Netanyahu dan AssadLiputanIslam.com — Kemesraan antara pasukan pemberontak Suriah dengan Israel sudah lama terkuak. Misalnya, dengan ditemukannya senjata-senjata berhiaskan huruf Hebrew di medan pertempuran, hingga kunjungan terang-terangan Perdana Menteri Israel, Netanyahu, ke rumah sakit di Golan tempat para pemberontak dirawat. (Baca: ISIS Gunakan Senjata Buatan Israel)

Pun taktala kelompok Jabhat Al-Nusra, militan yang beraffiliasi dengan Al-Qaeda menguasai Golan, ternyata Israel pun tetap aman. Dan surat kabar Israel,  Haaretz memastikan bahwa keberadaan militan tidak akan membahayakan Israel. (Baca juga: Mereka, Bekerja untuk Israel)

Jauh sebelum Al-Nusra berhasil menguasai Golan, pada Maret 2014, Haarezt  telah menegaskan ‘hubungan baik’ mereka dengan militan Suriah, melalui artikelnya yang berjudul “Report: Syrian opposition willing to trade Golan claims for Israeli military support”. Berikut kutipannya:

Oposisi Suriah bersedia untuk menyerahkan Dataran Tinggi Golan dengan imbalan uang tunai dan bantuan militer Israel, yang akan digunakan untuk memerangi Presiden Bashar Assad. Hal itu diungkapkan oleh pihak pemberontak Suriah, kepada harian Al Arab.

“Mengapa kita tidak bisa menjual dataran tinggi Golan (kepada Israel) padahal itu lebih baik daripada kehilangan Suriah dan Golan sekaligus,” kata Kamal Al-Labwani, seorang anggota terkemuka pemberontak Suriah.

Kelompok-kelompok militan yang didukung oleh negara Barat ini, menghendaki agar Israel memberlakukan zona larangan terbang di wilayah bagian selatan Suriah guna melindungi basis pemberontak dari serangan udara oleh Tentara Suriah.

Pasukan Suriah yang didukung kelompok perlawanan Hizbullah, telah berhasil mengontrol penuh Kota Yabroud. Kemenangan ini berarti jalur darat yang menghubungkan ibukota Damaskus ke Aleppo dan pantai Mediterania dibawah kendali Tentara Suriah.

Jatuhnya Yabroud, tempat benteng terakhir yang berada di dekat perbatasan Lebanon, akhirnya mematahkan jalur suplai logistik kepada pasukan pemberontak.

Meski hubungan yang terjalin antara Israel dan pemberontak Suriah dari berbagai faksi telah terkuak, namun Israel tanpa malu-malu menunjukkan kemunafikannya, melalui pernyataan resmi dari Israel terkait sikapnya kepada militan ISIS. Menteri Pertahanan Israel Moshe Ya’alon, menyerukan badan-badan intelijen dunia untuk bekerja sama memerangi organisasi teroris transnasional Irak dan Suriah atau ISIS. (Baca: Kemunafikan Israel)

“Untuk menghentikan dan mengatasi ISIS, kita bisa belajar dari peristiwa 9/11 bahwa harus ada kerja sama antara badan-badan intelijen dari seluruh dunia, untuk berbagi pengalaman dan melakukan kerjasama operasional,” ujarnya, seperti dilansir Arutz Sheva, 9 September 2014.

Sayangnya, meski realitas telah sedemikian jelas, hingga hari ini masih saja ada umat Islam yang terperdaya, dan mengira bahwa perang Suriah adalah jihad suci melawan tirani. (Disarikan dari Berita Harian Suriah)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL