media-lyingOleh: Putu Heri

Jurnalis harusnya berpihak kepada kebenaran, bukan kepada uang atau sejenisnya. Society of Professional Journalists  (SPJ) menyebutkan, bahwa pencerahan yang diberikan kepada masyarakat oleh media, merupakan cikal bakal keadilan, sekaligus dasar dari sebuah demokrasi. Seorang jurnalis dituntut untuk berintegritas, memberikan informasi yang akurat, adil dan komprehensif. (SPJ, September 2014)

Namun sepertinya, semangat tersebut tidak ada pada jurnalis Republika.co.id. Media ini, perlahan-lahan telah mulai kehilangan ‘ruhnya’. Tugas media seharusnya meminimalisir ketidak-nyamanan, atau keresahan yang timbul di masyarakat terkait berita tersebut, dan ironisnya, poin penting ini diabaikan oleh Republika. Mengapa saya katakan demikian?

Hari ini, di media sosial muncul status netizen yang marah-marah, atas berita yang dimuat Republika. Berita ini akhirnya dihapus, namun saya beruntung mendapatkan jejaknya.

Link-nya: http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/14/11/25/nflrvr -selesai-baca-kitab-suci-bhagavad-gita-masyarakat-bali-diajak-dugem-artis-porno

Judul berita:  ‘Selesai baca kitab suci Bhagavad Gita, Masyarakat Bali Diajak Dugem Artis Porno’.

Apa yang ada di dalam pikiran Anda jika mmembaca judul berita tersebut? Mungkin seperti ini; masyarakat Bali membaca kitab sucinya, lalu setelah itu mereka diajak dugem oleh artis porno. Betul?

Berita Republika lainnya di hari yang sama, dengan mengutip Antara, menyebutkan bahwa para pemuda pemudi Hindu Bali, menggelar kegiatan membaca Kitab Suci Bhagavad Gita, yang dilakukan secara masal hingga mencapai 8.336 orang, pada 23 November 2014, di Tabanan, salah satu kabupaten Bali.

Dan, kapan Sasha Grey (artis porno) mengajak dugem masyarakat Bali? Perhatikan cuplikan artikel Republika yang telah dihapus di bawah ini;

Klik untuk memperbesar

Klik untuk memperbesar

Ternyata dalam isi berita, disebutkan bahwa Sasha Grey datang ke Bali seminggu kemudian, yaitu pada akhir November. Sasha tidak hanya datang ke Bali, tetapi juga menyambangi Jakarta.

Saya tidak habis pikir, apa hubungannya pembacaan kitab suci dengan kedatangan tamu bintang porno? Mengapa harus disangkut-pautkan sedemikian rupa? Jujur saja, ini sangat menyakitkan bagi masyarakat Bali. Astagfirullah, entah apa tujuan Republika menggunakan judul yang menyesatkan seperti itu.

Tak lama berselang, perwakilan dari organisasi Hindu yang keberatan atas berita tersebut pun melayangkan protes via email. Akhirnya, judulnya diganti menjadi: ‘Astagfirullah artis porno ini ajak masyarakat Jakarta dan Bali dugem’.

Masalahnya selesai sampai disitu? Ternyata tidak. Walau judul telah diganti, namun judul dari berita yang telah dishare ke media sosial (sebelum diganti), tetap tidak berubah. Tampilannya tetap bertahan seperti di bawah ini;

klik untuk memperbesar

klik untuk memperbesar

Selain itu, masyarakat Bali mempertanyakan judul berita yang juga dianggap tidak tepat. Sasha, disebut mengajak masyarakat Bali untuk dugem, lalu, masyarakat mana yang dimaksud?

Akhirnya, ormas Hindu pun kembali melayangkan protes, meminta agar Republika menghapus berita tersebut, dan jika tidak, mereka akan mengadukan hal ini kepada Dewan Pers Indonesia. Republika dinilai, telah meresahkan dan menghembuskan isu SARA.

Republika Rilis Berita, Narasumber Ternyata Akun Palsu

Nah, jika Republika mau membuat judul yang tepat untuk berita di atas, saya sarankan pertama kali carilah informasi dimana Sasha Grey akan beraksi. Dia seorang DJ bukan? DJ pastilah akan bermain di salah satu klub yang ada di Bali. Misalnya, ia akan tampil di Hard Rock, maka buatlah judul; ‘Sasha Grey Siap Guncangkan Hard Rock Cafe’, atau, ‘Mau Joget Bareng Sasha Grey? Ayo Datang ke Hard Rock Cafe’.

Dosa Republika lainnya yang berhasil saya temukan di salah satu media warga adalah peristiwa pada musim kampanye silam. Suasana politik sedang panas-panasnya, dan media ini turut menjadi corong media salah satu capres. Sebenarnya, tidak ada masalah dengan hal ini. Toh detik.com, tempo.co, kompas.com, beritasatu.com, kesemuanya juga menjadi corong media pasangan capres lainnya. Yang membuat saya tidak terima adalah, ketika Republika harus menyebarkan informasi yang tidak benar.

Saat itu, Republika merilis berita yang berasal dari akun palsu yang mengatasnamakan Rosiana Silalahi. Informasi dari akun palsu itu, disebarluaskan untuk memojokkan salah satu kandidat capres. Rosiana yang merasa namanya dicatut, melayangkan protes.

“Udah jelas-jelas akun palsu. Kalian kutip. Minta dikoreksi cuma dengan ditambahkan “diduga’ palsu. Akun palsu kok jadi sumber berita. Media oh media” (Rosiana Silalahi)

[Akun asli Rosiana Silalahi: ROSIANNA SILALAHI @Rosianna766Hi, sedangkan akun palsu menjeplak Rosiana Silalahi: Rosianna Silalahi @rosisilaIahi]

rosiana silalahi

Untuk masyarakat Indonesia, mulai sekarang sebaiknya lebih berhati-hati membaca informasi dari media ini. Jangan puas hanya dengan membaca judul semata. Teliti isi beritanya, apakah sesuai dengan judul atau tidak?

Kita sebagai rakyat Indonesia, memiliki hak untuk hidup berdampingan dan nyaman dalam perbedaan, tanpa menjustifikasi  negatif terhadap kelompok lain yang memiliki perbedaan pandangan. Tidak suka keberagaman? Silahkan pindah ke Arab Saudi! (liputanislam.com)

———

Redaksi menerima sumbangan untuk rubrik Opini, silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL