Teheran, LiputanIslam.com –   Presiden Iran Hassan Rouhani menekankan bahwa perkembangan situasi sekarang tidak sesuai untuk negosiasi dan diplomasi, dan karena itu tekad perlawanan Iran terhadap tekanan musuh nomor wahidnya, Amerika Serikat (AS), justru semakin bergelora.

Sebagaimana dilansir IRNA, Senin malam (20/5/2019),  Rouhani pada dasarnya mengakui efektivitas dialog dan karena itu termasuk pendukung dialog dan upaya diplomatik, “tetapi keadaan saat ini tidak cocok untuk ini sama sekali”.

Baca: Trump Kembali Mengaku Tak Ingin Berperang Dengan Iran

Menurut Rouhani, selama dua tahun terakhir ini ada upaya-upaya luar negeri dan AS sendiri untuk mengadakan pertemuan pihak Iran dengan Presiden AS Donald Trump, atau untuk mendorong Iran agar bernegosiasi dengan AS, tapi Rouhani menekankan bahwa “situasi sekarang sama sekali bukan situasi negosiasi, melainkan situasi perlawanan dan keteguhan.”

Rouhani menegaskan bahwa rakyat dan para pemimpin Iran sepakat mengenai keharusan melawan AS beserta sanks-sanksi yang diterapkan Washington terhadap Teheran.

Baca: Biaya Mahal Pengiriman Kapal Induk AS Ditanggung Saudi dan UEA

Presiden Iran menjelaskan bahwa AS sejak dulu sudah gigih berusaha menekan Iran, tapi besarnya tekanan yang terjadi sekarang belum pernah dilakukan AS sebelumnya terhadap Iran.

“Dalam periode-periode sebelumnya kami belum pernah mengadapi tahap problematika seperti yang kami alami sekarang di bidang-bidang perbankan dan penjualan minyak. Karena kita semua perlu fokus dan menyadari situasi perang ekonomi,” ujarnya.

Pada Senin lalu, Trump membantah kabar bahwa AS mengupayakan perundingan dengan Iran. Melalui akub Twitter-nya dia menyatakan, “Iran dapat menghubungi kami kapanpun mereka siap. Sementara itu, ekonomi mereka akan terus runtuh – sangat menyedihkan bagi rakyat Iran! ”

AS terus menggalang tekanan hebat terhadap Iran untuk memaksa negara ini kembali ke meja perundingan untuk membuat lagi kesepakatan nuklir Iran.

Baca: Zarif Kepada Trump: Jangan Pernah Menggertak Orang Iran

Seperti diketahui, ketegangan antara Teheran dan Washington meningkat sejak Mei 2018 setelah Trump menarik negaranya keluar dari kesepakatan nuklir Iran yang dinamai “Rencana Bersama Aksi Komprehensif” (JCPOA), dan kemudian dia menerapkan kembali sanksi keras AS terhadap Iran meskipun keputusan mendapat kecaman internasional.

Ketegangan itu meningkat tajam pada peringatan tahun pertama penarikan Washington dari JCPOA ketika AS mencoba meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan memperketat sanksi minyaknya dan mengirimkan bala bantuan militer, termasuk kapal induk, satu skuadron pesawat pembom B-52, dan sistem rudal patriot, ke Timur Tengah. (mm/raialyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*