Washington,LiputanIslam.com-Menlu AS pada hari Minggu (28/7) mengunggah kutipan dari wawancaranya dengan stasiun televisi Bloomberg yang menyebut keinginannya untuk mengunjungi Teheran.

“Baru-baru ini saya mengusulkan kepada Teheran agar saya bicara langsung dengan rakyat Iran,”tulis Mike Pompeo dalam akun Twitter-nya.

“Namun rezim Iran menolak permintaan saya,”lanjutnya.

Baca: Gara-gara Iran, India Ragu Membeli Nirawak AS

Pompeo yang jelas-jelas gusar atas diplomasi Iran mengklaim,”Padahal kami tidak takut saat Zarif berkunjung ke AS; negara yang ‘menikmati kebebasan berpendapat.’”

Padahal, Pompeo sendiri mengecam media-media AS yang meminta wawancara dengan menlu Iran tersebut. Dia menyebut wawancara dengan Zarif sebagai keputusan buruk.

Selain itu, dia juga hanya mengizinkan menlu Iran berada di tiga tempat saja selama berada di AS, seolah ingin ‘membungkam’ Zarif. Faktanya, tetap saja pembatasan ini tak mengurangi minat media-media AS untuk mendengar perspektif Republik Islam Iran secara langsung.

“Apakah realita ‘rezim (Iran)’ begitu buruknya sehingga mereka tak bisa mengizinkan saya melawat ke Teheran? Memangnya apa yang akan terjadi jika rakyat mendengar kebenaran secara langsung dan tanpa sensor?”imbuh Pompeo.

Menlu AS berlagak memihak rakyat Iran, tanpa menyinggung terorisme ekonomi yang dilancarkan Washington kepada mereka. AS dengan embargonya menyasar rakyat biasa demi meraih tujuan-tujuan politisnya.

Saat berada di New York, Zarif mengatakan,”Trump sudah mengakui perang ekonomi terhadap rakyat Iran. Dalam perang semacam ini, yang menjadi target pertama adalah rakyat biasa.”

Menlu Iran menyebut tindakan ini sebagai bentuk nyata terorisme. “Iran tak akan berunding dengan teroris,”tegasnya. (af/alalam)

Baca Juga:

AS Klaim Iran Uji Coba Rudal Balistik Berdaya Tempuh 1000 KM

AS Larang Industri Penerbangan Dunia Bekerjasama dengan Maskapai Iran

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*