akhiratKisruh yang terjadi antara dua lembaga penegak hukum, yaitu KPK dan Polri, sangat tajam. Berhari-hari lamanya masyarakat Indonesia disuguhi oleh drama yang berbeda adegan silih berganti. Masalah pelantikan Komjen Budi Gunawan dan penetapannya sebagai tersangka kasus korupsi, hingga penangkapan Bambang Widjojanto dan rencana penetapan seluruh pimpinan KPK sebagai tersangka kasus pidana yang berbeda-beda. Seluruhnya menyuguhkan drama yang secara kasat mata menunjukkan perseteruan keras antara Polri dan Polri. Semua pihak ngotot menyalahkan pihak lain. Semuanya berkeras bahwa pihak lawanlah yang salah. Mereka menggunakan argumen masing-masing, dengan membawa pengacara atau memainkan opini publik.

Kita ingin sejenak menarik masalah ini keluar dari konteks politik, hukum, dan sosial. Kita ingin mencoba meletakkan kasus ini sebagai persoalan pribadi masing-masing individu yang terlibat dengan Tuhan mereka. Bagaimanapun juga, mereka adalah hamba Allah, dan harus mempertanggungjawabkan segala macam perbuatan mereka di hadapan-Nya kelak.

Dalam pandangan Islam, kejahatan dan dosa yang dilakukan oleh manusia akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah di akhirat. Penjahat juga akan dihukum di akhirat, dengan hukuman yang jauh lebih dahsyat. Adapun hukuman di dunia, jika diterapkan secara adil sesuai dengan norma-norma agama, maka itu akan menghapus hukuman di akhirat. Jika hukuman tersebut tidak sesuai atau kurang dari yang seharusnya, sisanya pasti akan dijalani di akhirat. Sedangkan jika dia betul-betul lolos dari hukuman, bersiap-siaplah untuk mendapatkan siksaan yang jauh lebih dahsyat di akhirat kelak.

Ini adalah persoalan serius dan nyata. Kita semua adalah orang yang beragama dan percaya kepada hari akhirat. Kita percaya bahwa saat ini, ada malaikat pencatat amal yang secara detail mencatat apapun amal perbuatan kita. Catatan-catatan amal itulah yang kelak akan kita pertanggungjawabkan di akhirat. Kita percaya bahwa siapapun dari kita akan dihadirkan di Sidang Pengadilan Ilahi. Kita akan menjadi terdakwa tanpa pembela. Saksi-saksinya adalah para malaikat, buku catatan amal, benda-benda mati yang pernah berinteraksi dengan kita, serta seluruh anggota tubuh kita. Adapun Allah Jalla Jalaaluh akan bertindak sebagai jaksa sekaligus hakim.

Inilah yang dimaksud oleh sejumlah ayat Alquran yang menyatakan bahwa manusia mudah terjebak ke dalam ketertipuan. Kita seringkali lupa akan adanya hari akhirat, dan merasa aman terhadap potensi siksaan akhirat. Banyak dari kita yang tetap merasa nyaman untuk melakukan berbagai macam dosa, lalu mencoba berkelit dari jerat hukum di dunia.

Jikapun ada sedikit kesadaran tentang hubungan antara dosa dengan kehidupan akhrat, seringnya kita juga tertipu oleh konsep-konsep syaithani. Para koruptor mengira bahwa dosa mereka itu akan dengan mudah dihapuskan dengan cara bertobat. Padahal, Allah tak mungkin menerima tobat seorang yang sejak awal secara sengaja mengentengkan dosa karena dia merasa bisa bertobat. Padahal, korupsi adalah dosa yang terkait dengan pelanggaran atas haqqun-nas (hak manusia). Pelakunya tak mungkin diampuni sepanjang dia belum mengembalikan apa yang telah diambilnya itu. Lagipula, siapa yang menjamin bahwa dia masih punya umur untuk bertobat? Siapa tahu sejam setelah dia melakukan korupsi itu dia lantas mati? (editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL