tiga remaja israelLiputanIslam.com — Dalam beberapa hari terakhir ini, beberapa media-media Barat dan Israel, semisal Usatoday, The Guardian, Times of Israel, kompak menurunkan artikel terkait penculikan tiga remaja Israel di Tepi Barat. Mereka mengutip pengakuan ‘tokoh’ Hamas bahwa pelaku penculikan adalah Hamas. Situs Islamtoleran.com juga ikut-ikutan melaporkan pernyataan tersebut.

Sebelumnya, Liputan Islam telah mengungkap bahwa penculikan itu dilakukan oleh kelompok militan Ansar al-Daulah al-Islamiyyah fi Bait al-Maqdis yang terindikasi berafiliasi dengan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah atau ISIS. (Baca: Inilah, Pelaku Penculikan Tiga Remaja Israel). Harap dicatat, bahwa militan ini telah mengakui bahwa mereka yang melakukan penculikan tersebut.

Nah jika kini tiba-tiba saja ada sosok yang ‘ujug-ujug’ mengaku sebagai pemimpin Hamas, dan menyatakan bahwa Hamas yang melakukan penculikan itu, seharusnya disikapi dengan kritis, bukan langsung ditelan mentah-mentah. Minimal, kita harus mempertanyakan, siapakah sosok yang mengaku diri sebagai ‘pemimpin Hamas’ tersebut?

Namanya, Saleh Arouri (SA), menetap di Turki. Uniknya, media-media ini tidak kompak dalam memberikan predikat kepadanya. The Guardian, menyebut SA sebagai ‘Veteran Hamas’, Times of Israel menyebutnya sebagai ‘deported terrorist’ sedangkan Daily Mail menyebutnya sebagai ‘a long-serving militant’. Bandingkan, dengan predikat yang diberikan kepada Khaleed Meshal, semua media pasti kompak menyebutnya sebagai Kepala Biro Politik Hamas.

Jadi, siapa SA sebenarnya?

Dari pernyataan media-media tersebut diatas, bisa disimpulkan bahwa SA adalah salah satu pejuang Hamas, namun telah meletakkan senjata, menetap di Turki, dan karenanya, ia disebut veteran Hamas.

Di Indonesia, kita menemukan banyak veteran, dan hal itu tidak terdengar aneh. Belanda dan Jepang, sudah enyah dari Indonesia, tidak ada lagi peperangan. Namun bagaimana dengan Palestina? Apakah perjuangan mengusir Zionis Israel sudah berakhir, sehingga harus meletakkan senjata dan memilih berleha-leha di Turki?

Bukankah selama ini kita kerap menemukan, bahwa pejuang-pejuang Hamas berperang hingga titik darah penghabisan, dan mereka gugur sebagai syuhada dalam membela tanah air tercinta?

Tentu, meletakkan senjata dan hidup tenang juga merupakan hak. Siapapun bisa melakukannya. Hanya saja, setelah cuci tangan dari perjuangan dan memilih meninggalkan Palestina, apakah ia masih layak disebut ‘Pemimpin Hamas’? Mikir dong !

Lebih aneh lagi, ia mengeluarkan pernyataan itu kepada media-media Barat corong Zionis, yang memang ‘bertugas’ membuat propaganda untuk mendeskreditkan perjuangan Hamas. Jika pejuang-pejuang Indonesia di jaman penjajahan menggunakan bambu runcing untuk melawan Belanda – dan kini kita mengenangnya sebagai pahlawan, lalu mengapa Hamas tidak boleh melawan Israel, yang juga menjajah negerinya? Mengapa kelompok yang membela negaranya harus disebut teroris? Mikir dong !

Ella Devianti, seorang jurnalis yang pernah meliput ke Gaza, juga mengungkapkan keprihatinannya atas artikel yang diangkat situs Islamtoleran.com, yang tak lebih dari perpanjangan propaganda Barat dan Israel. (Baca: Kisah Perjalanan ke Gaza)

“Pertama, saya sedih dengan website Islam Toleran ini. Judulnya toleran tapi isu-isu yang diangkat lebih sering provokatif dan memecah belah,” sesalnya.

“Kedua, saya pernah liputan ke Gaza dan bertemu dengan pasukan khususnya Hamas. Warga Gaza tidak pernah merasa takut atau benci dengan Hamas. Mereka semua cuma benci pada satu: Israel,” lanjutnya.

Ella menyebutkan, di Gaza terdapat banyak organisasi, seperti Jihad Islam, sayap militer Hamas Brigade Al Qassam, juga  Ansar al-Daulah al-Islamiyyah fi Bait al-Maqdis. Friksi internal dalam kelompok tersebut juga cukup banyak.

“Jadi sekecil apapun wilayah Gaza, tetap membuka peluang adanya penyusup yang membawa paham ISIS dan menginfiltrasi salah satu organisasi militan yang sah di sana,” terangnya.

Tapi yang pasti, lanjut Ella, sesaat setelah insiden penculikan, langsung ada klaim dari Ansar al-Daulah al-Islamiyyah fi Bait al-Maqdis yang terindikasi berafiliasi dengan ISIS mengaku sebagai penculik tiga remaja Israel tersebut.

Jadi, mohon maaf bagi Islam Toleran. Islam memang seharusnya toleran, tetapi tidak untuk mentolerir penjajahan, kezaliman dan penindasan. Di hadapan itu semua, kita harus bangkit melawan. Demikian. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL