LiputanIslam.com—Ketika bangsa Indonesia memperingati hari-hari nasional, yang muncul biasanya adalah seremoni dan slogan-slogan, termasuk di saat kita memperingati hari Pahlawan tanggal 10 November tahun ini. Seremoni selalu ada dalam rangka mengenang jasa para pahlawan. Tapi, sayangnya, seremoni itu terasa sangat dangkal. Sejarah hanya dimaknai sebagai sesuatu yang pernah terjadi, dan kita bangga atasnya.

Slogan-slogan juga berhamburan. Misalnya, dikatakan bahwa bangsa yang baik adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Atau, dikatakan bahwa para pahlawan telah berkorban demi kemerdekaan bangsa ini, dan kita saat ini punya tugas untuk mengisi kemerdekaan. Dengan demikian, pahlawan dan kepahlawanan dianggap sebagai sesuatu yang pernah ada di dalam lembaran sejarah bangsa kita, dan kita saat ini tak lagi membutuhkan mereka.

Ini adalah pertanyaan yang sangat serius untuk dicarikan jawaban tegasnya: apakah kita tak lagi membutuhkan para pahlawan dengan segala nilai perjuangan yang mereka? Apakah tempat mereka hanya ada di museum dan lembaran-lembaran buku sejarah semata?

Kita dengan serius mempertanyakan masalah ini, karena saat kita berbicara tentang para pemimpin bangsa, yang muncul dalam benak kita adalah para politisi pragmatis, oportunis, dan pemburu rente dari kue-kue pembangunan. Mereka adalah orang-orang yang sibuk memperjuangkan kepentingan pribadi, partai, dan kelompoknya.

Sulit sekali membayangkan bahwa para politisi kita itu adalah mereka yang betul-betul hanya memikirkan bangsa dan masyarakat luas; mereka yang siap untuk berpayah-payah 24 jam dalam sehari demi kemaslahatan ummat. Sulit sekali membayangkan bahwa mereka siap mengorbankan apapun yang ada pada diri, termasuk harta dan jiwa mereka.

Perhatikanlah perilaku elit-elit politik kita yang saling berlomba atau berkoalisi; saling mencerca atau memuji; tapi tujuan puncaknya adalah jabatan dan posisi bagi diri atau golongan. Pengorbanan memang bisa saja muncul. Tapi, hal itu hanya dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh kedudukan duniawiah lainnya.

Di sisi lain, kita tentu tetap yakin bahwa nilai-nilai kepahlawanan masih tetap ada dan dihargai oleh bangsa ini. Kita percaya bahwa di tengah-tengah bangsa kita, sebenarnya masih banyak para pahlawan. Hanya saja, justru karena mereka pahlawan, mereka umumnya terselip dan tersembunyi. Jasa dan pemikiran mereka hilang di tengah-tengah hiruk-pikuk perebutan kekuasaan politik yang menjijikkan. Perjuangan mereka saat mengabdi kepada masyarakat dan bangsa berlangsung dengan cara yang senyap dan tak terlihat. Akibatnya, keberadaan mereka tak bisa termanfaatkan secara optimal.

Selama format dan sistem politik kita masih seperti ini, para pahlawan kita akan tetap tersembunyi dan tidak akan bisa mendarmabaktikan dirinya dengan cara yang optimal buat bangsa ini. Dan rasanya, sangat sulit buat bangsa ini untuk meraih cita-cita kemerdekaan.

Selamat memperingati Hari Pahlawan. Semoga bangsa ini semakin serius menunjukkan kebutuhannya kepada para pahlawan sejati. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*