assad-erdogan

Sumber foto: www.jadaliyya.com

 Oleh: Ayudia az-Zahra, Blogger

Dr Joserizal dari MERC menulis di jejaring sosial sebuah analisis yang singkat dan menarik. Berikut isinya:

FALSE FLAG OPERATION (Operasi Bendera Palsu)

FFO adalah operasi intelijen yang bertujuan menimpakan kesalahan kepada musuh untuk mendapatkan keuntungan strategis berupa conditioning operasi intelijen yang lebih besar dan [juga operasi] militer. Konflik Suriah dimulai dengan  FFO di Daraa pada Maret 2011, dengan membunuh para demonstran untuk menimbulkan kesan [bahwa] rezim melakukan kekejaman sehingga ada alasan dunia internasional mengutuk rezim padahal jumlah korban di pihak keamanan rezim lebih banyak. Hal ini juga terjadi di Ukraina dalam demo di Maiden Square Februari 2014, dimana para demonstran dan pihak keamanan rezim di tembak oleh sniper supaya kerusuhan lebih meluas dan rezim bisa ditumbangkan.

FFO yg dilakukan di Suriah yang bertujuan supaya AS dan NATO bisa terlibat secara langsung seperti di Libya adalah :
1) Hawla Massacre
2) Serangan senjata kimia Khan al-Asal
3) Serangan senjata kimia di Ghouta Timur

Baru-baru ini terungkap FFO yang direncanakan oleh Turki dengan bocornya percakapan MENLU Turki, Kepala Intelijen dan pejabat Turki lainnya di YouTube sehingga YouTube saat ini dilarang oleh Erdogan. Percakapan itu mengungkapkan bahwa Turki akan menggunakan sekelompok orang dari wilayah Suriah untuk menembakan rudal atau semacamnya ke wilayah Turki sehingga ada alasan bagi Turki untuk terlibat langsung secara militer masuk kedalam wilayah Suriaa walaupun sebenarnya Turki sudah terlibat mendukung oposisi dari awal konflik Suriah melalui operasi-operasi intelijen.

Tampaknya Turki nekat melakukan FFO ini setelah posisi oposisi terdesak hebat di front utara (Latakia) yang berbatasan dengan wilayahnya.

Keterdesakan pihak oposisi bukan hanya di front utara tapi juga di front barat (perbatasan Lebanon), front selatan (perbatasan Yordania), dan front timur (daerah Dar el Zoor). Front selatan yang dibangun Amerika, Saudi, serta Qatar tampaknya tidak bisa diandalkan sehingga pendukung oposisi memutar akal bagaimana bisa terlibat secara langsung. Cara yang paling klasik adalah dengan melakukan FFO.

Saya menemukan keterangan yang mirip dengan apa yang disampaikan oleh dr. Jozerizal, bahwasanya Turki memang melakukan operasi bendera palsu di Suriah. Abayomi Azikiwe, editor dari Pan-African Newswire saat diwawancarai oleh Rusia Today, mengungkapkan keputusan pemerintahan Erdogan melakukan operasi ini adalah akibat kepanikan yang memuncak, dan apakah  Erdogan sudah  tidak punya pilihan lain?

Patut diingat kembali, bahwa selain Turki, negara yang secara langsung terlibat dalam krisis di Suriah adalah Israel. Berulang kali Israel memborbadir Suriah, dan dalam salah satu serangannya, intelejen Rusia mengabarkan bahwa Turki menyediakan pangkalannya bagi Israel, untuk menyerang Suriah. Tentu saja, pihak Turki membantah keras tuduhan itu, namun hari ini, semuanya telah terlihat begitu jelas. Menurut Abayomi Azikiwe, Turki manut pada kebijakan NATO yang anti-Suriah, sebagaimana negara-negara lainnya yang juga tergabung dengan NATO. Mimpi buruk di bulan Agustus 2013 saat serangan senjata kimia di Ghouta yang dilanjutkan dengan rencana serangan militer langsung oleh AS atas Suriah, namun digagalkan oleh Rusia melalui perjanjian pemusnahan senjata kimia,  telah kembali terulang. Hanya saja kali ini, Turki ‘memasang badan’ di garis depan. Berhasil?

“The easiest way to gain control of a population is to carry out acts of terror. [The public] will clamor for such laws if their personal security is threatened,” begitu pesan dari Josef Stalin, seorang diktator di era Uni Sovyet. Masyarakat pada umumnya akan mendukung penuh tindakan melawan terorisme yang mengancam keamanan mereka. Namun sayangnya, kali ini Erdogan gagal total, karena operasi bendera palsu  yang dirancang untuk menunjukkan bahwa Suriah – mengganggu stabilitas nasional Turki – terlanjur bocor dan menyebar luas. Lagi pula melihat berbagai penolakan masyarakat dunia atas rencana intervensi militer AS pada tahun 2013, sepertinya dunia sudah jenuh dengan berbagai peperangan, yang hanya menyisakan abu dan arang.

——————–

Redaktur menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini, silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL