Pks Piyungan 1LiputanIslam.com — Bagi yang memahami bagaimana struktur di dalam agama Kristen, banyak hal yang harus dipertanyakan dari artikel yang dirilis oleh PKS Piyungan, yang berjudul,”Murtadkan 126 Muslim di Jakarta, Pastur Steven Akhirnya Bersyahadat.”

Berikut cuplikan artikel dari PKS Piyungan;

Steven Indra Wibowo disebut sebagai seorang Frather atau setingkat Pastur di kalangan gereja Katolik di Paroki Jakarta Utara. Ia mengaku telah membawa 126 orang Muslim berpindah agama ke Katolik.

“Tugas saya ketika itu memberikan konseling, memimpin misa, dan mengajar filsafat,” ujar pria kelahiran 1981 ini.

Hidayah Allah Subhanahu Wata’ala menghampiri Steven pada tahun 2000. Dua kalimat syahadat diikrarkannya di sebuah pesantren di Serang, Banten.

Dan berikut ini adalah klarifikasi dan pertanyaan, yang harus dijelaskan oleh PKS Piyungan, sebagaimana dikutip dari Nong Paul.
1. Paroki itu hanya berlaku dalam struktur Gereja Katolik.

2. Frater itu bukan setingkat Pastor karena Frater masih dalam tahap pendidikan.

3. Frater tidak mengajar filsafat. Sehingga jika Steven mengajar filsafat, di sekolah filsafat mana? Mengingat pendidikan filsafat Katolik hanya ada di Driyakara, sehingga jika memang benar, tentu namanya terdaftar.

4. Frater adalah sebutan orang yang masih belajar, dia tidak mengajar dan ada tahapan lain yang untuk menjadi Pastor.

5. Setiap orang Katolik yang ada di dunia, tercatat rapi nama dan alamatnya. Ada file khusus di lingkungan, paroki keuskupan serta KWI. Jadi Steven berasal dari paroki mana dan dipermandikan di gereja mana, karena pasti akan dapat di telusuri.

6. Frater tidak memimpin misa, karena memimpin misa itu hanya hak Pastor/Romo/Pater.

7. Steven disebut mengajar konseling, konseling apa yang dia ajarkan, dan dimana? Seorang Frater hanya bisa mengajar di SMP sebagai guru agama.

pks piyungan 2

Berita PKS Piyungan

8. Yang paling aneh, ia disebutkan lahir pada tahun 1981, dan pada tahun 2000 ia telah masuk Islam. Artinya, ia beragama Islam sejak usia 19 tahun. Namun dia menyatakan bahwa ia telah pernah memimpin misa.

Alur yang benar seharusnya:

1981 lahir, umur 6 tahun masuk SD (1987~1982),

umur 13 masuk SMP (1992-1995),

umur 16 tahun masuk seminari/ setingkat SMU (1995-1999),

umur 19 masuk 1 tahun persiapan (2000),

umur 20 masuk 1 tahun rihani/novis (2001),

umur 21 masuk kuliah filsafat (4 tahun), 2 tahun lanjut teologi.

Seharusnya, sekitar usia 27 tahun baru ditasbihkan menjadi imam dan boleh memimpin misa. Jadi bagaimana bisa ia memimpin misa di usia 19 tahun?

Di dalam kolom komentar sendiri, banyak yang menghujat lantaran informasi yang disampaikan oleh PKS Piyungan ini dinilai hoax.

Bruno Bond, menulis, “Tukang bohong, Frater itu masih calon Pastur untuk agama Katolik, tidak boleh dan tidak diperkenankan memimpin misa! Lalu, mengapa  PGI dibawa-bawa kalau Katolik (PGI itu Majelis Gerejanya orang Kristen Protestan). Anda ini mantan Katolik Frater gadungan, atau yang nulis artikel cuma mau buat sensasi? Saya mualaf tulen ngga jelekin agama orang lain. Bohong besar kalau memurtadkan orang Islam sebanyak 126, memang semudah itukah Muslim dimurtadkan?”

Sigit Azzam, menulis, “Ada yang sedikit janggal dengan tahun kelahiran dan tahun menjadi mualafnya. Saya sendiri kelahiran 1981, kalau tahun 2000 menjadi mualaf berarti sekitar umur 19. Dan ia memurtadkan 126 orang sebelum umur 19  dong? Apa mungkin umur di bawah 19 tahun sudah menjadi Frater? Apa ngga sekolah si Steven ini? Terimakasih.”

Ya, biarlah PKS Piyungan yang menjawab. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL