Media-SilentLiputanIslam.com — Sejak dua hari terakhir, linimasa dihebohkan oleh surat terbuka kepada Ustadz Arifin Ilham yang ditulis oleh Dina Y Sulaiman, seorang pengamat Timur Tengah yang juga merupakan kandidat doktor Hubungan Internasional Universitas Padjajaran.

Dina, melalui blog pribadinya Kajian Timur Tengah, mengungkapkan kegundahan hatinya atas seruan jihad Ustadz Arifin terhadap Syiah, yang dinilai, bisa memicu konflik horizontal dan membawa Indonesia seperti Libya dan Suriah. Seperti diketahui, kedua negara tersebut telah hancur lebur akibat perang yang tak berkesudahan.

Surat terbuka ini disambut positif oleh netizen, dari pantauan Liputan Islam, terakhir kali sudah dibagikan lebih dari 17.000 kali di media sosial. Ada juga media-media lain yang mempublikasi ulang, seperti: Republika Online, Inilah.com, dan Muslimedianews. Namun sayangnya, surat yang telah dipublikasi di Republika ataupun Muslimedianews, telah dihapus.

Surat Terbuka yang dimuat di Republika onlie, dan telah dihapus

Surat Terbuka yang dimuat di Republika online, dan telah dihapus

Surat Dina di Republika sebelum dihapus

Surat Dina di Republika sebelum dihapus

Saat di klik, seperti ini tampilan di Republika

Saat di klik, seperti ini tampilan di Republika saat ini

Surat ini dipublikasi juga oleh Muslimedianews (MMN) dan Inilah.com, tetapi oleh MMN, artikel ini juga dihapus. :)

Surat ini dipublikasi juga oleh Muslimedianews (MMN) dan Inilah.com, tetapi oleh MMN, artikel tersebut juga dihapus.

Bagi sebuah media online, banyaknya kunjungan pembaca merupakan sebuah keuntungan tersendiri. Berbagai artikel, dengan judul yang bombastis kerap dipakai demi menarik pembaca. Hal ini bisa dimengerti, karena tingginya traffic akan berpengaruh pada pendapatan iklan.

Maka, jika ditimbang dari sudut pandang bisnis, artikel surat terbuka untuk Ustadz Arifin Ilham tersebut tentulah menguntungkan, karena menduduki peringkat teratas dari Top Lima Terpopuler, alias paling banyak dikunjungi. Tapi, mengapa artikel itu dihapus? Mungkinkah, ada pihak yang meminta Republika untuk menghapus surat terbuka tersebut? Jika ada, lalu siapa?

Wajah Republika, Media Islam Indonesia

Sebagai salah satu media ‘Islam’ di Indonesia, Republika memberikan ruang khusus yang diisi dengan berbagai Kajian Islam. Sudah berlalu cukup lama, Republika memberikan kolom khusus bagi  3 ulama kondang, salah satunya adalah KH Athian Ali Dai.

Athian Ali menempati kolom khusus di Republika

Athian Ali menempati kolom khusus di Republika

Athian Ali, merupakan Ketua Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) yang sepak terjangnya dalam gerakan anti-Syiah memang sudah tidak perlu diragukan lagi. Dalam berbagai kesempatan, ia selalu menyerukan bahaya Syiah – yang menurutnya – merupakan sebuah aliran yang diciptakan untuk kepentingan Yahudi. Masjid al-Fajr, Bandung, sering digunakan sebagai tempat diselenggarakannya seminar ataupun deklarasi anti-Syiah. Di lokasi ini pula, seorang wartawan dari organisasi Ahlul Bait Indonesia, pernah dihajar beramai-ramai seusai meliput acara deklarasi.

Dari sekian banyak ulama-ulama termasyur di Indonesia, sebut saja; Prof Dr Quraish Shihab, Ketua Umum MUI Din Syamsuddin, Habib Luthfi bin Yahya, dll, ternyata Republika memilih memberikan kolom khusus untuk Athian Ali – yang begitu anti terhadap Syiah – sementara Republika sendiri mengetahui — Syiah merupakan mazhab yang sah di dalam Islam.

Siapa yang menyatakan bahwa Syiah adalah Islam? Perhatikan artikel-artikel Republika yang telah di screenshoot sebagai berikut:

1. Syiah Diminta Jadi Agama Baru, Kemenag: Itu Berlebihan

Klik untuk memperbesar

Klik untuk memperbesa

2. MUI: Belum Ada Fatwa Sesat Syiah

Klik untuk memperbesar

Klik untuk memperbesar

3. Azyumardi Azra: Tidak Diperlukan Fatwa Sesat Syiah

Surat Dina 6

Klik untuk memperbesar

4. Soal Syiah,Din: Butuh Kearifan dan Kebijaksanaan Semua Pihak

Klik untuk memperbesar

Klik untuk memperbesar

Sekarang kita bahas tentang isi dari surat terbuka tersebut. Dina, yang juga telah menulis buku Prahara Suriah, menyebut bahwa konflik Suriah sesungguhnya bukanlah konflik sekterian, melainkan lebih disebabkan karena kepentingan ekonomi, dan geopolitik. Pihak pemberontak Suriah – yang mengklaim sedang berjihad, sebenarnya tengah dimanfaatkan oleh aliansi Barat, Arab, dan Israel untuk menumbangkan Bashar al-Assad yang ‘keras kepala’. Dan, bagaimana posisi Republika dalam menghadapi konflik Suriah?

1. Miris! Pemberontk Suriah Hancurkan Masjid Imam Nawawi

Klik untuk memperbesar

Klik untuk memperbesar

Dalam artikel pada poin 1, Republika, menyebut Front al-Nusra sebagai kelompok pemberontak, yang menghancurkan Masdid Imam Nawawi. Namun oleh media ‘Islam’ seperti Arrahmah.com, Front Al-Nusra dianggap sebagai Mujahidin.

2. Hadapi ISIS, AS Latih Pemberontak Suriah

klik untuk memperbesar

klik untuk memperbesar

Kali ini, Republika menyebutkan bahwa Amerika Serikat (AS) melatih pemberontak Suriah. Pemberontak di sini adalah kelompok yang oleh AS dan sekutunya, disebut sebagai ‘moderat’.

3. Al Nusra Rusak Makam Imam di Suriah

Klik untuk memperbesar

Klik untuk memperbesar

4. Teroris Al-Nusra Rencanakan Tembaki Arab dan Barat Surat Dina 11 5. Kelompok Al-Nusra Tahan 150 Tentara Pembebasan Suriah

Klik untuk memperbesar

Klik untuk memperbesar

Dalam artikel pada poin 5, Republika mengungkapkan bahwa kelompok pemberontak dari Front Al-Nusra dan Tentara Pembebasan Suriah (FSA) telah saling bentrok satu sama lain.  Ulasan lengkapnya, telah ditulis di sini.

6. Asal Usul ISIS, AS Dinilai Tanam Benih Radikalisasi di Penjara Irak

Klik untuk memperbesar

Klik untuk memperbesar

7.Hamas Kecam ISIS karena Penggal 21 Penganut Kristen

Surat Dina 14

Klik untuk memperbesar

8. ISIS Kembali Bantai Suku Sunni Irak

Klik untuk memperbesar

Klik untuk memperbesar

Jika melihat isi artikel Republika terkait konflik Suriah, maka mudah untuk dipahami mengapa pada awalnya, Republika mempublikasi ulang surat terbuka Dina. Kondisi Suriah yang hancur setelah pemberontakan, keberadaan militan radikal yang membantai tanpa pandang bulu, yang menghancurkan makam para wali maupun masjid, dan sekaligus fakta bahwa mereka disokong oleh AS dan sekutunya, bisa dibilang telah sesuai dengan data-data yang diungkapkan oleh Dina.

Tetapi, mengapa artikel tersebut dihapus?

Hanya Republika yang mengetahui jawaban pastinya, dan kita, hanya bisa menerka-nerka. Jika ingin mencoba menerka, ini sangat mungkin berkaitan dengan adanya kolom khusus (dan artinya ada kerjasama) tokoh Anti-Syiah di Indonesia, KH. Athian Ali. Tentunya, sebuah kerjasama terbentuk atas dasar kesepakatan-kesepakatan tertentu. Akibatnya, di satu sisi, ada kebenaran yang ingin disampaikan, namun di sisi lain, ada sebuah ‘kerjasama’ yang harus tetap dijaga. Di sinilah, pembaca harus memahami dan memaklumi kegalauan Republika — sehingga mau tak mau — media itu memilih untuk menghapus sebuah artikel terpopuler. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL