Peringatan Revolusi Islam Iran

Peringatan Revolusi Islam Iran

Tak terasa, 36 tahun sudah berlalu pasca meletusnya Revolusi Islam Iran. Di usianya yang semakin dewasa, Iran telah memantapkan diri sebagai pemain utama di kawasan regional, dan berbagai tekanan dari luar terus menghadang. Iran dihadapkan pada berbagai persoalan krusial, seperti; jatuhnya harga minyak dunia, yang berdampak buruk pada kondisi ekonomi. Iran juga masih harus terus melakukan negosiasi atas program nuklir, yang hingga hari ini belum benar-benar mencapai titik temu.

Selain itu, Iran dihadapkan pada upaya pelemahan-pelemahan lainnya, seperti kemunculan kelompok-kelompok teroris transnasional yang beroperasi di Suriah dan Lebanon. Mampukah Iran menjawab tantangan ini?

Waqar Rivzi, jurnalis dan kritikus asal Pakistan dalam artikelnya yang berjudul “Iran’s Islamic Revolution: An indisputable reality” mengungkapkan, bahwa Iran, dengan ideologi Islamnya, tetap akan sanggup melewati permasalahan ini. Mengapa demikian? Berikut ulasan selengkapnya, seperti dikutip dari Press TV, 8 Februari 2015;

Fakta-fakta Revolusi Islam yang terjadi di Iran yang tak terbantahkan. Sebuah perlawanan rakyat yang berlangsung damai, berhasil menumbangkan raja diktator yang disokong oleh Amerika Serikat (AS). Sejak tahun 1979, hingga saat ini, Republik Islam Iran telah terbentuk, dan berhasil melewati tantangan waktu demi waktu.

Berbagai laporan menyatakan, sesaat setelah Revolusi Islam meletus, AS dengan penuh percaya diri meyakini bahwa negara ini akan tetap bekerjasama dan mendukung, bahkan mengampuni kejahatan-kejahatan AS yang dilakukan di masa lalu terhadap rakyat Iran. AS, seperti diketahui, telah membina hubungan baik dan tunduk atas kepentingan Shah Reza Pahlevi.

Namun yang terjadi, tidak demikian.

Keteguhan bangsa Iran pasca-revolusi pada prinsip kemerdekaan, dan menjadi titik penentu dalam kaitannya dengan imperialis, kolonialis dan pola pikir di Barat. Iran sekarang bebas, menolak untuk tunduk terhadap ideologi Barat.

Hal inilah yang membuat AS tidak berdaya. Mereka tidak mampu mengontrol kebijakan yang dibuat Iran, baik di dalam maupun luar negeri. Yang paling membuat AS marah adalah adanya keinginan mereka menguasai Iran, tetapi tidak mendapatkan tempat ‘pijakan’ lantaran kebijaksanaan struktur kepemimpinan Iran.

Ketidak-tundukan Iran adalah hal yang rasional, jika melihat bahwa negara-negara lain seperti China, Rusia, Venzuela, dll, juga tidak bermain-main dengan aturan kolonialis dan imperialis. Sikap independen dari negara-negara tersebut harus diapresiasi.

Namun, satu perbedaan utama di Iran adalah, bahwa sistem kehidupan, moral dan agama dapat digunakan untuk mengatur masyarakat, ataupun menjalankan fungsi dan kebijakannya dengan dunia luar. Hal inilah yang membingungkan para pemikir terkait demokrasi Islam. Bagaimana bisa, sebuah sistem demokarasi yang tunduk pada prinsip-prinsip Islam, mampu berdiri tegak dan perkasa dengan tetap memegang nilai-nilai dasar Islam — dan didukung oleh mayoritas rakyatnya?

Mereka, yang Kontra-Revolusi

Iran telah mampu mencapai tonggak ini tanpa menggunakan kekerasan, dan telah berhasil merawat/ melestarikan momentum. Iran sukses menghambat jalannya aktor eksternal yang berusaha mengontrol pemerintah.

Ketika dunia mendapati fakta tak terbantahkan bahwa Iran telah mandiri, berdiri di atas dua kaki sendiri, maka, mulai diberlakukan upaya untuk menekan Republik Islam Iran. Mulai dari perang Iran-Irak, pembentukan Gulf Cooperation Council ( yang pada dasarnya bertujuan untuk melawan ideologi Islam Iran). Lalu MKO, sebuah organisasi teror anti Republik Islam, dihapuskan dari daftar terroris. Upaya tersebut telah terpadu dan sistematis.

Dan masihkah Barat — yang menjadi pembela kelompok anti-Revolusi Islam menyangkal bahwa Iran merupakan duri bagi langkahnya? Mereka telah melancarkan kampanye massif di media, dan organisasi global, untuk mendeskreditkan Iran di setiap kesempatan.

Bahwa Iran telah berhasil menahan semua tekanan ini – adalah suatu hal yang tak kalah ajaib. Publik bisa melihat contoh revolusi Mesir yang hanya sesaat memberikan harapan bagi dunia Arab. Lihatlah, begitu cepat revolusi itu dimentahkan kembali. Dan ini merupakan bukti betapa sulitnya mengalahkan tekanan yang datang dari berbagai penjuru. Husni Mubarak, seorang pria yang begitu dibenci atas sikap diktatornya, kini berada di ambang kebebasan. Hal ini menjadi pelajaran bagi rakyat Mesir, yang dihadang berbagai masalah untuk mewujudkan revolusinya.

Revolusi Islam, yang Tak Terulang Kembali

Kini, bisa disimpulkan bahwa tidak akan ada lagi sebuah Revolusi/ Kebangkitan Islam di tempat lainnya, atau minimal menyerupai  kebebasan dan demokrasi yang terjadi di Iran. Tidak akan ada yang berhasil.

Bahkan negara-negara regional tidak akan mendukung hal tersebut, sebagaimana para raja-raja diktator di kawasan justru mencemaskan, jika suatu saat rakyat mereka akan menatap Iran lalu berkata, “Mengapa tidak kita lakukan juga seperti apa yang dilakukan Iran? Mengapa kita tidak bisa hidup sebagai negara bebas merdeka – yang berkuasa penuh atas diri sendiri? Mengapa kita tidak bisa membuat kebijakan sendiri tanpa hasutan dan tekanan dari luar untuk melakukan tawar menawar?”

Kita cukup melihat rakyat Bahrain, yang telah menuntut reformasi/ pergantian rezim. Dan kejadian itu tentulah menjadi ketakutan bagi para diktator Arab Saudi, ataupun Uni Emirat Arab. Mereka paham betul hal ini.

Revolusi bukanlah gerakan statis yang berakhir usai kekuasaan diambil alih. Revolusi akan terus berproses, untuk meraih, menyukseskan, dan mempertahankan cita-cita revolusi.

Hal yang sama berlaku untuk Republik Islam Iran, yang telah hidup di alam demokrasi Islam sejak tahun 1979. Mereka telah melewati peperangan, demonisasi, dan pembunuhan. Perlawanan ekonomi Ayatullah Khamenei menekankan pada satu langkah penting, yang saat ini tengah dibangun. Dan rakyat Iran, memastikan peranannya.

Untuk itulah, kemampuan Iran untuk menjaga independensi – dari kekuatan dunia yang hendak mengontrolnya, merupakan kunci bagi keberlangsungan cita-cita Revolusi Islam. Iran tidak akan tunduk. Atas sikap ini, Iran harus merasakan banyak hal yang tidak menyenangkan. Namun di atas semua itu, yang paling utama adalah kepentingan negara. (ba/LiputanIslam.com)

—-

Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini. Silakan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL