AbuDhabi,LiputanIslam.com-Stasiun televisi al-Mayadeen melaporkan, pertemuan patroli laut antara Iran dan UEA di Teheran menunjukkan, Abu Dhabi sedang mencari alasan untuk keluar dari koalisi agresor ke Yaman.

Dalam laporan bertajuk “Sebab UEA Berpaling kepada Teheran,” Selasa (30/7), al-Mayadeen menilai, langkah Abu Dhabi adalah bukti kegagalan pertaruhan atas dukungan AS kepada negara-negara Teluk dalam kemungkinan perang melawan Iran.

Pertemuan kelima dan terakhir patroli laut Iran-UEA dilangsungkan pada 2013 lalu. Beberapa pekan sebelum ini, tak seorang bisa membayangkan pertemuan semacam ini di Teheran, lantaran meningkatnya tensi yang dipicu AS di Teluk Persia dan tercantumnya nama UEA serta Saudi dalam daftar “Tim B.”

Tim B adalah istilah yang dipopulerkan Javad Zarif (menlu Iran). Maksudnya adalah John Bolton, Benyamin Netanyahu, Muhammad bin Salman, dan Muhammad bin Zayed.

Baca: Trump Sebut Iran Tak Pernah Kalah dalam Perundingan

Namun, pertemuan di Teheran menunjukkan bahwa akhirnya Iran merespon upaya UEA, setelah berkali-kali mengabaikannya.

Sebelum ini, Abu Dhabi telah melewati garis merah, dengan tindakan agresi ke Yaman dan memprovokasi perang atas Iran, sampai akhirnya Iran menunjukkan amarah usai menembak jatuh nirawak AS yang lepas landas dari wilayah UEA.

Usai bergabungnya UEA dalam agresi langsung atas Iran, sekjen Hizbullah mendorong Saudi dan UEA untuk mundur dari rencana penghancuran kawasan dan ketaatan terhadap Trump, yaitu dengan menyebut Abu Dhabi dan Riyadh sebagai “kota-kota kaca.”

Mundurnya pasukan UEA dari sejumlah kawasan di Yaman menunjukkan bahwa Abu Dhabi tidak meyakini dukungan Washington dalam menghadapi Teheran. Abu Dhabi juga berupaya mengirim pesan-pesan rahasia ke Teheran melalui sejumlah pihak.

Dengan tiadanya keyakinan akan dukungan AS terhadap Dewan Kerjasama Teluk (GCC), wakil Saudi di PBB untuk kali pertama menyatakan kesiapan Riyadh memulai hubungan diplomatik dengan Iran. Hal ini ditunjukkan pula dengan pembebasan sebuah kapal Iran setelah ditahan Saudi selama 2,5 bulan.

Di lain pihak, upaya AS untuk membentuk koalisi pengamanan jalur pelayaran di Teluk Persia menemui jalan buntu. Seruan Pompeo kepada Jepang, Korsel, Prancis, dan Jerman untuk melindungi kapal-kapal mereka di Teluk tidak mendapat respon signifikan. Sampai-sampai menlu AS menyatakan, pembentukan koalisi semacam ini butuh waktu lebih lama. Apalagi menlu Jerman juga menyatakan, Berlin memilih jalur diplomatik untuk mengurangi tensi di kawasan. (af/alalam/irna)

Baca Juga:

Analis AS: Pertikaian Washington dan Sekutunya Terkait Iran Kian Meruncing

Saudi Nyatakan Kesiapannya untuk Kerjasama Arab dengan Iran

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*