Oleh: Muhammadun *

29 September adalah peringatan Hari Sarjana. Peringatan ini menjadi refleksi serius kaum sarjana di tengah tantangan yang sangat serius: retaknya ruang publik. Laju perkembangan teknologi informasi seharusnya menjadikan sarjana sebagai basis kemajuan peradaban bangsa. Tetapi, fakta akhir-akhir ini mengabarkan ruang publik makin retak dan sarjana mengalami kebingungan. Terbukti berbagai pertentangan ideologis justru menjadi bahan tertawaan di media sosial. Kaum sarjana seolah kehilangan kesaktiannya, bahkan menjadi bahan tertawaan dan olokan sesama.

Ruang publik kita sekarang dipenuhi ujaran kebencian. Ujaran kebencian di ruang publik selain menumpulkan nalar juga mendatangkan konflik sosial. Ruang publik menjadi menakutkan karena manusia sudah hilang rasa percaya dengan sesama. Teologi kasih sayang sudah digadaikan dengan kepentingan sesaat; yang ditampilkan justru kebencian, kekerasan, dan menghakimi orang lain.

Suburnya gerakan radikalisme menjadi tanda bahwa ruang publik dipenuhi gerak terorisme yang mengancam. Radikalisme menjadi epifeni terburuk paling tragis yang terjadi di langit milenium abad ke-21 sekarang ini. Hampir manusia sejagat disibukkan dengan gelombang terorisme yang terus menyeruak hampir di sekujur tubuh benua di dunia ini. Amerika Serikat (AS) menjadi negara pertama yang terlibat paling serius dengan skandal dan tragedi terorisme.

Tragedi 11 September 2001 menjadi tonggak hadirnya terorisme yang menggempur ruang publik tanpa celah sedikit pun. Jaringan terorisme akhirnya menggelembung luar biasa; bukan saja AS yang waspada, tetapi seluruh manusia jagat raya terlibat keras untuk menghadangnya. Tak terkecuali Indonesia yang mendapatkan serangan bertubi-tubi para teroris. Indonesia sungguh amat rawan karena tragedi terorisme selalu datang menghantui publik, dan mengancam keselamatan manusianya.

Arundhati Roy dalam Power Politics (2001: 131) mengatakan bahwa isu terorisme bukanlah tentang kebaikan melawan keburukan, atau Islam melawan Kristen, melainkan tentang perang memperebutkan ruang publik. Isunya mengenai mengakomodasi keberagaman, dan pemenuhan hasrat hegemoni baik ekonomi, militer, bahasa, agama, maupun budaya. Ekologis mana pun akan memberi tahu kita mengenai berbahaya dan rapuh sebuah kultur tunggal. Dunia hegemonik itu laksana pemerintah tanpa oposisi sehat. Ia menjadi sejenis rezim diktator. Ibaratnya menaruh dunia tanpa kantong plastik sehingga memutus pernapasan. Suatu ketika, kantong plastik itu akan pecah.

Kultur tunggal yang hegemonik yang dipegang kaum teroris merupakan akibat “ulah nakal” yang diagungkan dunia modern. Globalisasi selain menyeberangkan cita-cita (migration of dream), juga menyeberangkan tragedi (migration of nightmare). Walaupun awalnya terorisme menggema di AS dan Afghanistan, tetapi karena kultur global yang tunggal, akhirnya terorisme juga hadir bukan saja di ruang geografis yang terbatas, melainkan melampaui struktur geografis yang dihuni penduduk bumi.

Efek domino politik menjadikan mereka mendapatkan akses politis yang luar biasa di berbagai belahan dunia. Karena mendapatkan serangan yang juga hegemonik dari AS, kaum teroris akhirnya juga menjadi isu global yang mengancam seluruh penduduk dunia. Gerakan radikalisme inilah yang menjadi tantangan serius kaum sarjana, karena terjadi keretakan antarsesama lewat berbagai ujaran kebencian yang banjir di mana-mana.

Berkaca pada Bung Karno

Di tengah retaknya ruang publik, kaum sarjana harus berkaca kembali kepada Bung Karno. Sepanjang hayatnya, Bung Karno berdiri tegak di tengah pergulatan ideologi yang bertarung dalam merumuskan ideologi negara. Ada kaum nasionalis, islamis dan komunis. Ketiga kelompok ini justru dijadikan Sukarno sebagai potensi besar untuk membangun Indonesia. Ia merumuskan Pancasila untuk menggandeng ketiganya dalam merumuskan Indonesia.

Sampai kini, Pancasila menjadi kesepakatan bersama, final bagi ideologi negara. Semua bisa berdiri sejajar dalam bingkai Pancasila dan NKRI. Peristiwa itu terjadi pada 1 Juni 1945, saat para pendiri bangsa melakukan sidang dalam Badan Penyelidikan Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Dalam dunia internasional, Bung Karno mampu menjadikan Indonesia sebagai pelopor bersatunya negara Asia dan Afrika. Kesuksesan Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada 1955 membuat kaum imperialis saat itu ketakutan. Keberanian Sukarno dalam aksi Ganyang Malaysia, perebutan Irian Barat, pengutukan Amerika Serikat dan Inggris, bahkan menyatakan keluar dari keanggotaan PBB saat itu, sangat membantu Indonesia dalam meneguhkan dirinya sebagai negara yang berdaulat. Sehingga Sukarno semakin dicintai oleh rakyatnya, di samping menjadi salah satu daftar hitam pemimpin dunia bagi Amerika Serikat.

Tak bisa dipungkiri bahwa Sukarno merupakan cermin keteladanan bagi generasi bangsa ini. Indonesia di tengah pergulatan abad ke-21 ini mestinya bergerak dengan keteladanan para pendiri bangsa, termasuk Sukarno. Dengan segala kekurangan dan keterbatasan yang dimilikinya, Sukarno telah mampu membuktikan dirinya sebagai Bapak Bangsa. Yang bagi dirinya sendiri, perjuangan itu tidak ada matinya, revolusi itu tidak pernah berhenti, sehingga sudah menjadi keharusan bagi setiap anak bangsa untuk ikut serta dan menjadi bagian dari perjuangan, pembangunan, dan revolusi.

Menurut Prof. dr. Soetaryo (2008), ajaran dan pemikiran Sukarno sangat relevan bagi Indonesia dalam meneguhkan kembali Pancasila. Ini karena; pertama, NKRI adalah negara besar, dan kedua, Indonesia saat ini tengah dihadapkan pada “VOC wajah baru”, yakni neoliberalisme dan fundamentalisme pasar. Ajaran Sukarno pun ia pahami bukan hanya sebagai ajaran yang tanpa dasar, melainkan merupakan ajaran yang ilmiah karena memiliki dimensi ontologis, epistemologis, dan aksiologis.

Saatnya kaum sarjana berperan meneguhkan demokrasi yang sehat dan mencerdaskan. Di samping itu, kaum sarjana harus mau menjiwai kembali internasionalisme yang selalu diagungkan Sukarno agar Indonesia mampu “berbicara” banyak di pentas dunia. Aktualisasi nilai-nilai Pancasila harus dirumuskan kembali dalam kesadaran nasional kita, sehingga bangsa ini kembali menjiwai falsafah bangsa yang lahir dari nilai luhurnya sendiri. Itulah yang selalu didengungkan Sukarno untuk membangun Indonesia yang berdikari (berdiri dengan kaki sendiri). (LiputanIslam.com)

*pengajar di STAI Sunan Pandanaran Yogyakarta, disalin dari Detik, 2 Oktober 2017.

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL