KetifatlanOleh: Khadija

Tidak ada asap, jika tidak ada api. Tidak ada yang tiba-tiba terjadi begitu saja tanpa memiliki sebab musabab yang jelas. Entah siapa yang awalnya memulai, beraneka ragam bahasa slang kini sangat populer. Mulai dari ciyus miapah hingga bahasa ala Vicky Prasetyo yang disebut vickinisasi.

Namun tidak ada yang lebih mengherankan saya saat menemukan kata “ketifatulan” juga menjadi salah satu bagian dari kata slang. Dan teman-teman saya juga ramai menggunakannya. Tahukah Anda makna dari ketifatulan? Dari kamus bahasa slang, ketifatulan ini memiliki beberapa arti, yaitu:

  1. Ketidak faham betulan
  2. Sok bijak kayak Pak Tifatul
  3. Diracun seperti Munir untuk dibungkam agar tidak mengungkapkan kebenaran
  4. Sesat berpikir, ketidak-benaran

Pertanyaannya adalah, mengapa untuk mengungkapkan definisi seperti “kesesatan berpikir, atau ketidak-pahaman terhadap suatu masalah, hingga tidak mengungkap kebenaran, dirumuskan dalam satu kata “ketifatulan”? Ketifatulan, jika dihilangkan imbuhan “ke- an”, maka kata dasarnya adalah tifatul. Dan satu-satunya ‘tifatul” yang terkenal saat ini di Indonesia, adalah Menteri Komunikasi dan Informatika yaitu Tifatul Sembiring. Lantas, apa korelasi antara Tifatul Sembiring dengan definisi “ketifatulan” diatas?

Indosurflelife (ISL), salah satu media berbahasa asing pada tanggal 18 Mei 2014 secara khusus menurunkan artikel yang memuji dan menguliti Tifatul Sembiring. Dalam tulisan yang berjudul “This man is now the biggest enemy of Indonesian netizen”, ISL mengungkapkan bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan koneksi internet yang lambat, walaupun dalam beberapa tahun terakhir sudah mulai membaik. Yang menjadi masalah kemudian adalah ketika Pak Menteri berkomunikasi dengan para follower-nya, yang saya rasa kurang tepat, seperti kejadian berikut:

Tanggal 10 Mei 2013, ada seorang pengguna twitter bertanya kepada Tifatul Sembiring, “Mengapa koneksi internet di Indonesia lambat?

Tifatul menjawab,”…Jadi kasus sodomi dan pedofilia dimana-mana ini kira-kira fenomena apa ya…”

Jawaban Tifatul sungguh di luar dugaan – bahkan saya yakin seorang pengamat pun tidak akan memprediski sampai kesana. Kitapun akhirnya harus menebak-nebak, apakah maksud Pak Menteri tersebut adalah bahwa internet adalah salah satu pemicu kasus sodomi dan pedofilia? Dan apakah koneksi internet yang lambat bisa mengurangi jumlah pelaku penyimpangan tersebut?

Di lain kesempatan saat mendapatkan pertanyaan serupa, tanggapan Tifatul tidak kalah nyeleneh. Tifatul malah balik bertanya “”Tweeps Budiman, memangnya kalau internetnya cepat mau dipakai buat apa?…:D *MauTauBanget*“.

Apakah seorang menteri tidak mengetahui dengan baik fungsi koneksi internet? Saya merasa sebagai salah satu “korban” internet lambat, sangat kecewa dengan tanggapannya seperti itu. Banyak pekerjaan yang berhubungan dengan internet – menjadi terganggu lantaran koneksi internet yang jalannya laksana siput. Pekerjaan yang seharusnya selesai dalam waktu satu jam, bisa melar hingga 5 jam.

Kesimpulan pertama: Dalam berkomunikasi, Pak Tifatul kadang terlihat seperti ‘tidak memahami’ permasalahan, entah disengaja atau tidak.

Kasus kedua terjadi beberapa waktu yang lalu ketika cuitan @sahaL_AS yang menanyakan pendapatnya mengenai situs Arrahmah yang memuji Boko Haram sebagai Mujahidin, ditanggapi bercanda oleh Tifatul.

“Mau serius atau bercanda,” cuit Tifatul, 11 Mei 2014. “Sekolah jauh-jauh, soal halal-haram masih nanya, please bro,” lanjutnya.

Tanggapannya tersebut lagi-lagi menunjukkan bahwa Tifatul tidak memahami kondisi dan tidak tahu cara bersikap yang tepat dalam melihat permasalahan, kapan saat kita bercanda, dan kapan saatnya serius. Mengapa? Temukan jawabannya di sini.

Kesimpulan kedua: Dalam berkomunikasi, Pak Tifatul terkesan tidak tahu bagaimana menempatkan diri.

Kasus ketiga terjadi ketika Pak Menteri “tertangkap” mem-follow akun porno. Selama ini ia terkenal dengan komitmennya memerangi pornografi. Bahkan Tifatul mengakui bahwa Kementerian Komunikasi dan Informatika telah memblokir lebih dari satu juta situs porno, (Politik Indonesia, 2/3/2014).

Memerangi pornografi kok sambil mem-follow akun porno?

Tifatul menjawab, “Tidak sengaja kepencet.”

Dalam peristiwa ini, Tifatul memberkan argumen fallacy – yaitu tidak sengaja kepencet. Lah, kalau memang tidak sengaja kepencet, kan seharusnya bisa di-unfollow. Saat kita follow sebuah akun twitter, otomatis kita akan selalu melihat update statusnya di timeline.

Kesimpulan ketiga: Dalam berkomunikasi, Pak Tifatul terkesan sembrono hingga argumen ganjil pun terlontar tanpa ia sadari.

Kasus keempat yang terjadi adalah ketika Tifatul berkhotbah sebagai berikut,” Sesungguhnya ada korelasi langsung atau tak langsung, ada hubungan yang kuat antara musibah fisik dengan musibah moral atau akhlak manusia. Sering terjadi bencana, sebab akhlak manusia yang telah rusak. Terlalu banyak berbuat maksiat dan melawan kepada Allah swt. (Khotbah Iedul Adha 1430, Sumatera Barat)

Benarkah pornografi dan imoralitas sebagai penyebab dari rentetan bencana alam yang terjadi? Seorang blogger menuliskan ‘kesesatan berpikir” ala Tifatul yang disebut post hoc ergo propter hoc fallacy. Jika kita telaah, logika Pak Tifatul dalam khutbahnya bermakna sebagai berikut:

  1. Fakta bahwa pornografi dan imoralitas kian gencar di bumi nusantara.
  2. Fakta bahwa gempa di Padang, juga tsunami di Aceh telah memakan ribuan korban jiwa.
  3. Semestinya kedua fakta tersebut saling berkaitan sebagai “sebab-akibat”.

Jika benar demikian, betapa “hebatnya” pornografi dan imoralitas itu. Kesimpulan Tifatul mementahkan berbagai penelitian ilmiah mengenai pergeseran lempeng. Apakah perubahan iklim juga disebabkan oleh pornografi? Apakah penyebab polusi dan kemacetan di sejumlah kota besar seperti Jakarta juga disebabkan karena pornografi/ kemaksiatan?

Dalam kaidah-kaidah logika, apa yang dilakukan Pak Tifatul adalah sebuah fallacy yang dinamakan post hoc, ergo propter hoc. Maksudnya, ketika seseorang “secara sembarangan” meyakini dua peristiwa yang terjadi secara berurut memiliki hubungan kausalitas. Hanya karena kejadian A terjadi setelah kejadian B, apakah berarti kedua kejadian tersebut memiliki hubungan kausalitas? Jika setelah nonton film kartun perut saya terasa sakit, apakah sakitnya perut saya diakibatkan oleh film kartun?

Bagaimanapun, penjelasan terbaik bagi rentetan bencana alam yang melanda nusantara, adalah sains, dan tentunya ini bukan sikap mengabaikan kuasa Tuhan.

Kesimpulan keempat: Dalam berkomunikasi, Pak Tifatul menunjukkan kesesatan berpikirnya.

Dengan melihat secara jernih keempat kasus diatas, mungkin akan ada yang setuju dan tidak setuju jika “ketifatulan” memang merujuk kepada sosok Pak Menteri yang kerapkali terlilit kasus komunikasi. Tapi sepertinya, Pak Tifatul sendiri tidak marah dengan penisbatan tersebut. Terbukti, ketika ditanya lagi bagaimana pendapatnya tentang kosakata “ketifatulan” pada kamus slang, dengan santai Tifatul menjawab, “Hehehe, perlu ditingkatkan lagi kreatifitasnya.” 😀

____________

Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini. Silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL