411Kasus dugaan penistaan agama yang dituduhkan kepada Gubernur non-aktif Jakarta, Ahok, mau tak mau telah menyita banyak sekali perhatian kita semua. Aksi demonstrasi besar-besaran yang melibatkan banyak sekali elemen kaum Muslimin tanggal 4 November lalu memang sangat besar. Sebagian mensinyalir sebagai demo damai terbesar sepanjang sejarah Indonesia.

Terlepas dari benar atau tidaknya isu dan pemicu demonstrasi, peristiwa ini menunjukkan betapa masih sangat besarnya kekuatan Islam di negeri ini. Ghirrah ummat Islam masih cukup tinggi. Kecintaan ummat Islam terhadap agama dan Al-Quran masih cukup tinggi, sehingga segala hal yang “dianggap sebagai pelecehan” dengan serta merta mendapatkan respons yang cukup keras.

Kita tentu masih ingat bagaimana ummat Islam di zaman Orde Baru begitu marah manakala Rasulullah SAW dijadikan sebagai objek polling dengan kriteria yang tak jelas. Akibat ketidakjelasan kriteria itu, Rasulullah berada di tempat keempat sebagai tokoh idola. Inilah yang kemudian memicu kemarahan kaum Muslimin Indonesia.

Di kawasan lain, kasusnya lebih dahsyat. Novelis Inggris keturunan India Salman Rushdi sampai dijatuhi hukuman mati secara in absentia oleh pemerintah Iran, gara-gara dia menista Rasulullah lewat novelnya yang sangat terkenal, The Satanic Verses (Ayat-Ayat Setan).

Atau pada kasus beberapa tahun lalu, Majalah Charlie Hebdo menjadi sasaran demo besar-besaran ummat Islam di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Yang dilakukan majalah satire ini memang keterlaluan. Rasulullah SAW digambarkan lewat kartun-kartun sebagai sosok bejat (na’udzu billah min dzalik).

Kasus lainnya adalah Film “Fitna” tahun 2008 karya politikus Belanda Geert Wilders. Atau, kaum Muslimin pastilah masih ingat provokasi Pastor Terry Jones asal Florida asal AS. Ia mengajak seluruh warga AS membakar Alquran dalam peringatan tragedi 9/11.

Kasus- kasus itu menuai protes keras dalam skala besar dari kaum Muslimin di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Cukup banyak yang meyakini bahwa sikap-sikap keras tersebut merupakan ekspresi perlawanan kaum Muslimin terhadap apa yang dipersepsi sebagai akumulasi kezaliman yang menimpa mereka.

Dalam sejarah modern, kaum Muslimin secara umum memang menjadi kelompok yang termarjinalkan. Hampir semua kawasan Islam di dunia menjadi koloni kaum imperialis. Saat inipun, mayoritas kaum Muslimin tinggal di negara yang dikategorikan sebagai negara berkembang.  Ini adalah situasi yang ironis manakala kita menyadari fakta bahwa sumber daya alam terbesar di dunia justru terdapat di kawasan-kawasan di mana kaum Muslim berdomisili.

Kesan adanya kezaliman yang ditimpakan kepada kaum Muslimin itu menjadi makin kuat ketika kita menyaksikan nasib yang dialami oleh kaum Muslimin Palestina. Lihat pula ketercabikan yang menimpa Afghanistan, Irak, Suriah, Yaman, dan lain sebagainya. Tidakkah ini semua mengindikasikan ketertindasan kaum Muslimin?

Jika dilihat dari sudut pandang ini, aksi demonstrasi tanggal 4 November lalu adalah hal yang harus sepenuhnya kita dukung. Perlawanan atas segala macam penindasan harus digelorakan. Penistaan terhadap agama yang mulia ini harus diprotes sekeras-kerasnya.

Masih sangat tingginya ghirrah kaum Muslimin untuk membela agamanya inilah yang menjadi salah satu sisi positif dari aksi demo 4 November lalu. Kini, kita harus menunggu  proses hukum yang adil dan transparan dari para penegak hukum negara kita. Kita tentu mengharapkan ghirrah tersebut bisa berjalan beriringan dengan sifat taat hukum dan cinta kesatuan dari kaum Muslimin Indonesia. (OT/editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL