Spanduk Diklat ANNAS di Jalan Cigara, foto: Liputan Islam

Spanduk Diklat ANNAS di Jalan Cigara, foto: Liputan Islam

Bandung, LiputanIslam.com — Suasana masjid sudah dipenuhi jama’ah, saat Liputan Islam memasuki lokasi acara untuk mengikuti Diklat Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS), yang diselenggarakan di Masjid Al-Fajr Jalan Cigara Bandung, pada 20-21 September 2014. Dari mulut jalan menuju masjid, beberapa pria berjenggot dan bercelana gantung sudah berjaga-jaga.

Diklat hari pertama, berlangsung dari pukul delapan hingga Ashar. Sedangkan diklat di hari kedua, berlangsung dari pukul delapan hingga menjelang Dhuhur.

Atip Latifatul Hayat: Syiah dan Ahmadiyah Seharusnya Buat Agama Sendiri

Dr. Atip Latifatul Hayat, yang saat ini bertindak sebagai Ketua Dewan Pakar ANNAS, dosen Fakultas Hukum Universitas Padjajaran, mengungkapkan berbagai persoalan bangsa Indonesia seperti kasus korupsi, pernikahan beda agama hingga aliran-aliran sesat di Indonesia.

Ia memaknai kebebasan beragama menjadi dua bagian, yaitu forum internum dan forum eksternum. Forum internum, adalah kebebasan beragama dan berkeyakinan mencakup ranah internal dimana kebebasan berpikir, berkeyakinan dan beragama berkuasa secara absolut. Namun tidak demikian halnya dengan forum eksternum.

“Adalah hak Syiah dan Ahmadiyah untuk meyakini apa yang mereka anut. Itu sah-sah saja jika untuk diri mereka sendiri. Namun ketika keyakinan mereka dimanifestasikan dalam bentuk sosialisasi kepada masyarakat, sedangkan keyakinan mereka jauh berbeda  dari Islam, maka mereka telah melakukan penodaan terhadap agama. Dan pemerintah, harus memberikan batasan-batasan,” jelasnya.

Atip juga menegaskan, bahwa jika saja Syiah dan Ahmadiyah bersedia menjadi agama baru, maka persoalan akan selesai.

“Seharusnya Ahmadiyah pakai saja nama Agama Ahmadiyah, begitu juga dengan Syiah, pakai nama Agama Syiah, maka persoalannya beres. Tapi masalahnya mereka kan tetap ngotot mengaku sebagai agama Islam. Sedangkan kita Ahulussunah juga keras menolak penodaan yang mereka lakukan,” ujarnya.

Meski Atip dan kelompok Takfiri menyebut Syiah bukan bagian dari Islam, namun tidak demikian halnya dengan Risalah Amman. Risalah Amman adalah adalah sebuah deklarasi yang diterbitkan pada 9 November 2004 (27 Ramadan 1425 H) oleh Raja Abdullah II bin Al-Hussein dari Yordania yang menyerukan toleransi dan persatuan dalam umat Islam. Risalah ini ditandatangani juga oleh wakil-wakil resmi dari Indonesia, KH. Hasyim Muzadi (PBNU), Prof. Dr. Dien Syamsuddin (Muhammadiyah) dan Maftuh Basyuni (wakil pemerintah). Saat itu, ada sekitar 200 ulama berbagai mazhab dari lebih 50 negara yang tanda tangan dan hingga kini proses penandatanganan masih berlanjut. Saat ini sudah lebih dari 500 ulama dunia yang tanda tangan.

Makalah untuk para peserta diklat, foto: Liputan Islam

Makalah untuk para peserta diklat, foto: Liputan Islam

Dalam Risalah Amman, ada fatwa dengan 3 pasal yang mengangkat masalah: kriteria Muslim; takfir(pengafiran) dalam Islam, dan dasar-dasar yang berkaitan dengan pengeluaran fatwa. Risalah Amman juga berisi pengakuan atas 8 (delapan) mazhab dan ajaran Islam yaitu: Sunni Hanafi, Sunni Hambali, Sunni Maliki, Sunni Syafi’i, Syiah Ja`fari, Syiah Zaydi, Ibadiyah, Zahiri.

Salah seorang peserta bertanya soal ‘apakah benar orang Syiah tidak sholat Jumat’? Atip terlihat menghindar dengan menjawab, “Benar, tapi nanti pembicara yang lain yang akan menjelaskan lebih detil.”

LI mengontak seorang jurnalis Indonesia yang sedang bekerja di Iran, Purkon Hidayat, untuk mengonfirmasi hal ini. Menurutnya, sholat Jumat selalu diadakan di seluruh penjuru Iran. Bahkan sholat Jumat dimanfaatkan oleh pemerintah Iran untuk konsolidasi dan menyampaikan pesan-pesan penting ulama kepada seluruh rakyat Iran.

Herman Ibrahim: Bendung Syiah, Bila Perlu Dengan Operasi Militer

Kolonel Purn TNI Herman Ibrahim, seorang pengamat intelejen yang saat ini menjabat sebagai Ketua II Dewan Pakar ANNAS, memulai pemaparannya dengan menghadirkan sebuah video singkat terkait pertumpahan darah yang terjadi di Irak dan Afghanistan. Dalam video itu, Iran, Israel dan Amerika Serikat dituduh sebagai penyebab.

Peserta tampaknya sangat antusias. Apalagi, Herman langsung mengajak peserta untuk berdiskusi. Beberapa peserta mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan.

“Langkah apa yang harus dilakukan untuk membendung Syiah, dan konspirasi apa yang hendak dilakukan Syiah?”

Herman menjelaskan, bahwa pemerintah harus melarang ajaran Syiah. Jangan sampai jumlah penganut Syiah sama dengan jumlah penganut Sunni.

“Syiah di Indonesia ini jumlahnya ada lima juta orang. Kita harus membendung agar jangan sampai jumlah mereka bertambah, karena jika sampai jumlah Syiah setara dengan Sunni, maka perang akan terjadi seperti di Irak, Suriah dan Afghanistan. Dan jika terjadi perang, maka Yahudi pasti akan dukung Syiah, karena Syiah buatan orang Yahudi, Abdullah bin Saba,” jawab Herman.

Herman agaknya lupa bahwa perang di Irak, Suriah, dan Afghanistan justru dipicu oleh teroris Al Qaida dan variannya, kelompok Wahabi yang mengaku Sunni.

Para peserta diklat, foto: Liputan Islam

Para peserta diklat, foto: Liputan Islam

“Lalu mengapa MUI tidak mengeluarkan fatwa sesat pada Syiah, Pak?” tanya peserta.

“Kami pernah mendatangi MUI dengan membawa rombongan sebanyak satu bus untuk mendesak MUI mengeluarkan fatwa sesat pada Syiah, tapi tetap saja sulit karena di MUI Pusat sendiri ada orang Syiah. Salah satu Ketua MUI, Umar Shihab adalah Syiah. Saudaranya, Quraish Shihab juga Syiah. Namun diam-diam MUI telah menyusun sebuah buku yang memaparkan kesesatan Syiah untuk membentengi masyarakat,” jelasnya.

Buku yang dimaksud Herman adalah  buku yang mengatasnamakan MUI, namun ternyata ditolak oleh sebagian tokoh MUI. (Baca: Tokoh MUI Sulsel HM Natsir Siok: Persatuan Lebih Penting)

Belakangan ini muncul trend di kalangan Takfiri yaitu menuding Syiah kepada kelompok lain yang memiliki pemahaman berbeda. Banyak ulama dan tokoh yang menyuarakan persatuan,  atau mengkritik perilaku kaum takfiri, di antaranya Prof Umar Shihab dan Prof Quraish Shihab, segera diberi predikat Syiah. Semakin maraknya upaya menuduh pihak lain yang berseberangan sebagai pihak sesat, terjadi seiring dengan konflik Suriah dan munculnya organisasi-organisasi teror, antara lain ISIS. Dalam upaya merekrut dana dan pasukan, mereka menggunakan isu-isu kebencian terhadap Syiah. Tapi di medan perang, yang menjadi korban kelompok takfiri ini tidak hanya Syiah, melainkan juga warga Sunni, Kristen, Yazidi, dll. (Baca: MER-C Dalam Tikaman Abdillah Onim)

Herman mengklaim bahwa Syiah sudah masuk dalam jajaran TNI dan karenanya mengusulkan aksi makar terhadap NKRI dengan mengobarkan perang saudara, yaitu dengan memerangi umat Syiah dilawan dengan militer.

“Saya sendiri punya mantan anak buah, yang ternyata dia penganut Syiah. Artinya Syiah sudah menyusup ke jajaran militer tanah air. Namun kita tidak boleh berkecil hati. Mereka akan kita lawan dan kita bendung, kita harus memprovokasi masyarakat, bila perlu, dengan kekuatan militer,” tegas Herman berapi-api.

para peserta Risalah Amman

para peserta Risalah Amman

KH Athian Ali: Syiah Adalah Musuh Allah, Harus Dilawan Walau Dengan Nyawa

Sesekali, teriakan takbir bergema di seluruh area masjid. Para peserta begitu bersemangat, siap ‘tempur’ untuk memerangi Syiah, walau harus dengan mengorbankan nyawa.

“Allahu Akbar,” teriak Athian Ali, yang disambut peserta dengan mengepalkan tangan ke atas.

“Siapkah Anda semua, para pemuda untuk menjaga aqidah kita, meski harus mengorbankan nyawa? Allahu Akbar” seru Athian, yang kembali disambut dengan teriakan takbir peserta diklat berkali-kali.

“Syiah adalah paham sesat diluar Islam, yang keberadaannya mengancam kaum Muslimin. Syiah sangat kuat. Mereka melakukan makar dengan terstruktur dan terorganisir, serta memiliki dana yang tak terbatas. Bahkan untuk memuluskan rencananya, Menteri Pertahanan Iran pernah secara khusus datang ke Bandung,” terang Athian.

LI berusaha menghubungi beberapa pihak yang diduga mengetahui informasi apakah benar ada Menhan Iran datang ke Bandung, semuanya menyatakan tidak pernah.

“Sudah 28 tahun Syiah ada di Indonesia, dan kita harus membentuk halaqoh untuk membendung Syiah. ANNAS terbentuk semata-mata untuk memerangi musuh Allah, untuk menggapai ridho Allah,” jelas Athian.

ANNAS membentuk 30 kelompok halaqoh yang tersebar di berbagai wilayah, seperti Cirebon, DKI Jakarta, Bekasi, Bogor dll, yang secara konsisten akan melakukan sosialisasi guna ‘memerangi’ Syiah. Di penghujung acara, panitia membagikan sertifikat dan buku merah MUI.

Aparat Memfasilitasi Kelompok Intoleran?

Penyebaran kebencian kepada kelompok minoritas, juga dibahas dalam dialog yang diselenggarakan oleh Kementrian Agama di Jakarta. Diduga, ada aparatur pemeritah yang ikut menfasilitasi penyebaran kebencian kelompok intoleran terhadap Syiah dan Ahmadiyah. Hingga saat ini tidak ada keseragaman sikap aparat dalam penggunaan wewenang dan fungsi mereka terhadap konflik keagamaan.

Persepsi tentang gangguan dan ancaman terhadap stabilitas dan keamanan dianggap masih mendominasi berbagai kebijakan atas persoalan yang dialami oleh penganut Syiah dan Ahmadiyah. Sejauh ini, pemerintah dianggap tidak memberikan sanksi tegas yang memberikan efek jera terhadap pelaku kekerasan terhadap Syiah dan Ahmadiyah serta kelompok minoritas keagamaan lainnya. (Rizky A/LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL