Brussel, LiputanIslam.com –  Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Federica Mogherini menyatakan bahwa negara-negara Eropa penandatangan perjanjian nuklir Iran tidak menilai pelanggaran-pelanggaran Teheran terhadap perjanjian itu sebagai tindakan krusial yang memicu perselisihan serius, dan karena itu  mereka memilih optimalisasi diplomasi untuk meredakan krisis.

Dalam sebuah pernyataan yang dirilis usai pertemuan para menteri luar negeri UE di Brussles, Senin (15/7/2019), Federica Mogherini, mendesak Iran mengakui upaya-upaya Perancis, Inggris dan Jerman menyelamatkan perjanjian tahun 2015  – yang juga ditandatangani oleh China dan Rusia – itu setelah AS secara sepihak meninggalkannya pada Mei 2018.

Sejak itu, Washington dan Teheran terlibat eskalasi ketegangan di kawasan Teluk Persia.

Baca: Senator AS Ancam akan Gilas Eropa Jika Bekerjasama dengan Iran

“Kesepakatan itu tidak sehat, tetapi masih hidup… Kami mengajak Iran untuk membalikkan langkah-langkahnya dan kembali sepenuhnya mematuhi perjanjian,” kata Mogherini.

Dia menambahkan, “Kenyataannya adalah bahwa kesepakatan itu telah menghindarkan Iran dari pengembangan senjata nuklir, dan itu telah efektif. Saya pikir semua orang saat ini mengakui tidak ada alternatif untuk kesepakatan ini … Sebagai sebuah komunitas internasional pada umumnya, itu adalah kunci untuk mempertahankan situasi setenang mungkin di kawasan itu.”

Baca: Zarif: Pada Akhirnya Iran akan Menjual Minyaknya, Bukan Harga Dirinya

Penyataan ini dirilis Mogherini kurang dari seminggu setelah Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengkonfirmasi bahwa Iran telah melampaui batas pengayaan uranium 3,67% yang ditetapkan oleh kesepakatan nuklir, yang secara resmi dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA).

Dia juga mengatakan transaksi pertama sebagai bagian dari mekanisme untuk memfasilitasi perdagangan dengan Iran sedang diproses, dan sebanyak delapan negara anggota telah bergabung dengan saluran perdagangan itu, yang secara resmi disebut Instrumen dalam Mendukung Pertukaran Perdagangan (INSTEX), atau telah menyatakan minat mereka untuk melakukannya.

Mogherini menekankan bahwa saluran perdagangan Eropa dengan Iran itu terbuka untuk pihak ketiga.

Baca: PBB Sesalkan Pembatasan AS Terhadap Menlu Iran di New York

Presiden Iran Hassan Rouhani pada 8 Mei lalu mengumumkan penangguhan beberapa komitmen negaranya kepada JCPOA, tepat setahun setelah AS secara sepihak keluar darinya. (mm/presstv/aljazeera)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*