Quds, LiputanIslam.com –   Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan Israel akan berpartisipasi dalam konferensi yang akan diadakan pada akhir bulan ini di Bahrain untuk membahas aspek ekonomi prakarsa damai Amerika Serikat (AS), “Perjanjian Abad Ini” (Deal of the Century), untuk menyelesaikan konflik Israel-Palestina.

“Kami memiliki hubungan yang tampak dan yang tersembunyi dengan banyak pemimpin Arab, dan ada hubungan luas antara Israel dan sebagian besar negara-negara Arab,” ungkap Netanyahu dalam sebuah pidatonya, Selasa (19/6/019).

Baca: Netanyahu Resmikan Pemukiman Ilegal Bernama ‘Dataran Tinggi Trump’

“Sebuah konferensi yang sangat penting dan kami sambut akan diadakan di Bahrain dalam waktu dekat ini,” lanjutnya.

Netanyahu menilai konferensi Bahrain sebagai bagian dari “upaya AS untuk mencapai masa depan yang lebih baik dan menyelesaikan berbagai masalah di kawasan,” dan karena itu dia menekankan bahwa Israel akan menghadiri konferensi ini.

“Kami menyambut inisiatif AS yang mencakup solusi regional untuk masa depan yang lebih baik,” katanya.

Dia melanjutkan, “Sebuah konferensi penting akan segera diadakan di Bahrain dan Israel tentu saja akan berpartisipasi.”.

Pemerintah AS akan menyelenggarakan konferensi ekonomi di Manama, ibu kota Bahrain, pada 25 dan 26 Juni 2019.

Konferensi ini bertujuan memikat warga Palestina dengan peluang pengembangan ekonomi secara signifikan jika menjalin perjanjian damai dengan Israel, dan dalam rangka ini Trump membutuhkan dukungan dari negara-negara Arab.

Baca: Delegasi Hamas ke Iran untuk Bahas “Perjanjian Abad Ini”

UEA dan Arab Saudi, sekutu AS, telah mengumumkan kesiapan mereka berpartisipasi dalam konferensi tersebut.

Gedung Putih mengkonfirmasi keikutsertaan Mesir, Yordania dan Maroko, namun tiga negara Arab ini tampak dihadapkan pada keputusan yang sulit sehingga masih enggan mengkonfirmasi partisipasi mereka.

Sedangkan otoritas Palestina sendiri memboikot konferensi Manama. Palestina bahkan telah membekukan hubungannya dengan pemerintah AS sejak Trump mengakui Quds (Yerussalem) sebagai ibu kota Israel pada Desember 2017.

Orang-orang Palestina memandang Quds Timur sebagai ibukota negara masa depan mereka, dan menentang Perjanjian Abad Ini karena akan cenderung berpihak kepada Israel. (mm/raialyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*