foto: indopos.com

foto: indopos.com

Oleh: Nurul Rahmawati*

Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh,

Halo, Pak Anies! Senang rasanya begitu tahu bahwa seorang Anies Baswedan ditunjuk Jokowi menjadi Menteri Pendidikan Dasar, Menengah, dan Kebudayaan di republik ini. Dari dulu, saya ngefans sama Pak Anies. Sejak program Indonesia Mengajar yang Bapak inisiasi itu, saya yakin betul, bahwa kita harus mengubah paradigma tentang edukasi. Pinjam istilahnya Jokowi, memang harus ada revolusi mental. Mentalnya siapa? Tentu mental semua orang yang terlibat di dunia pendidikan.

Karena itu, manakala baca kutipan Pak Anies yang beredar di berbagai media online, saya lega sekaligus penuh asa. Bapak bilang begini, “Yang harus direvolusi mental adalah pendidiknya. Bukan anak yang menjadi fokus, tapi gurunya. Saya melihat dalam konteks pendidikan, jangan lihat anak-anak kita sebagai botol yang harus diisi sehingga harus diisi materi sebanyak-banyaknya.”

Wah, benar sekali itu Pak. Saya lihat sendiri, betapa anak saya—masih kelas 2 SD—gempor tatkala berhadapan dengan materi dan tugas-tugas sekolah. Belum selesai polemik seputar perkalian (ingat 4×6 atau 6×4 kan Pak?), anak saya dijejali dengan seabrek tuntutan yang lain. Menghafalkan perkalian angka 1 sampai 9, menghafalkan pembagian, mencerna logika pembagian dengan kalimat yang saya sendiri juga tidak paham, belum lagi tugas-tugas seputar keterampilan yang butuh upaya tidak sederhana. Bayangkan, pak Anies. Masih kelas 2 SD! Apalagi, anak saya kerap disengat rasa takut bin was-was saban ke sekolah. Kenapa? Gurunya galak. Duh. Atau, jangan-jangan, para guru menjadi lebih galak lantaran stres dengan beragam tuntutan Kurikulum 2013? Ah, entahlah. Yang jelas, saya saja sebagai orang tua murid ikut kelimpungan menghadapi semua materi yang tersaji di buku paket anak saya.

O iya. Bicara soal buku tema, sampai detik ini, saya belum bisa merasakan dampak positif dari kurikulum 2013. Saya tahu, niat awalnya brilian. Ingin mengholistikkan semua materi pelajaran dalam satu tema, supaya anak-anak lebih memahami satu aspek (sesuai tema) secara komprehensif. Misalnya, ketika belajar tentang “Keluargaku”. Siswa sekaligus berlatih Bahasa Indonesia (dengan menyebutkan nama-nama anggota keluarga), Matematika (menghitung jumlah anggota keluarga), Kesenian (menyanyi lagu tentang keluarga) dan seterusnya. Bahkan apabila “metode holistik” ini diaplikasikan secara tepat, anak-anak akan terlatih untuk mengoptimalkan ilmu yang ia punya.

Namun, sayang sekali, Pak Anies. Terkadang niat brilian semata, kerap menemui distorsi dan gatot alias gagal total di level eksekusi. Tidak banyak guru yang bisa menjiwai “ruh” Kurikulum 2013, kalaupun memang K-13 ini punya “ruh”. Yang saya tahu, dari berbagai berita plus curhat para guru, Kurikulum 2013 ini terlampau prematur dan terkesan dipaksakan. Para guru belum tuntas mengikuti pelatihan, eh, ternyata anak didik sudah dijejali beragam materi yang gurunya saja tidak paham. Terbayang amburadulnya kan?

Karena itu, saya sepakat dengan kalimat Pak Anies, bahwa proses belajar anak-anak tidak bisa disamakan dengan berlari sprint. Proses belajar anak-anak kita laksana lari marathon yang stabil dan berkelanjutan. (Tempo.co 11 November). Tak perlulah menjejali anak dengan materi yang segabruk. Justru, yang paling penting anak harus merasa belajar (termasuk bersekolah) adalah kegiatan yang asyik, seru, menyenangkan dan membuat mereka “kecanduan”. Termasuk PR bagi jajaran kementerian Pak Anies, bagaimana membuat sekolah menjadi laboratorium hidup dan kehidupan bagi generasi muda. Supaya mereka tidak hanya berorientasi mengejar nilai. Tapi, para siswa itu belajar untuk menjadi calon pemimpin bangsa yang berkarakter kuat. Punya jiwa kepemimpinan yang hebat, mandiri, berdaya juang, berempati, sekaligus tahu dan paham akan tujuan hidup mereka.

Kita sama-sama tahu Pak Anies, sungguh luar biasa tantangan yang menghadang anak-anak kita. Mereka dihadapkan pada zaman yang serba relatif. Benar atau salah, relatif. Penting atau tidak, relatif. Baik atau buruk, relatif. Anak-anak kita, setiap saat senantiasa berada pada perangkap syahwat duniawi yang mengerikan. Patut disayangkan apabila hidup mereka terombang-ambing tak tentu arah, karena sedari awal mereka tidak tahu untuk apa mereka hidup? Karena di rumah maupun di sekolah, mereka tidak pernah mendapatkan transfer “bekal hidup” secara memadai. Sehingga yang ada di benak mereka adalah, yang penting saya belajar yang baik, kerja yang baik, dapat uang yang banyak, saya bisa hidup kaya dan bahagia, that’s it! Maka, pendidikan kita hanyalah melahirkan insan-insan yang egosentris. Yang merasa bahwa dirinyalah sebagai center of universe, serta tidak mau tahu dengan ketimpangan hidup serta penderitaan sesama.

Dan, sungguh, saya luar biasa khawatir Pak. Karena anak-anak calon pemimpin bangsa ini sedang mengalami krisis teladan. Nyaris sulit kita temukan satu sosok yang bisa menjadi benchmark bagi mereka. Kalaupun ada orang-orang hebat itu, maka keberadaannya seolah tenggelam dengan berbagai berita busuk yang beterbangan di sekitar kita. Seputar perebutan kekuasaan, tentang isu-isu yang berkelindan dan (sekali lagi) serba relatif kebenarannya. Kepala saya nyaris meledak, saking berhamburannya berbagai gosip, selentingan, serta kontes adu kekuasaan yang tak kenal episode tamat. Duh.

Dan, tawa ria anak saya ketika bermain bareng sahabat-sahabatnya di depan kompleks rumah, adalah “obat penenang” bagi saya. Bahagia rasanya manakala menyaksikan mereka lebur dalam kehangatan permainan “sungguhan”. Main sepeda, sepakbola, petak umpet secara “nyata”. Karena, dalam beberapa momen, anak-anak saya terjebak pada permainan masa kini yang hanya bermodal sentuh-geser saja. Oh. Sangat tidak humanis. Sangat tidak natural. Karena itulah, Pak Anies, mungkin materi “permainan tradisional sederhana” bisa dimasukkan sebagai materi pemanasan sebelum anak-anak masuk ke dalam kelas. Dengan main gobaksodor sekitar 10 menit misalnya, anak-anak sudah diliputi keceriaan, belajar kerjasama dalam tim, strategi untuk menang tanpa harus membuat pihak lain sakit hati. Nah, ketika suasana hati sudah berbunga-bunga, maka mereka lebih siap menerima pelajaran.

Saya tahu Pak Anies sibuk. Sangat sibuk. Semoga surat ini bisa Bapak baca sebagai salah satu bahan diskusi ketika Bapak menggodok pola pendidikan terbaik bagi kandidat pemimpin masa depan.

Wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

*penulis adalah blogger parenting, wali murid kelas 2 SD

Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini, silahkan dikirimkan ke redaksi@liputanislam.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL