Oleh: Kalis Mardiasih*

Shelina Janmohamed dalam buku Generation M: Young Muslims Changing The World (2016) bercerita pengalaman menjadi muslim di Eropa. Ia bosan dengan tema keislaman yang nangkring di rak-rak toko buku yang selalu bersampul wajah muslimah bercadar hitam, unta berwajah muram dengan latar padang pasir, dan bercerita tentang betapa sulit dan terkekangnya hidup menjadi muslim. Buku pertama Shelina berjudul Love in Headscarf yang bersampul seorang perempuan berjilbab sedang mengendarai mobil membelah jalanan Eropa dengan warna pink ceria adalah sebuah perlawanan pada stereotip kuno itu. Ia ingin menyampaikan pesan bahwa hari ini, di berbagai sudut lain di bumi, Islam bisa hidup sejalan dengan modernitas. Shelina bercerita bagaimana seorang perempuan berjillbab di Eropa dapat menjalani hari-hari, bertumbuh dengan optimistis, dan punya hak yang setara.
Populasi muslim global memang telah berubah. Bicara sejarah Islam di masa lalu memang selalu terasosiasi dengan Arab dan Timur Tengah, tetapi pusat-pusat kajian Islam di masa kini terus berkembang. Eropa dan Indonesia banyak menyumbang literatur kajian keislaman yang seiring dengan kebutuhan zaman. Proporsi terbesar muslim dunia, lebih dari 60% tinggal di Asia. India akan menjadi rumah bagi populasi muslim terbesar, diikuti oleh Pakistan dan Indonesia. Generasi muda muslim di wilayah-wilayah ini tentu berhak mewakili wajah Islam di masa depan.

Di salah satu ruang kantor Japan Foundation Asia Center, Shinjuku, Tokyo Prof Tadashi Ogawa dari Kyoto University memulai pertanyaannya kepada saya dan rekan saya, Sarah. Prof. Ogawa adalah orang Jepang yang pernah tinggal di Indonesia pada medio 80-an hingga 90-an, dan aktif menulis persoalan agama dan kebudayaan wilayah Asia Tenggara. Pertanyaan pertama tentang peningkatan fundamentalisme agama di Indonesia membuat napas saya berat.

Ia mengenang sekira 20 tahunan lalu, Indonesia tidak seagamis sekarang. Satu contoh yang ia sajikan adalah belum banyak perempuan berjilbab, sedangkan hari ini di semua sudut jalan dan perkantoran adalah perempuan berjilbab. Tentu saja pemandangan perempuan dengan kain kerudung di kepala tak ada kaitannya dengan fundamentalisme. Jika mau lebih jujur, tren ini justru lebih berkaitan dengan arah perubahan kebijakan politik dan tren produk ekonomi global. Tetapi, kita dapat jujur untuk bicara satu hal tentang stereotip yang masih lekat menempeli perempuan. Yakni, jika banyak perempuan di Barat berpakaian seksi dilekati label tidak bermoral, maka perempuan berjilbab dan bercadar dilekati label konservatisme alias terjajah, dan tidak bisa berpikir sama sekali.

Sejak peristiwa 9/11 di Amerika Serikat dan paling terakhir peristiwa Charlie Hebdo di Prancis, ditambah dengan viralnya video-video pemenggalan kepala manusia yang dilakukan oleh kelompok ekstremis ISIS, citra Islam yang ada di dunia adalah gambaran orang-orang beragama yang seram. Media Barat memperparah bias pemberitaan tersebut. Seolah-olah Islam tak punya wajah lain. Dalam media Barat, Islam adalah kekerasan, ajaran yang konservatif, antisains, antimodernitas, anti-Hak Asasi Manusia dan anti-pergerakan perempuan.

Tiap kali bicara dengan kawan-kawan yang ingin tahu soal Islam di luar negeri, saya selalu ingat pesan para guru bahwa Islam Indonesia harus tampil. Dunia harus tahu bahwa Islam tidak hanya diwakili oleh negara-negara yang saat ini sedang berkonflik, atau kelompok-kelompok yang membabi buta. Ada wajah Islam yang lain di Indonesia dengan manhajberpikir dan kekhasan sosiologisnya yang melahirkan berbagai tradisi dan laku beragama yang dapat menjadi pengayom bagi sesama. Sama seperti ketika saya mengingat wajah ceria teman-teman muslim saya di Malaysia, Thailand, Singapura yang bangga mengaku muslim Nusantara.

Prof. Tadashi Ogawa menyodorkan sebuah makalah laporan terorisme dari seorang jurnalis Amerika yang namanya cukup moncer di Indonesia. Ia juga membawa sebuah majalah yang melaporkan gejala radikalisme di universitas. Satu rubrik khusus majalah itu adalah wawancara khusus dengan dua gadis remaja yang dalam foto mengenakan cadar dengan pandangan mata layu. Mereka adalah tersangka tindak teror di Mako Brimob yang kedapatan membawa senjata tajam beberapa waktu lalu, dan dalam wawancara mengaku mendapat doktrin kekerasan dalam beragama lewat grup-grup Telegram yang ia ikuti.

Dalam hati, saya ingin membenarkan beberapa gejala itu. Menyampaikan perihal perbedaan doktrin agama dengan diskursus keagamaan jadi lebih mendesak. Universitas adalah pusat keilmuan dan pusat diskursus. Jika di rumah-rumah ibadah agama muncul sebagai bidang hitam putih yang bicara pahala versus dosa serta surga versus neraka, maka universitas menyajikan metodologi atau sistem berpikir yang bersifat terbuka dan tidak menjustifikasi. Pada titik ini, universitas seharusnya menjadi harapan, bukan ikut jumud dan beku. Dosen di dalam kelas adalah fasilitator belajar, tidak seharusnya menjadi hakim, apalagi aktor provokasi.

Peristiwa politik yang cukup panas dengan melibatkan pertarungan wacana agama di Indonesia mau tak mau juga berimbas pada apa yang didengar dan dibaca dunia tentang Islam Indonesia. Prof. Tadashi Ogawa menyebutkan beberapa nama pesohor yang diklaim sebagai radikal atau fundamental oleh laporan-laporan media massa.

Sekali lagi saya mengingat pesan guru bahwa Islam Indonesia harus tampil dalam wajahnya yang paling menyenangkan dan mendamaikan di dunia. Oleh karena itu, saya hanya menyampaikan bahwa perbedaan dalam ibadah atau wacana keislaman dalam kelompok-kelompok Islam itu biasa saja. Tetapi, para guru bijak pendiri bangsa sejak dulu mengajarkan bahwa tiap-tiap warga negara Indonesia punya hak yang sama untuk berpendapat dan mengembangkan dirinya di ruang publik. Tiap-tiap warga negara punya kedudukan yang sama di hadapan hukum tanpa melihat agama atau asal etnisnya. Kelompok-kelompok yang tak sepakat dengan kesetaraan inilah yang harus selalu diingatkan pada sejarah persatuan bangsa di masa lalu. (LiputanIslam.com)

*menulis opini dan menerjemah. Aktif sebagai periset dan tim media kreatif Jaringan Nasional Gusdurian dalam menyampaikan pesan-pesan toleransi dan kampanye #IndonesiaRumahBersama. Disalin dari Detik, 20 Juli 2018.

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*