hastag illridewituOleh: Putu Heri

Ketika Ahmadiyah diberangus, penganut Syiah Sampang diusir dari kampung halamannya, dan jemaat GKI Yasmin harus beribadah di trotoar menjadi catatan sejarah buruk bagi Indonesia, maka tidak demikian halnya dengan Australia. Di negara yang penduduknya mayoritas beragama Kristen ini, kaum Muslimin tetap diperlakukan dengan manusiawi.

Ya, inilah Australia. Hari ini, tagar #Illridewithyou kembali menjadi trending topic. Sejak kemarin, #Illridewithyou digunakan oeh netizen Australia sebagai penolakan terhadap adanya ancaman, intimidasi, ataupun penyerangan yang mungkin saja dilakukan terhadap kaum Muslimin di Australia, sebagai imbas atas adanya penyanderaan sebuah kafe di Sydney, oleh oknum yang membawa bendera Islam.

Penyanderaan  yang dilakukan oleh pria yang bernama Man Haron Moris ini, telah menuai kecaman dari Australian National Imam’s Council (ANIC), organisasi yang memayungi kaum Muslimin di Australia. ANIC menyatakan bahwa kejahatan yang dilakukan oleh Moris, sama sekali tidak mewakili Islam.

Reuters melaporkan, akibat kasus penyanderaan ini, mulai timbul sikap antipati atau kebencian terhadap Islam, karena sekali lagi, Moris menggunakan bendera Islam dalam aksinya. Akibatnya, ada wanita berjilbab yang kemudian diludahi, lalu ada pula kelompok sayap kanan di Australia yang melakukan protes di masjid. Dengan kondisi seperti ini, identitas Muslim akhirnya menjadi sebuah momok menakutkan. Dan seorang netizen menceritakan, bahwa ia melihat seorang wanita yang hendak mencopot jilbabnya, karena khawatir…

Namun situasi tersebut tidak berlangsung lama, karena ternyata, ada lebih banyak warga Australia yang bersedia menjadi tameng untuk melindungi kaum Muslimin. Mereka menunjukkan solidaritas tinggi untuk melawan Islamphobia, dan hal itu mereka tunjukkan dalam bentuk #Illridewithyou

“If you reg take the #373 bus b/w Coogee/MartinPl, wear religious attire, & don’t feel safe alone: I’ll ride with you. @ me for schedule,” tulis @sirtessa.

@sirtessa menawarkan dirinya untuk menemani  siapa saja yang melewati rute tersebut dan tidak merasa aman akibat busana yang dikenakan identik dengan simbol agama (seperti jilbab-pen) —agar me-mention dia. Dan #Illridewithyou pun menempati posisi teratas trending topic, yang artinya, puluhan ribu warga Australia siap untuk berdiri bersama kaum Muslimin.

Rachel Jacobs, seorang dosen di Australia Catholic University menuturkan  kepada Brisbane Times, bahwa #Illridewithyou merupakan sebuah perlawanan terhadap rasisme dan kefanatikan. #Illridewithyou adalah kekuatan toleransi dan kasih sayang. #Illridewithyou adalah perjanjian untuk memperlakukan semua orang—siapapun dia, dengan penuh rasa hormat. #Illridewithyou adalah pengingat bagi warga Australia, bahwa tidak sepatutnya sebuah komunitas atau kelompok harus bertanggung jawab atas kesalahan yang dilakukan oleh satu orang. #Illridewithyou adalah pesan bagi para bigot, bahwa mereka tidak diinginkan berada di Australia.

Bagaimana dengan Indonesia?

Sayangnya, dalam beberapa waktu terakhir ini, penyebaran kebencian terhadap suatu kelompok/ agama/ etnis yang berlainan, sudah seperti makanan sehari-hari. Padahal, Indonesia menjadikan Pancasila dan Undang-Undang sebagai dasar negara. Padahal, Indonesia memiliki slogan Bhineka Tunggal Ika. Beberapa waktu terakhir, Front Pembela Islam sering menggelar demonstrasi untuk menolak Ahok, Gubernur DKI Jakarta, atas nama agama dan ras. Tak cukup sampai disitu, FPI bahkan melantik gubernur tandingan!

Hingga kini, jemaat GKI Yasmin tetap tidak bisa beribadah di gereja miliknya, kendati Mahkamah Agung telah memutuskan, bahwa gereja tersebut harus dikembalikan lagi kepada jemaat. Ironisnya lagi, Walikota Bogor yang telah berjanji untuk membuka gereja, harus menyerah menghadapi tekanan kelompok intoleran yang menyegel paksa tempat ibadah tersebut.

Nasib pegungsi Syiah yang terusir dari kampung halamannya juga tidak kalah tragis. Saat Hari Anak Internasional lalu, seorang anak pengungsi mengirimkan surat terbuka kepada Presiden Joko Widodo, meminta agar dipulangkan.

“Yang terhormat Bapak Presiden Jokowi, saya Fidek Mahdi, putra dari salah satu korban kekerasan Sampang Madura. Saya mohon kepada Bapak yang terhormat kembalikan kami ke tempat kelahiran kami. Kami ingin sekolah dengan tenang, kami ingin jadi anak yang berguna bagi bangsa dan negara.

Semua teman-teman pengungsi kehilangan keceriaan karena ketidak adilan ini. Haruskah kami jadi anak jalanan? Karena ketidak adilan ini. Sekian lama, sudah hampir tiga tahun kami di pengungisan sampai sekarang belum juga ada kejelasan. Saya mohon kepada Bapak Jokowi yang terhormat, bantu kami semua. Kami sekarang putus sekolah karena harus berpindah-pindah tempat, kami ingin jadi anak yang pintar. Kami tidak ingin diusir di negara sendiri.”

Dan kini menjelang perayaan Natal, maka lini massa kembali diramaikan dengan perdebatan tentang halal-haramnya ucapan selamat Natal. Isu ini nyaris selalu menjadi topik panas setiap tahunnya, yang berujung pada ketidakharmonisan di dalam tubuh ummat Islam itu sendiri.

Saya rasa, sudah saatnya semua kebodohan ini diakhiri. Sudah saatnya kita kembali bergandengan tangan, merajut kembali Indonesia yang telah tercabik dengan maraknya konflik horizontal. Sudah saatnya kita bersatu melawan intoleransi, dengan membuka ruang dialog.

Musuh kita bukanlah Sunni, Syiah, Kristen, Budha atau Hindu. Bukan pula etnis China, ataupun suku Batak. Sayyidina Ali kw menyatakan, “Musuh utama manusia adalah kebodohan dan ketidak-tahuan.”

—–

Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini. Silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL