simulasi bentrok di TPS, oleh Polres Probolinggo  (foto:kraksaan-online.com)

simulasi bentrok di TPS, oleh Polres Probolinggo (foto:kraksaan-online.com)

Perilaku politik para politisi setelah diketahuinya perolehan suara versi hitung cepat pemilu legislatif (pileg) 9 April sangat menyedot perhatian masyarakat Indonesia. Berbagai stasiun televisi berlomba-lomba mewawancarai para petinggi partai politik terkait apa yang akan mereka lakukan setelah diketahuinya perolehan suara masing-masing partai.

Berbagai pertanyaan mengerucut pada probabilitas koalisi partai tersebut dalam menghadapi pemilihan presiden. Semua yang ditanya memberikan jawaban yang menggantung: semua koalisi mungkin saja terjadi, dan sekarang masing-masing partai sedang menggodok model koalisi yang akan dibuat. Faktor-faktor koalisi seperti magnet ketokohan dan elektabilitas seseorang, kesamaan ideologi, kesejarahan, hingga faktor rasionalitas politik (kata lain dari “kepepet”), semuanya bisa dibuka. Atas nama kepentingan koalisi, semua sekat bisa saja terbuka. Perbedaan ideologi partai atau masalah kesejarahan yang pernah tidak harmonis bisa dibuang jauh-jauh.

Rakyat mungkin akan dibuat bingung. Partai-partai yang selama masa kampanye beberapa hari lalu saling sindir dan saling kecam, kini malah saling menebar senyum dan memuji. Berbagai kekurangan dan dosa politik yang melekat pada partai atau tokoh partai dilihat dengan cara yang berbeda. Saat kampanye, semuanya dibuka dan diumbar seakan dosa yang tak terampuni. Kini, semua dosa tersebut seakan lenyap ditelan waktu.

Fenomena ini sebenarnya hanya perulangan sejarah. Kita masih ingat, pada pemilu 2004 lalu, ada lima pasang capres/cawapres yang maju dalam pemilu. Saat kampanye, masing-masing partai pendukung pasangan tersebut umumnya melakukan negative campaign bahkan black campaign terhadap calon lainnya. Tapi, ketika pilpres dilanjutkan ke putaran kedua (karena tidak ada pasangan yang meraih suara di atas 50%), partai yang kandidatnya gugur lalu berkoalisi dengan salah satu dari dua pasang kandidat yang lolos ke putaran kedua itu. Karena berkoalisi, otomatis partai-partai itu memuji-muji pasangan yang mereka dukung. Nada suara berubah drastis. Kecaman jadi pujian.

Ini adalah fakta sejarah, dan kini sedang berulang. Sayangnya, sebagian di antara kita tidak juga menyadari hal ini. Mereka saling serang di panggung kampanye. Kita yang berada di bawah terbawa-bawa ikut-ikutan terfragmentasi dan saling menghujat, bahkan tega memfitnah. Hujatan bahkan tidak hanya ditujukan kepada partai atau aktor politik, melainkan juga kepada para pendukung pihak lawan. Silaturahim antarteman pun bahkan terputus hanya gara-gara beda jagoan. Terjadilah konflik horizontal yang absurd.

Lalu, kini, para aktor politik itu saling melempar senyum. Bahkan, sangat mungkin saling lempar senyum itu sudah berlangsung di balik layar, saat mereka di atas panggung sedang saling serang. Mereka yang bersandiwara dalam bertengkar, tapi kita yang menghabiskan energi untuk bertengkar dengan sesama orang bawah. Ironis kan? (Editorial/LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*