stock-photo-israel-and-syria-flag-painted-on-brick-wall-177902162LiputanIslam.com — Sebenarnya, serangan Israel terhadap Suriah bukanlah hal yang baru. Dalam konflik Suriah yang telah berjalan hampir empat tahun lamanya, Israel berkali-kali telah menyerang Suriah, dengan berbagai alasan.

Alasan yang sering digunakan adalah bahwa Israel menargetkan senjata yang ditransfer oleh Suriah kepada Hizbullah. Sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu, bahwa Israel akan akan mengambil tindakan militer guna mencegah adanya transfer senjata kepada kelompok perlawanan di Lebanon tersebut.

Lalu pada tanggal 7 Desember 2014, Israel kembali menyerang Suriah, sebagaimana yang dikabarkan Syrian Arab News Agency, ”Israel telah melakukan agresi dengan menarargetkan dua wilayah Suriah, sebuah serangan yang sangat mencolok.”

Kemudian laporan Reuteres menunjukkan, bahwa sasaran jet Israel adalah bandara pertanian di Dimas dan gudang ekspor-impor yang berada di Damaskus. Kedua tempat ini berada dalam kendali Tentara Suriah, dan merupakan lokasi penting untuk menjaga ketersediaan supplay makanan untuk rakyat Suriah.

Serangan Israel, hampir memiliki pola yang sama dengan serangan dari aliansi Amerika Serikat. AS mengklaim menargetkan ISIS, namun yang dibom adalah kilang minyak, dan fasilitas publik lainnya. Israel pun demikian. Mengklaim menargetkan senjata canggih yang hendak ditransfer ke Hizbullah, namun faktanya, yang dibombardir juga fasilitas publik.

Apa saja yang dilakukan Israel untuk membantu pasukan teroris di Suriah?

Pertama, menyediakan persenjataan. Sejak tahun 2012, ketika Tentara Suriah berhasil mengalahkan kelompok pemberontak di kota Homs, berbagai bentuk senjata dari Israel behasil mereka sita. Diantaranya: RPG, mortir, senjata anti – tank, dan senapan. Video lengkapnya  bisa dilihat dihttp://www.youtube.com/watch?v=Jv87JAoAyZI

Contoh lainnya pada tahun 2013, saat  Tentara Suriah dan Hizbullah melakukan operasi pembebasan kota al-Qusayr, kembali ditemukan senjata-senjata dengan huruf Hebrew yang digunakan oleh para pemberontak Suriah. (Al-Alam, 8 Juni 2013).

Kedua, membantu merawat teroris yang terluka. Situs pemberitaanal-Ansaar Kamis (2/10/2014) melaporkan bahwa sejauh ini Rezim Zionis Israel sudah menghabiskan dana sebesar 10 juta Dolar Amerika Serikat untuk merawat para teroris dan pemberontak Suriah yang menderita luka-luka akibat pertempuran.

Menurut al-Ansaar, besaran dana itu dilaporkan oleh koran Israel Yediot Aharonot (YA) namun untuk menutupi dukungan Israel kepada para teroris Suriah itu YA tentu tidak menyebutkan bahwa orang-orang yang dirawat itu adalah para anggota milisi bersenjata, melainkan menyebut mereka sebagai warga sipil yang terluka akibat pertempuran. Mereka di rawat di empat rumah (RS) sakit, yaitu RS Zeif di kota Safed, RS Nahariya di kota al-Jalil (Galilee), dan RS Boriya di kota Tabariya, dan RS Rambam di kota Haifa.

Ketiga, terjun langsung dengan memborbadir tempat-tempat penting di Suriah. Sebelum agresi pada 7 Desember, Israel telah pernah mengebom beberapa tempat di Suriah, seperti Bandara Internasional Damaskus, Syrian Scientific Studies and Research Center, gudang senjata dan markas militer Suriah di Latakia.

Keempat, menyerang Hizbullah di Lebanon. Seperti diketahui, pasukan perlawanan Hizbullah akhirnya terjun langsung dalam kancah pertempuran di Suriah, yang menjadi salah satu faktor penting dalam mengubah peta pertempuran. Dengan melakukan serangan ke Lebanon, Israel tengah memberikan pesan kepada Hizbullah, bahwa campur tangan mereka untuk membantu pemerintahan Bashad Al-Assad, harus dibayar mahal karena wilayah Lebanon sendiri akan menjadi target selanjutnya.

Dengan segala daya upaya Israel membantu kelompok pemberontak — atau teroris di Suriah, masih adakah antara kita yang percaya bahwa konflik di Suriah bertujuan untuk menegakkan khilafah? (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL