan bahwa tentara AS juga sangat menghormati al-Baghdadi selama dia berada di dalam penjara.

“Dia sangat dihormati oleh tentara AS. Dia dapat mengunjungi orang-orang di kamp-kamp lain kapanpun dia menghendakinya, sedangkan kami tidak dapat berbuat demikian. Di saat itulah, dia membuat strategi baru di depan hidung mereka, dan itu ialah pembentukan ISIS. Seandainya tidak ada penjara di Irak maka tidak ada ISIS sekarang. Bucca adalah pabriknya. Ini telah membantu keterbentukan kami dan berdirinya ideologi kami,” paparnya.

Dari situlah bermula narasi terbentuknya ISIS, yakni ketika AS menemukakan sosok kharismatik al-Baghdadi yang berpengaruh besar di tengah para tahanan sehingga dapat mengatasi pertikaian-pertikaian yang terjadi di antara kelompok-kelompok yang bersaing di dalam kamp tahanan.

“Al-Baghdadi adalah sosok yang dikenal sangat tenang dan kharismatik. Ketika saya bertemu dengannya, saya mengetahui bahwa dia adalah figur penting, tapi saya tidak sampai menduga bahwa dia akan menjadi orang sedemikian penting.”

Sebagaimana dikisahkan Abu Ahmad dan beberapa pria lain yang bersamanya dalam kamp Bucca tahun 2004, al-Baghdadi memiliki cara tersendiri dalam berinteraksi dengan para tahanan. Menurut mereka, tentara AS memandangnya sebagai sosok andalan untuk mengatasi perselisihan antartahanan, dan dialah orang yang dapat membangun ketenangan di dalam kamp.

Al-Baghdadi dibebaskan pada bulan Desember 2004 setelah pihak sipir menganggapnya bukan orang yang berbahaya.

buku atwan

Buku karya kolumnis Timur Tengah Abdel Bari Atwan tentang asal usul ISIS serta kebuasan dan masa depannya.

Sementara itu, kolumnis terkemuka Timur Tengah Abdel Bari Atwan dalam buku terbarunya yang berjudul “Negara Islam (IS/ISIS); Akar-Akar, Kebuasan, Masa Depan” menyebutkan bahwa ISIS sengaja mengembangkan cara-cara kekerasan yang luar biasa atau “kebuasan” demi menakuti-nakuti dan menjatuhkan mental musuh-musuhnya.

Menurutnya, bukan AS yang mendirikan ISIS, “melainkan Saddamlah yang secara operasional, ideologis, dan logistik telah melakukan persiapan-persiapan bagi ISIS, entah secara kebetulan ataupun memang didasari perencanaan yang matang.”

Atwan berpendapat, ketika Saddam menyadari bahwa AS bermaksud menggulingkan pemerintahannya, dia segera mencari-cari jalan untuk mendirikan “entitas Islam” dan “jihad Islam” dengan tujuan terutama untuk melawan aksi pendudukan yang mungkin terjadi di Irak.

Insiatif Saddam ini, lanjutnya, sejalan dengan adanya gelombang baru gerakan jihadis Salafi yang mulai terbentuk sejak awak dekade 1990-an dan didukung oleh beberapa negara jiran Irak. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL