Helsinki, LiputanIslam.com –   Kementerian Luar Negeri Iran memperingatkan resiko buruk upaya AS menahan tanker yang baru dibebaskan setelah 45 hari ditahan di Gibraltar

Dalam jumpa pers, Senin (19/8/2019), juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Abbas Mousavi mengatakan, “Kami telah menyatakan bahwa penahanan kapal itu merupakan aksi pembajakan, yang tidak dibenarkan oleh undang-undang internasional manapun… Penolakan terhadap permohonan AS oleh otoritas Gibraltardan Brazil menandakan bahwa kata-kata AS sekarang sudah tidak lagi didengar dan sudah tak ada tempat lagi di dunia bagi perilaku agresif.”

Dia menambahkan, “Iran telah menyampaikan peringatan yang memadai kepada para pejabat AS melalui kanal-kanal resmi, terutama Kedutaan Besar Swiss, agar tidak melakukan tindakan keliru sedemikian rupa karena mereka akan menghadapi resiko buruk.”

Baca: AL Iran: Pembebasan Kapal Tanker Inggris Tak Ada Kaitanya Dengan Kapal Tanker Iran di Gibraltar

Di hari yang sama, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif dalam jumpa pers dengan sejawatnya di Finlandia,  Pekka Haavisto, memastikan bahwa negaranya tidak mementingkan dialog dengan AS, dan bahwa setiap mediasi haruslah berfokus pada upaya mengembalikan Washington kepada perjanjian nuklir Iran.

Baca: Gibraltar Acuhkan Permintaan AS untuk Tahan Tanker Iran

Mengomentari pernyataan Haavisto bahwa Eropa mengerahkan segenap upayanya untuk mempertahankan perjanjian nuklir dengan Iran, Zarif mengatakan, “Segala mediasi harus terfokus pada pengembalian Washington kepada perjanjian ini.”

Mengenai pembebasan kapal tanker Iran di Gibraltar dia mengatakan, “Kami bergembira atas berakhirnya kasus ini, dan sikap Washington terkait dengan tanker ini bertumpu pada tendensi politik.” (mm/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*