putinSikap berani Presiden Rusia, Vladimir Putin, yang menantang Uni Eropa dan Amerika membuat banyak orang terkesima. Dalam sebuah konferensi pers, Putin dengan lantang mengingatkan Barat bahwa segala tindakan dan ancaman Barat pasti akan direspons dengan balasan serupa.

Sikap Putin ini sekilas seperti orang nekad. Bentrokan militer dengan Barat sekilas bukan opsi rasional. Sekuat apapun militer Rusia, jelas sangat sulit untuk sendirian menandingi NATO plus Amerika. Karena itu, sikap Putin ini harus dipandang dari sisi lain, yaitu dari sisi psikologi militer. Sebagaimana diketahui, perang itu memiliki sangat banyak faktor selain hitung-hitungan perlengkapan militer atau jumlah tentara.

Kartu inilah yang sedang dimainkan Putin. Ia sebelumnya pernah menyatakan bahwa jika Rusia terlibat perang dengan Barat, salah satu konsekwensi yang akan dihadapi Barat (Eropa) adalah terhentinya suplai gas dari Rusia. Kemudian, kepada Amerika, Putin mengancam akan menghapus Dolar sebagai alat transaksi. Bisa dibayangkan, betapa akan terpuruknya ekonomi Barat dan Amerika jika hal ini betul-betul terjadi.

Bagaimana dengan perekonomian Rusia? Tidakkah juga akan ikut terpuruk? Perang pasti akan mengguncang perekonomian kedua belah pihak. Hanya saja, guncangan ekonomi yang akan dialami Rusia tidak akan sedahsyat apa yang akan dialami Barat. Kenapa? Karena bangunan ekonomi Rusia tidak “semenjulang” dan “serapuh” Barat.

Seperti yang pernah disampaikan salah seorang petinggi militer Iran, bangunan milik Barat dan negara-negara sekutunya pada dasarnya seperti istana kaca, yang dengan mudah hancur lebur. Petinggi militer tersebut membuat perumpamaan, seandainya terjadi perang antara Iran dan negara-negara Teluk, Iran pastilah akan menang. Mengapa? Bagi Iran, cukuplah mengirim pesawat tempur yang melintas di atas pusat perdagangan salah satu kota di Arab, katakanlah misalnya Dubai. Tidak perlu melakukan serangan, tapi cukuplah melintas. Bisa dipastikan bahwa ekonomi negara tersebut akan kolaps karena para investor akan lari. Stabilitas keamanan sebagai fondasi utama perekonomian betul-betul terguncang. Karena perekonomian kapitalis itu membentuk mata rantai, maka yang akan terjadi adalah efek domino chaos. Satu per satu, kota-kota industri akan mengalami keterguncangan serupa.

Dari sisi ini, kita melihat bahwa Putin sama sekali bukan orang yang nekad. Dia bahkan melakukannya dengan perhitungan yang amat rasional. Kelebihan Putin ada pada keberaniannya melawan tekanan dan arogansi Barat.

Lalu bagaimana dengan kita? Sayang sekali, dengan Singapura dan Malaysia saja kita takut. Alasannya: kalau Singapura dan Malaysia menghentikan ekspor BBM ke Indonesia, lima hari kita bisa meninggal (kata Wakil Menteri ESDM Susilo Siswoutomo).

Benarkah kita selemah itu? Bukankah kita punya kekuatan pasar 240 juta rakyat? Kalau ekspor-impor dihentikan, Singapura dan Malaysia juga akan rugi besar, resiko yang tak akan berani mereka tanggung. Bilapun Singapura dan Malaysia stop BBM, apa kita tidak bisa membeli dari Iran, misalnya? Iran berani memberi harga 50% lebih murah kepada Indonesia dengan syarat tak lewat Singapura. Kita punya Selat Malaka, urat nadinya Singapura. Kalau ditutup, atau bahkan sekedar ‘tidak aman’ (sehingga kapal-kapal dari berbagai negara enggan lewat) Singapura bisa mati.

Kita sesungguhnya punya sangat banyak bargaining position (daya tawar). Yang tidak kita punya cuma satu: nyali. Agaknya, perlu juga pemimpin kita belajar dari Putin, atau pemerintah Iran.(Editorial/LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*