LiputanIslam.com – Sekelompok ulama telah berkumpul di Jakarta dalam sebuah forum bernama Ijtima’ Ulama II. Tujuan utama mereka berkumpul adalah untuk menyampaikan sikap dan arah dukungan terhadap kontestasi pilpres 2019. Pada forum Ijtima’ I sebelumnya, para ulama tersebut menyatakan dukungan kepada Prabowo Subianto sebagai capres, serta mengajukan dua orang ulama sebagai cawapres, yaitu Salim Segaf Al-Jufri dan Ustad Abdul Somad. Tapi, ternyata, dinamika politik berkembang sedemikian rupa sehingga Prabowo memilih Sandiaga Uno sebagai cawapres. Artinya, rekomendasi ulama pada pertemuan pertama tersebut tidak sepenuhnya dilaksanakan oleh kubu Prabowo. Untuk itulah Ijtima’ Ulama Jilid II itu kemudian digelar.

Pertemuan Jilid II tersebut menghasilkan kesepakatan untuk tetap mendukung Prabowo sebagai capres, dengan Sandiaga Uno sebagai cawapresnya. Dukungan tersebut diberikan setelah Prabowo bersedia menandatangani Pakta Integritas yang terdiri dari 17 butir. Di antara butir terpenting dan menunjukkan aspirasi para ulama pada forum itu adalah soal menjaga moralitas dan mentalitas masyarakat dari rongrongan gaya hidup serta paham-paham ‘merusak’ (butir ke-2). Disebut penting karena pada butir ini, ada frasa ‘paham yang merusak’ , dan frasa ini bisa ditafsirkan kepada kelompok manapun yang berbeda dengan pemahaman kelompok mereka, dan ini akan menciptakan resistensi dari kelompok Islam yang lain.

Kemudian, butir penting lainnya terkait dengan adanya jaminaan keamanan dan perlindungan hukum kepada Imam Besar FPI Habib Riziek Shihab (butir ke-16) yang saat ini sedang berada di Arab Saudi. Butir ini menunjukkan dimensi politik praktis dari Pakta Integritas tersebut. Biasanya, sebuah pakta integritas hanyalah memuat hal-hal yang normatif, tanpa menyebutkan secara jelas subjek yang disasar.

Ulama, dalam ajaran Islam, adalah sosok yang memiliki posisi sangat mulia. Di dalam surah Az-Zumar ayat 9, Allah mengajukan pertanyaan retoris: “Adakah sama orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu? Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” Kemudian, di dalam surah Al-Mujadilah ayat 11, Allah berfirman: “Allah meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan juga orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan, beberapa derajat.” Sementara itu, dalam sebuah hadis, Baginda Nabi SAW menyatakan bahwa para ulama adalah ahli waris para nabi.

Begitu mulia posisi dan peran ulama dalam agama Islam. Hanya saja, yang sering dilupakan orang adalah soal tanggung jawab yang diemban oleh para ulama di balik semua kemuliaan yang disematkan kepada mereka. Seiring dengan tingginya ilmu yang dimiliki, semakin besar pula pertanggungjawaban agama yang diemban oleh seorang ulama di hadapan Allah SWT. Gagal melaksanakan tanggung jawab, kemurkaan Allah siap menantinya.

Untuk itulah maka, kita harus mengingat bahwa para pendeta Bani Israil dikecam oleh Allah sedemikian rupa, justru karena keilmuan mereka di bidang agama. Mereka adalah orang-orang yang memiliki kemampuan untuk mengakses isi dan ajaran Al-Kitab, akan tetapi mereka malah menyalahgunakan keistimewaan tersebut, untuk kepentingan duniawiah mereka. Untuk itu, Allah dengan murka-Nya, menyebut mereka tak lebih seperti keledai (Al-Jumuah: 5), bahkan seperti anjing (Al-A’raf: 175).

Masalah beratnya pertanggungjawaban para ulama itu bisa juga dilihat dari riwayat terkait mikraj Nabi SAW. Dalam perjalanan ke Sidratul Muntaha itu diriwayatkan bahwa Nabi melihat sekelompok orang yang mengguntingi lidah dan bibir mereka. Setiap guntingan disertai dengan jerit kesakitan. Akan tetapi, setiap kali lidah dan bibir mereka digunting, lidah dan bibir tersebut kembali seperti sedia kala. Mereka melakukan hal tersebut terus menerus tanpa berhenti. Jibril yang menemani perjalanan Nabi berkata bahwa itu adalah para pengkhutbah dari ummat Nabi. Mereka fasih bicara agama. Akan tetapi, isi khutbahnya menimbulkan fitnah dan keburukan bagi ummat.

Jadi, tidak setiap khutbah pasti akan diapresisasi dengan baik oleh Allah; tidak setiap kefasihan mengutip ayat dan hadis akan dianggap sebagai amal kebajikan; dan tidak semua aktivitas di dalam masjid pasti akan dianggap sebagai kebaikan. Jika khutbah, ayat, hadis, dan masjid itu disalahgunakan untuk kepentingan keburukan, siksaan yang mengerikan itulah akibatnya. Jika statemen dan rekomendasi dibuat dalam rangka memuluskan kepentingan duniawiah mereka, murka Allah-lah yang akan mereka terima.

Sebagai ahli waris para nabi, ulama, siapapun dia –termasuk mereka yang menyatakan diri sebagai ulama dalam Ijtima’ Ulama II–, memang memiliki keistimewaan. Akan tetapi, di balik semua keistimewaan itu, ada tanggung jawab besar. Keliru atau gagal mempertanggungjawabkan keulamaannya, kehinaan dunia dan akhirat siap menanti. (os/editorial/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*