Anekdot cara mujahidin seang israel. Klik untuk memberbesar

Anekdot cara mujahidin seang israel. Klik untuk memberbesar

Oleh: Putu Heri

Saya menemukan anekdot wawancara seorang jurnalis dengan kelompok teroris yang banyak tersebar di jejaring sosial, sebagai berikut:

 ( J=Jurnalis, M=”Mujahidin”)
J : Bagaimana cara ISIS menaklukkan Israel ?
M : Serang dulu Irak. Lalu ke arah barat yaitu Suriah. Walaupun keliatannya mereka shalat, tapi kami tahu hati mereka. Mereka itu shalat bohong-bohongan. Sebenarnya mereka antek Israel. Jadi lebih berbahaya dan jauh lebih kafir.
J : Serang Israelnya kapan ?
M : Ntar dulu. Balik arah dulu ke timur yaitu menyerang Iran.
J : Kan Israel ada di arah barat Suriah ?
M : Ga masalah. Kan Iran itu Syiah, dan Syiah lebih kafir dari Israel. Tapi karena Iran negara kuat. Kita terus lompat saja 7.000 km ke timur menyerang Indonesia.
J : Kok gitu ?
M : Karena Indonesia antek Israel dan Amerika, sekuler, komunis, dan penyembah Garuda gepeng. Jadi, Indonesia lebih kafir dari Amerika dan Israel.
J : Hmmmm. Lalu serang Israelnya kapan ?
M : Iya, kami balik arah 8.500 km ke barat lagi yaitu Lebanon. Serang dulu Lebanon karena Lebanon antek Israel. Antek Israel ini lebih kafir dari Israel.
J : Lalu Israel kapan ?
M : Aaah…Bodo amat. Bantai dulu Hamas karena tidak mau berbaiat. Lalu serang ke arah barat, Mesir. Mesir ini juga antek Amerika dan Israel. Mesir jauh lebih kafir dari Zionis.
J : Lalu serang ke Israel kapan?
M : Ntar dulu. Serang anteknya dulu yaitu Libya. Dari Libya ke Tunisia. Hancurkan Tunisia dulu Coy. Kan Mesir dan Tunisia antek-anteknya Israel. Oh iya, Pakistan kan belom berbaiat sama ISIS? Lagipula, Pakistan kan anteknya Israel. Balik lagi ke arah timur 5.000 km ke Pakistan.
J : Lalu ke Israelnya kapan ?
M : Ntar dulu. Kan belum ke Malaysia yang juga antek-antek Amerika. Antek Amerika dan Zionis ini lebih kafir dari orang kafir sendiri.
J : So ?
M : Setelah kita bantai kaum yang ngaku- ngaku Muslimin padahal Syiah, sekuler, dan komunis, maka berhasil perjuangan kita.
J : Serang Israelnya kapan ?
M : Kita dakwah kepada mereka dengan baik-baik. Kita tunjukkan kepada mereka bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin.
J : !@#$%^&*()_+J

*****

Entah siapa yang memulai pada awalnya, namun kini anekdod tersebut telah beredar luas. Memang, selama ini kerap dipertanyakan, jika memang ISIS (dan kelompok-kelompok teroris lainnya) memerangi orang kafir, lalu mengapa mereka berdiam diri atas kekejaman yang dilakukan oleh Zionis Israel kepada bangsa Palestina? (Baca: Mengapa Menyeberang Terlalu Jauh?)

Salah satu argumen yang mereka sebarkan adalah: front ‘Mujahidin’ akan memerangi pendukung, atau antek, atau siapa saja yang dianggap memiliki keterkaitan dengan Israel. Salah satunya, ketika pemerontakan Suriah meletus, mereka mengklaim harus menyerang Suriah terlebih dahulu, untuk kemudian membebaskan Palestina. Namun ironisnya, negara Suriah yang mereka serang, justru merupakan negara yang paling terdepan melawan Israel, yang ditandai dengan tidak adanya kesepakatan damai antara Suriah- Israel.

Dan kini, salah satu faksi pemberontak yaitu Jabhat Al-Nusra, telah berhasil merebut kawasan Quneitra, Golan, yang berbatasan langsung dengan Israel. Selama ini, kawasan Golan berada dalam pengawasan PBB.

Surat kabar Al Watan, yang mengutip media Israel, Haaretz, melaporkan, sekalipun kelompok teroris Front Al-Nusra melakukan aktivitas-aktivitasnya di sekitar Dataran Tinggi Golan, namun kelompok ini tidak akan menimbulkan bahaya bagi Israel dan militernya.

Apakah ini tidak mengherankan? Di saat dunia internasional merasakan ketakutan atas aksi barbar teroris yang tengah beroperasi di Suriah, tidak demikian halnya dengan Israel. Bahkan sejak awal tahun sudah santer diberitakan bahwa Israel bahkan menyediakan rumah sakit bagi kawanan teroris ini. Beredar luas foto Benyamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel, yang menjabat erat salah satu pemberontak yang terluka.

Beberapa puluh tahun yang lalu di Suriah, ada seorang mata-mata yang berhasil menyusup. Eli Cohen, demikian namanya, adalah agen rahasia Mossad,  dan diangggap sebagai salah satu mata-mata paling sukses setelah Perang Dunia II. Ia berhasil menyamar dan masuk ke Suriah dengan nama Kamel Amin Tsa’abet. Kecerdasannya mampu memperdaya tokoh-tokoh penting di Suriah, sehingga Cohen memperoleh kepercayaan dikalangan pejabat militer Suriah dan juga pejabat pemerintahan.

Cohen, secara berkala  mengirim  informasi intelejen ke Israel lewat radio, surat rahasia dan kadangkala pada saat ia berkunjung ke Israel. Informasi yang sangat berharga yang berhasil ia kirimkan ke Israel pada tahun 1964 adalah data tentang kubu pertahanan Suriah di dataran tinggi Golan.

Akhirnya pada bulan Januari 1965, seorang ahli dari Uni Soyvet yang disewa oleh dinas intelijen Suriah berhasil menyadap pesan yang sedang dikirimkan Cohen ke Israel. Setelah dihadapkan ke pengadilan, ia diputuskan bersalah terlibat mata-mata dan dijatuhi hukuman mati. Sampai dengan hari ini, Suriah yang merasa sangat kecolongan, tetap menolak memulangkan jenazah Cohen untuk dimakamkan di Israel. Cohen telah tekubur. Namun kematiannya, melahirkan Cohen-Cohen yang lain.

Dan puncaknya, Cohen yang lain telah masuk ke Suriah sejak tiga tahun lalu, dan menghancurkan tatanan kehidupan bermasyarakat yang sebelumnya damai. Saat ini, kita bisa melihat dengan jelas bagaimana Suriah dihancurkan hingga luluh lantak. Senjata-senjata Israel, telah banyak merengut nyawa rakyat Suriah. Cohen yang lain, berbentuk teroris-teroris seperti Al-Nusra, FSA dan ISIS, yang semuanya mengaku berjuang atas nama Islam. Namun sesungguhnya, sebagaimana Eli Cohen, mereka bekerja untuk kepentingan Israel. Ya benar, mereka bekerja untuk Israel.

———————————-

Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini, silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL