Baghdad,LiputanIslam.com-Seorang pakar politik Irak memperingatkan gerakan-gerakan mencurigakan kedubes AS di Baghdad.

Abbas al-Ardawi mengatakan, usai bocornya kontak-kontak di kedubes AS dengan Mahmud al-Falahi (komandan operasi al-Anbar), kementerian luar negeri AS merasakan bahaya.

Baca: Laporan AS Simpan Senjata Nuklir di Belgia Picu Kontroversi

Yang dimaksud Al-Ardawi adalah file-file audio yang dipublikasikan Hizbullah Irak baru-baru ini. Dalam file-file itu disebutkan, Al-Falahi menjalin hubungan via telepon dan WhatsApp dengan seorang warga Irak yang merupakan agen CIA.

Agen CIA itu meminta al-Falahi untuk memberitahukan detail pangkalan militer di kawasan perbatasan Irak-Suriah. Tujuannya adalah memuluskan serangan udara AS dan Israel ke pangkalan-pangkalan tersebut.

Menurut al-Ardawi, setelah kemenlu AS mencium bahaya, Washington lalu bertindak untuk mengurangi level perwakilan diplomatiknya di dalam Irak.

“AS memutuskan untuk mengeluarkan sejumlah staf kedubesnya di Baghdad, karena khawatir info-info terkait kontak mereka dengan agen bayaran di Irak akan bocor,”jelas al-Ardawi kepada situs berita al-Maalumah.

Dia mengatakan, kemenlu AS memutuskan untuk menempatkan agen-agen intelijen di Irak guna menyusun rencana baru di Negeri Seribu Satu Malam.

Al-Ardawi menyatakan, pemerintah AS tidak bersedia memberitahukan jumlah staf kedubes dan esensi aktivitas mereka di dalam kedubes kepada pemerintah Irak.

Hasan Salim, wakil fraksi Shadiqun di parlemen Irak, menuntut agar kedubes AS di Baghdad segera ditutup. “AS telah melanggar etika, piagam, dan hukum internasional terkait aktivitas kedubesnya di negara-negara lain,”tandas Salim.

Dia menambahkan, kedubes AS di Baghdad telah menjadi tempat berkeliarannya agen Mossad dan ISIS.

Pemerintah Irak, kata Salim, tak bisa bertindak tegas terhadap pelanggaran kedubes AS, karena merasa berhutang budi kepada Washington. (af/fars)

Baca Juga:

Trump Mengaku Tak Berniat “Mengubah Rezim Iran”

Pemimpin Iran: Arogansi Barat Hanya Efektif di Hadapan Negara-negara Lemah

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*