yamanBagi sebagian orang, bara yang terus menyengat kawasan Timur Tengah seolah menjadi takdir. Tapi, sebenarnya, dari sisi ekonomi, politik, dan budaya, Timur Tengah memang punya potensi untuk terus membara. Di sana ada rezim Zionis Israel, “anak haram” yang dicangkokkan oleh pemenang Perang Dunia II, hanya demi pemenuhan syahwat segelintir penguasa dan pengusaha Barat. Lalu, Timur Tengah adalah pusat kelahiran dan bertumbuhnya agama Islam yang diyakini sebagai saingan potensial peradaban Barat. Lalu, Timur Tengah juga adalah surga yang dilimpahi emas hitam yang menghasilkan pundi-pundi petrodolar, bagi siapapun yang mampu menguasainya.

Ketiga faktor ini saja sudah menciptakan beragam potensi konflik kepentingan. Belum ditambah dengan keberagaman aliran pemikiran dan juga watak gurun yang cenderung passionate nan keras. Karenanya, ummat manusia dalam beberapa dekade terakhir ini terus-menerus menyaksikan konflik berkepanjangan yang berlangsung di kawasan ini.

Memasuki milenium ketiga (yang baru 15 tahun berlalu), Dunia menyaksikan invasi atas Afghanistan dan Irak. Lalu, ada Arab Spring yang sangat menyedot perhatian dunia. Kerusuhan dan pemberontakan seperti gelombang angin yang menyapu satu persatu negara-negara Arab. Di saat Arab Spring masih menyisakan luka (di beberapa kawasan seperti Bahrain, kekisruhan masih terus berlangsung), muncul kelompok teroris ISIS yang disemai oleh krisis Suriah (dan Irak). Dan kini, di saat isu ISIS masih membara, kita bersama-sama menyaksikan munculnya krisis lain di kawasan selatan Jazirah Arab: Yaman.

Perhatian publik di Tanah Air mau tidak mau juga ikut tersedot ke krisis baru ini. Bagaimanapun juga, Indonesia adalah negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Sedangkan krisis Yaman ini melibatkan secara langsung negara-negara Muslim. Apalagi yang menjadi “panglima perang” melawan kelompok Houthi adalah Arab Saudi, negara pemegang kekuasaan atas Mekah dan Madinah.

Seperti yang sudah-sudah, informasi mengenai konflik di Yaman ini datang ke publik Tanah Air lewat narasi media-media Barat. Ringkasan narasi versi Barat mengenai krisis Yaman adalah sebagai berikut. Ada pemberontakan berlatar belakang sektarian melawan pemerintahan sah Yaman. Pemberontak adalah kelompok Syiah Zaidiah, sedangkan yang dilawan adalah pemerintahan Sunni. Pemerintah yang digulingkan lalu meminta perlindungan dan bantuan kepada negara-negara Arab Sunni. Karena pemberontakan tersebut ilegal, ditambah dengan faktor pemberontak adalah kelompok Syiah yang diduga berafiliasi dengan Iran, Irak, dan Suriah, lalu muncullah solidaritas dari negara-negara Arab Sunni. Barat tentu saja mendukung pemerintahan yang digulingkan, atas dasar penegakan hukum internasional.

Atas dasar narasi seperti itu, maka jangan heran jika publik di Tanah Air cenderung mendukung koalisi militer yang dipimpin Arab Saudi dalam mengganyang kelompok pemberontak Houthi. Media-media Tanah Air dengan serta-merta menyebut orang-orang Houthi sebagai pemberontak. Setiap gerak kemajuan koalisi pimpinan Arab Saudi diletakkan dalam konteks yang positif. Sebaliknya, apapun yang terkait dengan kelompok Houthi pastilah negatif.

Situasi seperti ini tentu sangat disayangkan. Media-media kita masih saja menelan mentah-mentah narasi versi Barat itu. Padahal, selama ini, narasi Barat tentang konflik apapun di Timur Tengah selalu sarat dengan kepentingan, bahkan kebohongan. Invasi Amerika Serikat ke Afghanistan (2002) dan Irak (2003) bisa meraih dukungan berkat bualan Pentagon tentang keberadaan senjata kimia yang terlanjur dipercaya oleh publik Dunia. Dengan bualan serupa tentang kekejaman Assad, Amerika berhasil menggalang kekuatan besar untuk memerangi pemerintahan Suriah.

Kini, untuk krisis Yaman, masihkan kita mempercayai narasi versi Barat itu? (editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*