Oleh : Anik Farida*

kebebasan 3Multikulturalisme dan inklusifitas agama belakangan ini menjadi isu sentral dalam mengembangkan teologi. Munculnya isu ini disebabkan karena semakin kaburnya kesadaran masyarakat tentang pluralitas yang meniscayakan multi etnik dan multi agama yang tumbuh dalam masyarakat yang berbhineka. Pada aras ini, toleransi etnik dan agama di Indonesia menjadi agenda penting sejak maraknya kekerasan etnik agama, serta gencarnya kasus-kasus teror yang ditebar atas nama agama. Itu sebabnya, agama yang memiliki fungsi sebagai dasar bertindak dan berperilaku memiliki tanggungjawab untuk mengembangkan teologi inklusif dan pluralitas sehingga dapat memberikan pencerahan kepada umat akan arti petingnya kehadiran etnik dan agama yang beraneka ragam. Tanpa ini semua, setiap agama akan berwajah eksklusif dan rentan terhadap koflik.

Betapa tragisnya umat manusia, jika hidup di zaman yang penuh dengan kekerasan atas nama agama dan etnik. Bukankah sejarah telah menunjukkan, akibat kekerasan agama peradaban dunia yang telah dibangun selama berabad-abad hancur luluh lantak dan tidak berbekas. Belum lagi penderitaan dan trauma umat manusia yang sulit disembuhkan telah menorehkan luka dalam yang sulit dipulihkan. Umat manusia tak berdosa karena tidak tahu sebab musabab mengapa kekerasan itu harus terjadi, telah menjadi korban sia-sia.

Oleh karena itu adalah tugas berat kita semua untuk menyiapkan generasi yang bebas dari konflik dan kekerasan, maka sudah menjadi kewajiban bersama untuk menciptakan/membangun kader umat yang santun dan toleran. Di sinilah, pendidikan dianggap sebagai instrumen penting dalam menyiapkan generasi umat beragama yang bebas dari konflik. Dalam konteks inilah, pendidikan agama sebagai media penyadaran umat dihadapkan pada problem bagaimana mengembangkan teologi inklusif, sehingga di dalam masyarakat akan tumbuh pemahaman yang inklusif demi harmonisasi agama-agama di tengah kehidupa masyarakat. Tertanamnya kesadaran multikultur dalam masyarakat akan meghasilkan corak paradigma beragama yang hanif dan toleran. Ini semua harus dikerjakan dalam level bagaimana membawa pendidikan agama yang diajarkan di sekolah-sekolah ke dalam paradigma pendidikan yang toleran. Sebab, paradigma pendidikan yang eksklusif dan intoleran jelas-jelas akan mengganggu harmonisasi masyarakat yang multietnik dan agama. Filosofi pendidikan agama yang memandang teologi agama lain sebagai sesat sehingga sah untuk dirusak atau dimusnahkan harus dihentikan.

Kegagalan dalam menumbuhkembangkan sikap toleran dan inklusif dalam pendidikan agama hanya akan melahirkan sayap radikal dalam beragama. Meminjam filsafat pendidikan Paulo Freire, sudah saatnya pendidikan agama diarahkan pada arena pembebasan dari belenggu doktrin-doktrin agama yag eksklusif dan intoleran menuju formulasi pendidikan agama yang inklusif. Karena sejak awal pendidikan harus menjadi proses pemerdekaan, bukan penjinakkan budaya yang serba eksklusif.

Di sinilah letak pentingnya merumuskan paradigma pendidikan agama yang inklusif, sehingga dapat menumbuhkan sikap dan pola keberagamaan yang mengedepankan sikap menghargai dan menghormati agama lain. Hanya dengan cara inilah basis kerukunan sebagai bagian penting untuk menjaga harmonisasi hubungan antar umat beragama dapat terbangun.

Multikultiralisme : Agama, Bangsa, Budaya, Ras, Bahasa

Paling tidak sejak akhir dekade 1970-an, gagasan tentang multikulturalisme mulai banyak dibicarakan. Gagasan ini muncul pada sebuah kenyataan tidak ada satupun negara yang memiliki homogenitas yang absolut. Heterogenitas berbangsa tidak hanya terjadi karena determinasi budaya, karena masyarakat tumbuh dan hidup dalam sebuah dunia yang telah terstruktur secara kultural, dan menjalankan kehidupan dalam kerangka sistem makna yang diturunkan secara kultural. Tetapi juga, akibat pola migrasi yang tidak dapat dibendung, sehingga setiap budaya akan senantiasa merefleksikan dialog yang terus menerus dengan budaya lain. Ini berarti identitas setiap individu terbuka untuk plural, dan cair.

Refleksi dialog antar budaya secara kontinu akan menghasilkan jalinan pemikiran, dan mempengaruhi sistem pemaknaan dalam meginterpretasikan nilai ajaran agama. Muncullah kemudia keragaman dalam menafsirkan nilai-nilai agama. Dalam kondisi demikian, maka multiagama, multireligiusitas tidak terbantahkan lagi akan terjadi.

Berpijak dari Islam, heterogenitas manusia memang sengaja diciptakan oleh Allah (Q.S. al-Rum/30: 22 dan al-Hujurat/49 : 13), karena memang Allah meghendaki menjadikan masyarakat manusia berbeda-beda, sekalipun Allah mempunyai kekuasaan untuk itu. Oleh karena itu, dalam realitas sosial kita akan menjumpai beragam tingkat aktivitas da kreasi manusia dalam berbagai aspek kehidupannya, yang sekaligus menjadi profil atau pembeda antara satu kelompok masyarakat, agama, bangsa, etnik, budaya dengan kelompok lainya. Tingkat keberagaman ini teridentifikasi dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat.

Dalam bangsa dan masyarakat yang multikultural, multietnis, dan multireligius, persoalan-persoalan sosial keagamaan dan kemasyarakatan memang sarat dengan implikasi-implikasi yang kompleks dan rumit. Kompleksitas dan kerumitan hubungan sosial kemasyrakatan dalam berbagai aspek kehidupan bisa dilihat dari adanya konflik yang terjadi dalam ruang lingkup multikultural, baik aspek sosial, politik. Ekonomi, etnis, bahasa, maupun agama.

Di satu sisi, persoalan multikultural merupakan kenyataan fitrahwi atau keniscayaan alam, di sisi lain adalah sesuatu yang dapat menjadi daya pengikat untuk menimbulkan sentimen—untuk tidak menyebut fanatisme—terhadap budaya dan atau agama yang diyakini. Perbedaan ini yang pada situasi tertentu dapat menimbulkan gesekan-gesekan sosial. Khusus dalam multiagama dan multireligiusitas, dihadapkan pada dua tantangan sekaligus, yakni teologis dan sosiologis. Secara teologis agama dihadapkan pada iman : bagaimana mendefenisikan iman di tengah-tengah keragaman iman yang lainnya? Secara sosiologis dihadapkan pada tantangan bagaimana menciptakan hubungan antar iman di tengah-tengah keragaman agama da budaya. Pada posisi demikian, maka Pendidikan Agama (Islam) ditantang untuk memahami isu keragaman (multikultur) yang sudah menjadi ketetapan hukum Allah (sunnatullah).  (hd/liputanislam.com)

*Peneliti Balitbang Departemen Agama. Sumber : Jurnal Penamas, vol. XX no. 3, 2007.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL