Washington, LiputanIslam.com—Pemerintahan Presiden AS Donald Trump memperingatkan kepada industri penerbangan internasional untuk tidak berhubungan dengan maskapai Iran. Perusahaan yang tetap berbisnis dengan Republik Islam diancam dengan sejumlah sanksi.

Penasehat Kantor Pengawasan Aset Asing (OFAC) Departemen Keuangan AS yang pro-Israel, lewat sebuah pernyataan yang dirilis pada Selasa (23/7), menyebutkan bahwa maskapai komersial Iran adalah komponen utama yang mendukung Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC).

Mereka memperingatkan, perusahaan yang berani menyediakan layanan untuk maskapai Iran, seperti layanan pembiayaan, pemesanan tiket, dan pengadaan suku cadang pesawat, akan menghadapai penjatuhan sanksi ekonomi.

“Industri penerbangan sipil internasional, termasuk penyedia layanan seperti agen penjualan umum, broker,… harus waspada untuk memastikan mereka tidak terlibat dalam kegiatan Iran yang berbahaya,” kata Sigal Mandelker dari Depkeu AS.

Mandelker memberikan contoh maskapai Iran bernama Mahan Air yang telah  dimasukkan ke dalam daftar hitam AS pada tahun 2011. Mahan Air dituding menyalurkan bantuan finansial, material, dan teknologi kepada Angkatan Qods IRGC.

“Kurangnya kontrol kepatuhan yang memadai dapat membuat mereka yang beroperasi di industri penerbangan sipil menghadapi risiko yang signifikan, seperti tindak penegakan hukum perdata, pidana, atau sanksi ekonomi,” lanjutnya.

Sejak 2018, AS telah menjatuhkan sanksi ekonomi pada 11 entitas dan individu karena bekerjasama dengan Mahan Air.

Sanksi adalah alat utama yang digunakan AS sebagai bagian dari kebijakan “tekanan maksimum” terhadap Republik Islam. (ra/presstv)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*