Foto: Syrian Perspetive

Foto: Syrian Perspetive

LiputanIslam.com — Gemerlapnya Tel Aviv bermandikan cahaya yang berkilauan, tampak begitu kontras dengan kondisi Detroit, salah satu kota di negara bagian Amerika Serikat, Michigan. Akibat krisis, industri otomotif AS jatuh ke titik terendah sehingga Detroit banyak ditinggalkan warganya, dan bahkan sempat menjadi ‘kota hantu’ alias nyaris tak berpenghuni. Saat industri otomotif yang andalan tiba-tiba gulung tikar, maka kota yang mengandalkannya juga ikut kolaps.

Bisa dibilang Detroit hanya mengandalkan satu jenis pemasukan, yaitu dari sektor industri otomotif. Saat industri di kota ini mati kutu, maka mau tidak mau, nafas kota ini harus berhenti. Industri otomotif di Detroit bertumbangan satu demi satu; General Motors, Ford, dan Chrysler, akibat krisis global yang terjadi 2008 lalu. (Republika, 20 Jul 2013)

Yang mengherankan adalah, di tengah “matinya” salah satu kota di negaranya sendiri – Amerika Serikat sepertinya jauh lebih peduli kepada Israel. Bantuan tahunan  militer AS ke Israel telah meningkat  dari $ 2.400.000.000 menjadi  $ 3.100.000.000 pertahun hingga tahun 2017. Atas lonjakan ini, pejabat AS dan Israel telah membahas kebijakan bantuan militer AS ke Israel, dalam sebuah kesepakatan baru yang akan diperpanjang hingga tahun 2027.

Lalu, pada bulan Maret lalu Amerika Serikat dan Israel kembali menandatangani perjanjian sebesar $ 429.000.000 yang berasal dari  uang pembayar pajak di Amerika yang  akan ditransfer langsung ke Israel  untuk mendanai sistem rudal Iron Dome. (Liputan Islam, 11 Maret 2014)

Dalam mempertahankan eksistensinya, dan memenuhi berbegai kepentingan negaranya, Israel melakukan lobi kepada kepada pemerintahan Amerika melalui American Israel Public Affairs Committee ( AIPAC ), yaitu kelompok lobi pro-Israel. Kelompok ini memiliki jaringan yang sangat luas, dan sangat berpengaruh kepada kebijakan AS. Siapapun pemimpin atau pemegang posisi strategis di dalam tubuh pemerintahan, nyaris tak ada yang bisa terlepas dari pengaruh AIPAC [yang sering disebut The Lobby] – yang tentu saja, selalu diarahkan agar kebijakan yang diambil adalah pro-Israel.

Foto: http://anashell.com

Foto: http://anashell.com

Tidak hanya presiden dan anggota parlemen terpilih, tokoh-tokoh yangdiperkirakan akan menjadi calon presiden sudah dipengaruhi. Koran The New York Times (1987) pernah menyebut AIPAC sebagai basis kekuatan utama dalam menyusun kebijakan AS, terutama yang menyangkut masalah Timur Tengah. Kelompok kecil ini bahkan dikenal seenaknya mendikte — kalau perlu menjatuhkan bahkan menyingkirkan seorang presiden AS jika dianggap merugikan Israel. Sampai hari ini, The Lobby memiliki anggota sekitar 60 ribu yang bekerja untuk kepentingan Israel. Tidak ada satupun kebijakan AS tanpa melalui AIPAC hingga hari ini. (Hidayatullah, 14 April 2003)

Kebijakan luar negeri AS, seperti : meng-embargo Iran, atau menggelontorkan dana untuk mendukung pemberontakan Suriah – memiliki tujuan yang sama: mengamankan kepentingan Israel. Logikanya, untuk apa AS repot-repot ikut campur urusan dalam negeri negara lain — sementara rakyat di dalam negerinya tidak terurus dengan baik. Matinya Destroit sudah lebih dari cukup untuk menjawab, siapakah sebenarnya yang berada dibalik berbagai kebijakan anomali negeri Paman Sam. (ba/LiputanIslam.com)

 

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL